Berita
Hilmi An Naufal

Mahasiswa UGM Ciptakan Ostosense, Sabuk Pintar Berbasis AI yang Bisa Deteksi Risiko Kebocoran Kantong Stoma

Mahasiswa UGM Ciptakan Ostosense, Sabuk Pintar Berbasis AI yang Bisa Deteksi Risiko Kebocoran Kantong Stoma

02 Oktober 2026 | 19:21

YOGYAKARTA — Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi teknologi kesehatan bernama Ostosense, sebuah sabuk medis pintar yang dirancang untuk membantu mendeteksi risiko kebocoran pada kantong stoma.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta atau PKM-KC.

Stoma merupakan lubang buatan pada bagian perut yang digunakan sebagai jalur pembuangan sisa pencernaan, termasuk feses, pada pasien dengan kondisi medis tertentu.

Pasien yang menggunakan kantong stoma dapat menghadapi berbagai persoalan dalam aktivitas sehari-hari.

Salah satunya adalah risiko kebocoran kantong.

Kebocoran bukan hanya dapat menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit di sekitar stoma.

Masalah tersebut juga dapat mengganggu mobilitas dan aktivitas sosial pasien.

Bahkan pada sebagian pasien, kekhawatiran akan terjadinya kebocoran dapat menimbulkan ketidaknyamanan ketika beraktivitas di luar rumah.

Melihat persoalan tersebut, tim mahasiswa UGM mengembangkan sistem yang tidak hanya mendeteksi kebocoran setelah terjadi.

Ostosense dirancang agar dapat mengenali pola yang menunjukkan kemungkinan terjadinya kebocoran lebih awal.

Teknologi tersebut menggunakan dua jalur deteksi yang saling melengkapi.

Sistem pertama menggunakan sensor kapasitif yang dikombinasikan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Pemrosesan AI dilakukan langsung pada perangkat melalui teknologi edge AI.

Sistem tersebut digunakan untuk mengenali perubahan pola yang mengindikasikan adanya risiko kebocoran.

Dengan demikian, pengguna diharapkan dapat mengambil tindakan pencegahan sebelum kebocoran berkembang semakin besar.

Selain sistem berbasis AI, Ostosense juga mempunyai sistem kedua sebagai pengaman.

Sistem tersebut menggunakan sensor resistif berbasis LIG.

Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi kebocoran yang benar-benar telah terjadi apabila sistem prediksi berbasis AI mengalami kendala.

Gabungan dua sistem tersebut menjadi salah satu keunggulan yang ingin dikembangkan oleh tim.

Ostosense dikembangkan oleh mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan.

Putri Eka Desintha dari Program Studi Ilmu Keperawatan menjadi ketua tim.

Ia bekerja bersama Hamzah Abdul Aziz dari Teknik Elektro.

Kemudian Markus Adytama Wisnumaya Nugraha Jati berasal dari D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol.

Dua anggota lainnya, Rasyadwa Arsya Irnantyanto dan Marcellinus Dinoglide Yoga Prakoso, berasal dari Teknologi Informasi.

Kolaborasi mahasiswa dari bidang kesehatan, elektro, instrumentasi dan teknologi informasi membuat pengembangan alat dapat dilakukan secara multidisiplin.

Tim dibimbing oleh dosen pendamping Ridwan Wicaksono.

Dalam proses pengembangan, mahasiswa tidak hanya bekerja di laboratorium.

Mereka juga melakukan diskusi langsung dengan tenaga kesehatan yang terbiasa menangani pasien stoma.

Salah satu kunjungan dilakukan ke Griya Puspa Wound Care di Sleman, Yogyakarta.

Masukan tenaga kesehatan digunakan untuk memastikan teknologi yang dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna dalam aktivitas sehari-hari.

Tim berharap Ostosense nantinya dapat dikembangkan menjadi perangkat yang terjangkau, mudah digunakan dan memberikan manfaat langsung bagi pasien.

Pengembangan lebih lanjut juga diperlukan agar teknologi dapat diuji secara lebih luas sebelum digunakan sebagai perangkat pendukung pasien.

Inovasi ini menjadi contoh bagaimana Program Kreativitas Mahasiswa dapat mempertemukan ilmu yang diperoleh mahasiswa di kampus dengan permasalahan nyata di bidang kesehatan.

Jika pengembangannya berlanjut, Ostosense diharapkan dapat membantu pasien stoma menjalani aktivitas dengan rasa aman dan kemandirian yang lebih baik.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna