Khazanah
Tegar Bagus Pribadi

Ketika Sunnah Dipersulit oleh Gengsi: Menakar Ulang Esensi Pernikahan Islami yang Mulai Terjebak Standar Kemewahan Media Sosial

Ketika Sunnah Dipersulit oleh Gengsi: Menakar Ulang Esensi Pernikahan Islami yang Mulai Terjebak Standar Kemewahan Media Sosial

30 Juni 2026 | 16:14

keboncinta.com--  Di tengah hingar-bingar tren gaya hidup digital, sakralitas pernikahan yang seharusnya menjadi gerbang ibadah terpanjang kini sering kali terdistorsi oleh tuntutan gengsi yang tidak masuk akal. Kita menyaksikan fenomena di mana sunnah Rasulullah SAW yang sejatinya menekankan kemudahan, kesederhanaan, dan keberkahan, justru dipersulit dengan standar kemewahan yang diatur oleh algoritma media sosial. Banyak pasangan muda yang terjebak dalam obsesi untuk menciptakan pernikahan yang "estetis" dan "megah" demi mendapatkan validasi di ruang maya, tanpa menyadari bahwa mereka sedang menggadaikan keberkahan rumah tangga sejak di langkah awal. Secara teologis, pernikahan dalam Islam adalah ikatan yang kokoh (mitsaqan ghalizha) yang menuntut kesiapan mental dan spiritual, bukan sekadar pameran kemewahan yang sarat akan riya dan tabzir. Ketika standar pernikahan ditentukan oleh jumlah pengikut atau konten yang viral, esensi ibadah perlahan terkikis, digantikan oleh beban finansial yang mencekik sebelum biduk rumah tangga bahkan sempat berlayar.

Secara analisis sosiopsikologis, kegilaan terhadap pernikahan mewah ini adalah produk dari "kompetisi status" yang dipicu oleh paparan konten pernikahan selebriti atau influencer yang seolah menjadi standar baku kesuksesan. Otak kita terkondisi untuk melihat kemegahan sebagai simbol kebahagiaan, sehingga pasangan yang tidak mampu mencapai standar tersebut merasa tidak percaya diri. Padahal, dalam khazanah Islam, pernikahan yang paling diberkahi adalah pernikahan yang paling mudah maharnya dan paling sederhana resepsinya. Standar kemewahan yang berlebihan justru menutup pintu keberkahan, membebani keluarga, dan memancing bibit perpecahan akibat tekanan utang atau konflik ego di masa awal pernikahan. Memperulit pernikahan dengan syarat-syarat yang tidak perlu dan biaya yang selangit sebenarnya adalah tindakan menentang semangat syariat yang mempermudah jalan bagi setiap hamba untuk menjaga kehormatan diri melalui ikatan yang sah.

Meruntuhkan standar gengsi ini menuntut keberanian untuk melakukan revolusi niat. Kita harus berani mendefinisikan ulang kemewahan bukan dari mahalnya dekorasi atau megahnya gedung, melainkan dari kedalaman komitmen dan kualitas doa yang menyertai setiap prosesi. Menjadi pasangan yang berdaulat secara spiritual berarti memiliki keberanian untuk menolak tekanan sosial, memilih kesederhanaan sebagai bentuk ketundukan kepada syariat, dan memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan adalah wujud syukur, bukan alat untuk mencari tepuk tangan manusia. Dengan fokus pada esensi ibadah, kita sedang membangun fondasi rumah tangga yang tangguh, merdeka dari beban ekspektasi publik yang menyesatkan, serta mengundang rida Allah untuk turun ke dalam kehidupan rumah tangga yang baru kita mulai.

Sebagai contoh konkret dari kegagalan orientasi ini, kita bisa melihat profil pasangan yang memaksakan diri mengadakan pesta pernikahan super mewah hingga harus berutang ratusan juta rupiah; meskipun resepsinya viral di media sosial, kebahagiaan mereka justru hancur di bulan pertama pernikahan karena tertekan oleh beban cicilan yang menumpuk dan konflik terus-menerus akibat stres finansial yang akut. Sebaliknya, contoh nyata yang jauh lebih agung dan meneladani kesederhanaan Rasulullah adalah pasangan yang memilih untuk melaksanakan akad di masjid dengan khidmat, resepsi yang sederhana di rumah dengan keluarga inti, dan mengalokasikan sisa dana untuk modal usaha atau hunian masa depan; pernikahan mereka mungkin tidak viral, tetapi keberkahan, ketenangan, dan cinta yang tumbuh di dalamnya jauh lebih stabil dan tahan lama. Contoh praktis terakhir untuk memutus rantai gengsi ini adalah dengan menerapkan teknik "Uji Keberkahan Pernikahan" (the wedding blessing check); setiap kali lo merasa ingin menambahkan detail dekorasi atau fasilitas mahal demi "tampilan" di media sosial, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah tambahan ini mendekatkan pernikahan saya kepada rida Allah, atau hanya mendekatkan saya pada keangkuhan ego di depan manusia?". Intervensi cara berpikir yang objektif, peka, dan berbasis kejernihan nilai spiritual ini akan secara instan meruntuhkan tembok gengsi yang menghalangi keberkahan pernikahan lo, menyelamatkan finansial keluarga dari kehancuran, serta memastikan lo tumbuh menjadi pasangan yang merdeka, bugar secara mental, dan membangun rumah tangga di atas fondasi cinta yang autentik serta rida Allah SWT yang hakiki.

Tags:
Khazanah Islam Sunnah Rasul Fiqih Pernikahan

Komentar Pengguna