Khazanah
Hilmi An Naufal

Jumat Pertama Syawal, Perbanyak Istigfar: Benarkah Bisa Menghapus Dosa Besar? Ini Penjelasannya

Jumat Pertama Syawal, Perbanyak Istigfar: Benarkah Bisa Menghapus Dosa Besar? Ini Penjelasannya

11 Agustus 2026 | 07:08

KHAZANAH – Ramadan telah berlalu, tetapi kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah tentu tidak berhenti ketika bulan suci berakhir.

Memasuki Syawal, umat Islam justru diingatkan untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama Ramadan.

Salah satu amalan yang sangat ringan tetapi memiliki makna besar adalah istigfar atau istighfar, yakni memohon ampun kepada Allah atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan.

Ketika Jumat pertama di bulan Syawal tiba, momentum tersebut dapat digunakan untuk memperbanyak istigfar, doa, shalawat, membaca Al-Qur'an dan berbagai amal saleh lainnya.

Hari Jumat sendiri mempunyai kedudukan khusus dalam Islam dan dianjurkan diisi dengan peningkatan ibadah. MUI antara lain menyebut amalan Jumat seperti shalat Jumat, memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur'an, berdoa dan melakukan amal kebaikan.

Namun ada satu hal yang perlu diluruskan.

Sering muncul klaim bahwa:

“Istigfar pada Jumat pertama Syawal dapat otomatis menghapus semua dosa, bahkan dosa besar.”

Kalimat tersebut perlu diberi penjelasan agar tidak membuat orang salah memahami konsep ampunan dan taubat.

Tidak Ada Alasan Menunggu Jumat untuk Memohon Ampun

Istigfar bukan amalan yang hanya dilakukan pada waktu tertentu.

Nabi Muhammad SAW sendiri memperbanyak istigfar setiap hari.

Dalam hadis yang dikutip NU Online dari Shahih Bukhari, Rasulullah SAW menyatakan bahwa beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari.

Ini memberikan pesan penting.

Jika Rasulullah saja memperbanyak istigfar setiap hari, maka seorang Muslim tidak perlu menunggu:

Jumat pertama Syawal,

malam tertentu,

tanggal tertentu,

atau sedang mengalami masalah,

untuk mulai memohon ampun.

Istigfar dapat dilakukan setiap hari.

Lalu Apa Istimewanya Jumat?

Hari Jumat sendiri memang merupakan hari yang istimewa.

NU Online menjelaskan Jumat memiliki berbagai keutamaan dan menjadi momentum untuk memperbanyak doa, zikir, shalawat, sedekah serta berbagai amal saleh lainnya.

MUI juga memasukkan sejumlah amalan seperti mandi Jumat, memperbanyak shalawat dan berbagai ibadah lainnya sebagai cara memanfaatkan kemuliaan hari Jumat.

Karena itu, memperbanyak istigfar pada Jumat tentu merupakan perbuatan baik.

Jika Jumat tersebut kebetulan merupakan Jumat pertama setelah Ramadan, maknanya bisa menjadi lebih reflektif.

Setelah sebulan berlatih menahan hawa nafsu, seseorang dapat menggunakan Jumat pertama Syawal untuk bertanya kepada dirinya:

Apakah perubahan selama Ramadan masih bertahan?

Syawal Seharusnya Bukan Akhir dari Ibadah

Salah satu tantangan terbesar setelah Ramadan adalah mempertahankan kebiasaan baik.

Selama Ramadan seseorang mungkin terbiasa:

shalat berjamaah,

membaca Al-Qur'an,

bersedekah,

menjaga perkataan,

melaksanakan shalat malam,

dan memperbanyak doa.

Namun ketika Idulfitri selesai, semangat tersebut perlahan menurun.

NU Online mengingatkan Syawal justru seharusnya menjadi bulan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas ibadah setelah Ramadan, bukan kembali sepenuhnya kepada kebiasaan lama.

Karena itu, Jumat pertama Syawal dapat dijadikan salah satu titik evaluasi.

Bukan karena ada ritual wajib khusus pada hari tersebut.

Tetapi karena secara waktu, seseorang baru saja meninggalkan Ramadan dan mulai memasuki kehidupan normal kembali.

Istigfar Bukan Sekadar Mengucapkan “Astaghfirullah”

Kesalahan berikutnya adalah memahami istigfar hanya sebagai gerakan lisan.

Mengucapkan:

Astaghfirullah

tentu merupakan zikir yang baik.

Namun ketika seseorang sedang memohon ampun atas dosa tertentu, terutama dosa besar, persoalannya tidak berhenti pada jumlah bacaan.

MUI dengan mengutip Imam an-Nawawi menjelaskan taubat terhadap dosa kepada Allah mempunyai tiga syarat utama:

berhenti melakukan dosa, menyesali perbuatan tersebut, dan berkomitmen tidak mengulanginya.

Jika seseorang mengatakan “Astaghfirullah” berkali-kali tetapi sejak awal sudah berniat melakukan maksiat yang sama kembali, maka makna taubat yang sungguh-sungguh belum terwujud.

Bagaimana Kalau Dosanya Termasuk Dosa Besar?

Di sinilah perlu kehati-hatian.

Jangan membuat orang yang pernah melakukan dosa besar merasa tidak mempunyai harapan.

Pintu taubat tetap terbuka.

NU Online, ketika membahas taubat dari salah satu dosa besar, mengutip penjelasan Imam an-Nawawi bahwa dosa-dosa besar dapat gugur melalui taubat yang sungguh-sungguh.

Jadi pesan Islam bukan:

“Kalau sudah dosa besar, tidak mungkin diampuni.”

Tetapi juga bukan:

“Cukup baca satu formula istigfar pada Jumat pertama Syawal, semua dosa besar otomatis selesai.”

Yang ditekankan adalah taubat.

Taubat Nasuha Menuntut Perubahan

Taubat nasuha bukan hanya ucapan.

MUI menjelaskan seseorang yang bertaubat atas dosa kepada Allah perlu:

1. menghentikan dosa tersebut,

2. benar-benar menyesalinya,

3. bertekad tidak mengulanginya.

Jika kesalahannya berhubungan dengan hak manusia, terdapat tanggung jawab tambahan.

Misalnya seseorang:

mengambil harta orang lain,

menipu,

memfitnah,

atau merugikan orang.

Maka taubat juga berkaitan dengan menyelesaikan hak orang yang telah dizalimi, misalnya mengembalikan harta atau meminta penyelesaian dan maaf sesuai persoalannya.

Karena itu, taubat mempunyai konsekuensi nyata dalam kehidupan.

Jangan Jadikan Istigfar Sebagai “Tombol Hapus Dosa”

Bayangkan seseorang melakukan penipuan.

Ia mendapatkan keuntungan dari uang orang lain.

Kemudian pada Jumat pertama Syawal ia membaca istigfar ratusan kali.

Setelah selesai, uang hasil penipuan tetap disimpan dan ia bahkan berencana mengulangi perbuatannya.

Sulit menyebut keadaan tersebut sebagai taubat nasuha.

Begitu pula seseorang yang menyakiti orang lain, tidak merasa bersalah, dan tidak berniat berubah.

Istigfar sangat baik.

Tetapi konsep Islam tentang taubat tidak menjadikan kalimat istigfar sebagai “tombol otomatis” yang membebaskan seseorang dari tanggung jawab moral.

MUI menekankan bahwa ketika dosa menyentuh hak manusia, memperbaiki atau menyelesaikan hak tersebut menjadi bagian penting dari proses taubat.

Hadis Jumat Justru Memberi Peringatan soal Dosa Besar

Ada hadis penting yang membantu memahami persoalan ini.

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa shalat lima waktu, Jumat menuju Jumat berikutnya, dan Ramadan menuju Ramadan berikutnya menjadi penghapus kesalahan di antara waktu-waktu tersebut apabila dosa-dosa besar dijauhi.

Kalimat tersebut penting karena menunjukkan bahwa tidak semua bentuk penghapusan dosa melalui amalan rutin dapat begitu saja dipahami mencakup dosa besar tanpa pembahasan taubat.

Dosa besar membutuhkan kesungguhan kembali kepada Allah.

Karena itu, ketika ada narasi:

“Baca istigfar ini pada Jumat pertama Syawal, dosa besar langsung terhapus,”

masyarakat sebaiknya tidak langsung menyebarkannya tanpa mengetahui dasar hadis dan penjelasan ulama.

Apakah Dosa Besar Masih Bisa Diampuni?

Bisa melalui taubat yang sungguh-sungguh.

Ini justru menjadi pesan yang harus ditegaskan.

NU Online menjelaskan seseorang yang terlanjur melakukan dosa besar tidak diperintahkan berputus asa dari rahmat Allah.

Ia harus meninggalkan dosanya dan kembali kepada Allah melalui taubat.

Dalam pembahasan lain, NU Online menegaskan taubat perlu segera dilakukan setelah melakukan maksiat, baik dosa kecil maupun dosa besar.

Artinya, jangan berpikir:

“Dosa saya terlalu besar, percuma istigfar.”

Tetapi jangan pula berpikir:

“Saya bebas mengulangi dosa karena nanti tinggal istigfar.”

Keduanya sama-sama pemahaman yang keliru.

Jumat Pertama Syawal Bisa Dijadikan Momentum Taubat

Meski tidak perlu membuat ritual khusus tanpa dasar yang jelas, tidak ada salahnya menjadikan Jumat pertama Syawal sebagai momentum untuk memulai perubahan.

Misalnya setelah shalat Subuh atau menjelang berangkat shalat Jumat, luangkan beberapa menit untuk muhasabah.

Ingat kembali Ramadan yang baru berlalu.

Kemudian tanyakan:

Dosa apa yang masih saya ulangi?

Ibadah apa yang mulai saya tinggalkan?

Siapa yang pernah saya sakiti?

Apakah ada harta atau hak orang lain yang belum saya kembalikan?

Apa kebiasaan Ramadan yang ingin saya pertahankan?

Setelah itu, perbanyak istigfar dengan kesadaran terhadap apa yang sedang dimohonkan kepada Allah.

Dengan cara tersebut, istigfar tidak hanya menjadi ucapan bibir.

Jangan Terobsesi dengan Jumlah Bacaan

Kadang muncul anjuran membaca istigfar:

33 kali,

70 kali,

100 kali,

1.000 kali,

atau jumlah tertentu.

Memiliki target zikir dapat membantu seseorang menjaga konsistensi.

Tetapi jangan sampai seseorang hanya mengejar angka dan kehilangan makna.

Hadis sahih memang menunjukkan Nabi SAW sendiri memperbanyak istigfar setiap hari dan dalam salah satu riwayat disebut lebih dari 70 kali.

Pesan utamanya adalah banyak memohon ampun dan kembali kepada Allah.

Bukan perlombaan siapa yang paling cepat menyelesaikan hitungan.

Bisa Dilanjutkan dengan Shalawat

Selain istigfar, hari Jumat juga sangat baik digunakan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

MUI memasukkan memperbanyak shalawat sebagai salah satu amalan utama pada hari Jumat.

Maka seseorang dapat mengisi Jumat Syawal dengan rangkaian sederhana:

istigfar, shalawat, membaca Al-Qur'an, berdoa, sedekah dan shalat Jumat dengan sungguh-sungguh.

Tidak harus semuanya dalam jumlah besar.

Konsistensi jauh lebih penting daripada semangat satu hari kemudian berhenti.

Jangan Lupakan Doa pada Hari Jumat

Hari Jumat juga menjadi momentum memperbanyak doa.

NU Online menjelaskan salah satu keutamaan Jumat adalah terdapat waktu yang sangat utama untuk berdoa kepada Allah.

Karena itu, setelah memperbanyak istigfar, seorang Muslim dapat melanjutkannya dengan berdoa.

Tidak hanya meminta rezeki dan urusan dunia.

Cobalah meminta:

keteguhan dalam ibadah,

kekuatan meninggalkan maksiat,

kemampuan menjaga hasil Ramadan,

ampunan atas dosa,

dan

kesempatan bertemu Ramadan berikutnya dalam keadaan lebih baik.

Doa semacam itu sangat relevan ketika baru memasuki Syawal.

Puasa Enam Hari Syawal Punya Dalil yang Jelas

Jika mencari amalan khusus yang memang mempunyai dasar kuat pada bulan Syawal, salah satunya adalah puasa enam hari Syawal.

Dalam hadis riwayat Muslim, orang yang menyelesaikan puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal mendapatkan keutamaan seperti berpuasa sepanjang tahun.

NU Online pada 2026 menjelaskan puasa tersebut dapat dilakukan setelah Idulfitri dan tidak harus selalu enam hari berturut-turut agar memperoleh pokok kesunahannya.

Ini menjadi contoh penting dalam membedakan dua hal:

amalan Syawal yang mempunyai dalil khusus

dan

amalan umum yang baik dilakukan kapan saja.

Puasa enam hari mempunyai dalil khusus Syawal.

Sedangkan istigfar dianjurkan secara umum setiap hari, termasuk Jumat.

Jumat Pertama Tidak Perlu Dibuat Seolah Hari Raya Baru

Ada kecenderungan di media sosial memberikan keutamaan sangat spesifik kepada:

Jumat pertama suatu bulan,

malam pertama bulan tertentu,

atau kombinasi tanggal tertentu.

Tidak semuanya salah.

Tetapi setiap klaim keutamaan khusus memerlukan dasar.

Dalam rujukan MUI dan NU mengenai amalan Jumat dan Syawal yang saya periksa, keutamaan yang disebutkan berhubungan dengan Jumat secara umum serta amalan Syawal seperti puasa enam hari; saya tidak menemukan penetapan keutamaan khusus bahwa “Jumat pertama Syawal” mempunyai formula istigfar tertentu yang secara otomatis menghapus dosa besar.

Karena itu, Jumat pertama Syawal tetap boleh dianggap sebagai momentum pribadi untuk memperbaiki diri, tanpa harus mengubahnya menjadi ketentuan agama baru.

Istigfar Setelah Ramadan Justru Sangat Relevan

Meski tidak ada alasan membatasi istigfar hanya pada Jumat pertama Syawal, memperbanyaknya setelah Ramadan mempunyai pesan spiritual yang sangat baik.

NU Online menekankan bahwa setelah Ramadan seorang Muslim seharusnya tidak merasa dirinya sudah pasti bersih dari seluruh dosa lalu berhenti memohon ampun.

Justru setelah Ramadan, seseorang perlu tetap memperbanyak taubat dan istigfar serta mempertahankan ibadahnya.

Ramadan bukan wisuda dari ibadah.

Ramadan adalah latihan.

Syawal adalah salah satu ujian pertamanya.

Tanda Ramadan Berbekas Terlihat Setelah Ramadan

Selama bulan puasa, suasana memang membantu seseorang beribadah.

Masjid ramai.

Kajian mudah ditemukan.

Orang-orang berpuasa.

Aktivitas keagamaan meningkat.

Tantangan sebenarnya muncul setelah Idulfitri.

Ketika rutinitas normal kembali, apakah seseorang masih:

membaca Al-Qur'an,

menjaga shalat,

menghindari maksiat,

bersedekah,

dan mengingat Allah?

NU Online mengutip nasihat bahwa salah satu tanda kebaikan adalah sebuah ketaatan dilanjutkan dengan ketaatan berikutnya.

Karena itu, Syawal dapat menjadi ukuran awal keberlanjutan perubahan selama Ramadan.

Jangan Merasa Terlalu Berdosa untuk Kembali

Ada orang yang justru menjauh dari Allah karena merasa sudah melakukan terlalu banyak kesalahan.

Ia berpikir:

“Percuma saya berdoa.”

“Dosa saya terlalu banyak.”

“Allah pasti tidak akan mengampuni saya.”

Sikap berputus asa semacam ini tidak seharusnya dibiarkan.

NU Online menegaskan pintu rahmat dan taubat tetap terbuka bagi mereka yang pernah terjerumus dalam dosa besar dan ingin sungguh-sungguh memperbaiki diri.

Karena itu, istigfar dapat menjadi awal.

Tetapi setelah mengucapkannya, lanjutkan dengan perubahan nyata.

Kalau Pernah Mengambil Hak Orang, Jangan Berhenti pada Istigfar

Ini sangat penting.

Misalnya seseorang pernah mengambil uang yang bukan miliknya.

Ia kemudian menyesal dan membaca istigfar.

Taubat tersebut harus mendorongnya untuk menyelesaikan hak yang telah dilanggar.

MUI menjelaskan jika kesalahan berkaitan dengan manusia, selain berhenti, menyesal dan tidak mengulanginya, orang yang bertaubat juga perlu membebaskan diri dari hak manusia yang dizalimi, termasuk mengembalikan harta apabila persoalannya menyangkut harta.

Demikian pula jika menyangkut persoalan lain terhadap sesama, penyelesaiannya harus disesuaikan dengan hak yang telah dilanggar.

Inilah perbedaan antara sekadar membaca istigfar dan benar-benar bertaubat.

Amalan Ringan Jumat Pertama Syawal

Jika ingin mengisi Jumat pertama Syawal tanpa terjebak pada klaim keutamaan yang belum jelas, ada beberapa amalan yang sederhana dan mempunyai dasar umum yang kuat:

Perbanyak istigfar dan taubat.

Perbanyak shalawat kepada Nabi SAW.

Membaca Al-Qur'an.

Berdoa.

Bersedekah.

Menunaikan shalat Jumat dengan sungguh-sungguh bagi yang wajib.

Memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Melanjutkan puasa enam hari Syawal jika mampu.

Tidak perlu membuatnya rumit.

Yang dibutuhkan adalah kesungguhan.

Yang Terpenting Bukan Jumat Pertamanya, tetapi Perubahan Setelahnya

Jumat pertama Syawal akan berlalu.

Begitu juga Jumat kedua.

Kemudian bulan Syawal selesai.

Pertanyaan terpenting bukan:

“Berapa kali istigfar yang sudah dibaca pada Jumat pertama?”

Tetapi:

“Apakah setelah membaca istigfar hidup kita berubah?”

Jika sebelumnya mudah berbohong, apakah sekarang mulai berhenti?

Jika sebelumnya meninggalkan shalat, apakah mulai memperbaikinya?

Jika mempunyai utang, apakah mulai bersungguh-sungguh menyelesaikannya?

Jika pernah merugikan orang, apakah mulai mengembalikan haknya?

Jika meninggalkan Al-Qur'an, apakah mulai membacanya kembali?

Di situlah nilai taubat menjadi nyata.

Kesimpulannya: Perbanyak Istigfar, tetapi Jangan Salah Memahami Ampunan

Jumat pertama bulan Syawal merupakan momentum yang sangat baik untuk melanjutkan semangat Ramadan.

Beristigfar tentu sangat dianjurkan.

Nabi Muhammad SAW sendiri memperbanyak permohonan ampun setiap hari.

Namun tidak tepat membuat klaim bahwa sekadar membaca istigfar tertentu pada Jumat pertama Syawal secara otomatis menghapus semua dosa besar tanpa menjelaskan tentang taubat.

Dosa besar bukan alasan untuk putus asa.

Taubat sungguh-sungguh tetap dapat menjadi jalan memperoleh ampunan Allah.

Karena itu, manfaatkan Jumat pertama Syawal bukan hanya untuk menggerakkan lisan membaca:

Astaghfirullah.

Gunakan juga momentum tersebut untuk membuat keputusan:

berhenti dari dosa, menyesalinya, memperbaiki kesalahan, menyelesaikan hak orang lain, dan bertekad menjalani hidup dengan lebih baik.

Jika Ramadan adalah bulan latihan, maka Syawal menjadi salah satu kesempatan pertama untuk membuktikan bahwa perubahan tersebut benar-benar bertahan.

Tags:
Khazanah Islam

Komentar Pengguna