Keboncinta.com-- Di era media sosial seperti sekarang, banyak orang memilih membagikan cerita, keluh kesah, bahkan momen pribadinya kepada publik. Hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel, apa yang dirasakan dapat diketahui oleh banyak orang dalam hitungan detik. Namun, jauh sebelum media sosial berkembang, ada satu tempat yang dianggap paling aman untuk menyimpan cerita, yaitu buku diary.
Bagi generasi milenial, buku diary bukan sekadar buku catatan biasa. Diary menjadi tempat mencurahkan perasaan, menyimpan kenangan, hingga menuliskan berbagai rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain. Bahkan, banyak orang memilih buku diary yang dilengkapi gembok agar isinya tidak mudah dibaca oleh siapa pun. Rasanya, buku itulah sahabat yang selalu siap mendengarkan tanpa menghakimi.
Tidak sedikit pula yang terinspirasi memiliki buku diary karena pengaruh sinetron atau film yang populer pada masanya. Melihat tokoh favorit menuliskan kisah hidupnya membuat banyak anak dan remaja ikut mencoba kebiasaan tersebut. Saat itu, mengikuti kebiasaan orang lain dianggap hal yang biasa. Berbeda dengan sekarang, ketika banyak orang terdorong mengikuti tren karena takut merasa tertinggal atau tidak ingin ketinggalan informasi, yang dikenal dengan istilah fear of missing out (FOMO).
Seiring berkembangnya zaman, cara seseorang bercerita pun ikut berubah. Kini, sebagian orang lebih memilih mencurahkan isi hati melalui media sosial, sementara sebagian lainnya tetap merasa nyaman menyimpan cerita untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang salah dengan kedua pilihan tersebut, selama kita memahami batasan tentang apa yang layak dibagikan kepada publik dan apa yang sebaiknya tetap menjadi privasi.
Menulis di buku diary memiliki kelebihan tersendiri. Kita dapat mengekspresikan perasaan dengan bebas tanpa takut dihakimi atau menjadi bahan pembicaraan orang lain. Semua cerita tetap tersimpan dengan aman dan hanya diketahui oleh diri sendiri. Namun, ada pula kekurangannya. Ketika menghadapi masalah yang berat, kita tidak memperoleh masukan atau sudut pandang dari orang lain yang mungkin dapat membantu menemukan solusi.
Sebaliknya, bercerita kepada orang lain memang bisa menghadirkan dukungan dan saran. Namun, kita juga perlu berhati-hati dalam memilih tempat dan orang yang tepat untuk berbagi cerita. Tidak semua hal harus dipublikasikan, terlebih jika menyangkut privasi diri maupun orang lain.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menenangkan hati. Ada yang merasa lega setelah menulis di buku diary, ada pula yang memilih berbicara dengan orang yang dipercaya. Yang terpenting adalah memahami bahwa tidak semua rahasia harus diketahui banyak orang. Terkadang, menyimpannya dalam sebuah buku justru membuat hati lebih tenang dan pikiran menjadi lebih jernih.