Khazanah
Rahman Abdullah

Kemenag Ungkap 6 Nilai Al-Qur’an untuk Mengendalikan AI di Era Digital, Yuk Disimak!

Kemenag Ungkap 6 Nilai Al-Qur’an untuk Mengendalikan AI di Era Digital, Yuk Disimak!

26 Agustus 2026 | 14:17

Keboncinta.com-- Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang semakin cepat dan mulai digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, dakwah hingga pelayanan publik. Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan pertanyaan penting, yaitu bagaimana memastikan AI digunakan secara bertanggung jawab dan tetap menghormati nilai kemanusiaan?

Kementerian Agama menilai perkembangan AI perlu diarahkan dengan nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an. Teknologi seharusnya tidak hanya mengejar kecanggihan, tetapi juga mampu memberikan manfaat, menjaga martabat manusia, serta mencegah munculnya berbagai bentuk kerusakan.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, dalam Seminar Nasional Al-Qur’an bertajuk “Al-Qur’an dan AI: Mengendalikan Teknologi dengan Nilai, Membangun Peradaban Digital Beretika” di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar.

Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembukaan MTQ VIII Korpri Tingkat Nasional 2026. Dalam kesempatan itu, Muchlis membawakan materi mengenai pemanfaatan AI untuk dakwah, pendidikan, dan pelayanan publik yang berlandaskan nilai Qur’ani.

Baca Juga: Nasib Guru Honorer Usia 35 Tahun Lebih di CPNS 2027 Mulai Terungkap, Cek Faktanya

AI Merupakan Produk Kecerdasan Manusia

Menurut Muchlis, Islam tidak memiliki sikap penolakan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, wahyu pertama dalam Al-Qur’an diawali dengan perintah membaca melalui QS Al-‘Alaq ayat 1.

Namun, perintah membaca tersebut tidak berdiri sendiri. Kata iqra’ disertai dengan frasa bismi rabbik, yang menunjukkan bahwa pencarian dan pengembangan pengetahuan perlu berjalan bersama kesadaran terhadap Tuhan dan tanggung jawab moral.

Dalam konteks perkembangan AI, manusia tidak cukup hanya bertanya mengenai seberapa canggih teknologi tersebut. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang mengarahkannya, nilai apa yang menjadi pengendalinya, serta untuk tujuan apa teknologi itu digunakan.

AI dapat memproses teks, suara, gambar, data, bahkan pola perilaku manusia dalam jumlah yang sangat besar. Akan tetapi, kemampuan mengolah informasi tidak secara otomatis membuat AI memiliki kesadaran moral.

Mengacu pada QS An-Nahl ayat 78, Muchlis menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggambarkan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai perangkat manusia dalam memperoleh pengetahuan. AI memang dapat meniru sebagian fungsi pendengaran dan penglihatan serta melakukan analisis informasi, tetapi tidak memiliki fu’ad dalam pengertian Qur’ani yang berkaitan dengan kesadaran batin, iman, nurani, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, tanggung jawab moral tetap berada pada manusia yang merancang, mengembangkan, menggunakan, maupun menyebarkan hasil dari teknologi AI.

Baca Juga: Beasiswa Swiss 2027–2028 Dibuka, Cek Jalur PhD dan Research Fellowship Sebelum Terlambat

Enam Nilai Al-Qur’an untuk Mengarahkan Penggunaan AI

Agar perkembangan AI tetap memberikan manfaat bagi manusia, terdapat enam nilai Qur’ani yang dinilai penting untuk dijadikan pedoman.

1. Tabayyun atau Memeriksa Kebenaran Informasi

Nilai pertama adalah tabayyun, yaitu melakukan pemeriksaan dan verifikasi terhadap informasi. Prinsip ini antara lain ditegaskan dalam QS Al-Hujurat ayat 6.

Prinsip tersebut semakin relevan di tengah perkembangan AI karena teknologi dapat menghasilkan jawaban atau konten yang terlihat sangat meyakinkan, tetapi belum tentu sepenuhnya benar.

Karena itu, informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa sumber, konteks, serta kebenarannya sebelum digunakan atau disebarluaskan. Hal ini menjadi semakin penting ketika AI digunakan untuk membuat materi keagamaan maupun informasi yang berkaitan dengan pelayanan publik.

2. Menjunjung Prinsip Keadilan

Nilai kedua adalah keadilan sebagaimana ditekankan dalam QS Al-Ma’idah ayat 8.

Sistem AI bekerja menggunakan data, sementara data yang digunakan dalam proses pengembangan teknologi dapat mengandung ketimpangan maupun bias tertentu.

Tanpa pengawasan yang tepat, bias tersebut berpotensi terbawa ke dalam hasil yang diberikan AI dan bahkan memperbesar perlakuan diskriminatif terhadap kelompok tertentu.

Karena itu, prinsip keadilan perlu menjadi pertimbangan ketika AI dirancang maupun digunakan.

3. Menjaga Amanah dan Akuntabilitas

Nilai berikutnya adalah amanah dan akuntabilitas yang antara lain ditegaskan dalam QS An-Nisa’ ayat 58.

Penggunaan AI dalam pelayanan publik membuat aspek keamanan data menjadi sangat penting. Data masyarakat, informasi jabatan, dokumen internal, maupun informasi yang bersifat rahasia tidak boleh dimasukkan ke dalam platform AI publik secara sembarangan.

Setiap pengguna teknologi harus memahami bahwa data yang dikelola merupakan amanah yang memiliki konsekuensi hukum dan moral.

Baca Juga: Sebenarnya apa Saja Tugas Guru? Ini 7 Peran Penting Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2005

4. Mengutamakan Kemaslahatan

Teknologi seharusnya digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Prinsip kemaslahatan dan kerahmatan tersebut dapat dikaitkan dengan QS Al-Anbiya’ ayat 107.

Dalam penerapannya, AI dapat diarahkan untuk membantu pekerjaan, meningkatkan akses terhadap pengetahuan, memperluas pelayanan, mendukung pendidikan, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Dengan kata lain, kecanggihan teknologi seharusnya diukur bukan hanya dari kemampuan teknisnya, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada manusia.

5. Melindungi Privasi dan Martabat Manusia

Perkembangan AI juga membawa tantangan terhadap privasi dan kehormatan seseorang.

Tags:
Khazanah Islam kecerdasan artifisial AI Al-qur'an

Komentar Pengguna