Pendidikan
Hilmi An Naufal

Pendidikan Digital Aman untuk Anak Usia Emas, Pendampingan Jadi Kunci

Pendidikan Digital Aman untuk Anak Usia Emas, Pendampingan Jadi Kunci

03 Agustus 2026 | 05:37

Keboncinta — Kehadiran perangkat digital telah mengubah cara anak belajar, bermain, dan memperoleh informasi. Teknologi dapat membuka akses terhadap berbagai sumber pengetahuan, tetapi juga membawa risiko apabila digunakan tanpa pendampingan dan pengawasan yang memadai.

Perlindungan anak kini tidak hanya diperlukan dalam lingkungan rumah, sekolah, dan ruang publik. Anak juga membutuhkan rasa aman ketika menggunakan internet, menonton video, memainkan aplikasi, dan mengakses materi pembelajaran digital.

Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh, belajar, dan berkembang dalam lingkungan yang aman, termasuk di ruang digital.

Anak berisiko menemukan konten yang tidak sesuai usia

Internet menyediakan banyak informasi yang dapat membantu proses belajar. Namun, ruang digital yang terbuka juga memungkinkan anak menemukan konten kekerasan, bahasa tidak pantas, informasi keliru, iklan manipulatif, maupun tayangan yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.

Risiko tersebut dapat meningkat ketika anak menggunakan perangkat sendirian tanpa batas waktu, aturan, dan pendampingan orang dewasa.

Karena itu, pemberian perangkat kepada anak sebaiknya tidak berhenti pada menyediakan telepon pintar, tablet, komputer, atau layar interaktif. Orang tua dan guru juga perlu memilih aplikasi, materi, serta tayangan yang dapat diakses anak.

Literasi digital bagi orang tua dan pendidik menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan tersebut. Mereka perlu memahami cara mengaktifkan pengaturan keamanan, memeriksa riwayat penggunaan, mengenali konten berisiko, dan membangun komunikasi terbuka dengan anak.

Pendampingan lebih penting daripada sekadar melarang

Melarang anak menggunakan teknologi sepenuhnya bukan selalu menjadi solusi terbaik. Perangkat digital telah menjadi bagian dari pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan yang lebih tepat adalah mengenalkan cara menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.

Orang tua dapat menemani anak ketika menonton video atau menggunakan aplikasi. Setelah kegiatan selesai, anak dapat diajak membicarakan informasi yang baru diperoleh.

Beberapa pertanyaan sederhana yang dapat diberikan antara lain:

  • Apa yang kamu pelajari dari video tersebut?

  • Bagian mana yang paling kamu sukai?

  • Apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?

  • Menurutmu, informasi tersebut benar atau perlu diperiksa kembali?

  • Apa yang harus dilakukan ketika menemukan tayangan menakutkan?

Percakapan semacam ini membantu anak memahami bahwa mereka dapat meminta bantuan ketika menemukan sesuatu yang membingungkan atau tidak menyenangkan.

Anak juga perlu diberi pemahaman agar tidak membagikan nama lengkap, alamat rumah, sekolah, nomor telepon, kata sandi, dan foto pribadi kepada orang yang tidak dikenal.

Sekolah mulai memanfaatkan papan interaktif digital

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran semakin berkembang melalui program digitalisasi sekolah. Salah satu perangkat yang digunakan adalah Interactive Flat Panel atau Papan Interaktif Digital.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat bahwa pada 2025, perangkat digital berupa papan interaktif, laptop, dan media penyimpanan telah disalurkan kepada 288.865 satuan pendidikan. Pemerintah juga menyediakan dukungan akses internet kepada 8.152 sekolah dan layanan listrik untuk 2.389 satuan pendidikan.

Pada jenjang sekolah dasar, alokasi IFP hingga 17 Februari 2026 mencapai 149.268 satuan pendidikan dan pengirimannya disebut telah terealisasi seluruhnya.

Perangkat tersebut dapat membantu guru menampilkan gambar, video, simulasi, buku digital, serta aktivitas pembelajaran interaktif. Materi yang sebelumnya sulit dijelaskan hanya melalui tulisan dapat disajikan secara lebih visual.

Meski demikian, keberadaan perangkat saja belum cukup. Sekolah juga membutuhkan konten pembelajaran yang relevan, pelatihan guru, aturan penggunaan, perawatan perangkat, dan perlindungan akses bagi peserta didik.

Konten harus sesuai usia dan kebutuhan belajar

Materi untuk anak usia dini tidak dapat disamakan dengan materi untuk siswa sekolah menengah.

Konten bagi anak pada masa awal tumbuh kembang sebaiknya menggunakan bahasa sederhana, gambar yang jelas, durasi yang tidak terlalu panjang, serta tema yang dekat dengan kehidupan mereka.

Materi dapat berupa pengenalan huruf, angka, bentuk, warna, anggota tubuh, lingkungan, kebiasaan hidup bersih, dongeng, permainan edukatif, gerak dan lagu, serta kegiatan menggambar.

Anak tidak hanya membutuhkan tayangan menarik. Mereka juga memerlukan konten yang tidak mengandung iklan berlebihan, tautan menuju halaman asing, kekerasan, atau komunikasi dengan pengguna yang tidak dikenal.

Artikel Pendidikan.id memperkenalkan KipinIFP untuk PAUD dan SD sebagai salah satu pilihan sistem konten pembelajaran yang dapat dipasang pada perangkat IFP. Layanan tersebut menyediakan buku pelajaran, video pendidikan, komik literasi, dongeng, cerita boneka, dan materi belajar mengaji.

Penyebutan layanan tersebut merupakan salah satu contoh pemanfaatan konten digital di sekolah. Sekolah tetap perlu menilai kesesuaian materi, kebutuhan peserta didik, keamanan sistem, biaya, serta kebijakan perlindungan datanya sebelum menggunakan suatu platform.

Pembelajaran tanpa internet dapat mengurangi paparan terbuka

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan sekolah adalah menyediakan materi pembelajaran yang bisa diakses tanpa koneksi internet.

Konten yang telah tersimpan di perangkat memungkinkan guru menjalankan pembelajaran meskipun jaringan sedang lambat atau tidak tersedia. Cara ini juga bermanfaat bagi sekolah yang berada di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.

Materi luring dapat mengurangi kemungkinan anak berpindah ke situs, video, atau aplikasi lain selama pembelajaran. Namun, sistem tanpa internet tidak otomatis menghilangkan seluruh risiko digital.

Sekolah masih perlu memeriksa sumber materi, memperbarui konten, mengatur akses pengguna, mengamankan perangkat, dan memastikan tidak ada berkas yang berbahaya.

Penggunaan teknologi yang aman tetap membutuhkan kebijakan, pengawasan, dan kesiapan guru.

Guru perlu memahami penggunaan perangkat

Guru memiliki peran penting dalam menentukan apakah teknologi benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran.

Perangkat digital sebaiknya tidak hanya digunakan untuk menggantikan papan tulis atau menampilkan video dalam waktu lama. Guru perlu menggabungkannya dengan diskusi, praktik, permainan, kegiatan motorik, membaca, menggambar, dan interaksi sosial.

Pada jenjang PAUD dan SD, penggunaan layar sebaiknya menjadi bagian dari aktivitas belajar, bukan satu-satunya kegiatan.

Sebagai contoh, setelah menonton video mengenai hewan, anak dapat diminta menirukan gerakannya, menggambar bentuknya, atau menyebutkan tempat hidupnya. Setelah membaca dongeng digital, anak dapat menceritakan kembali pesan yang diperoleh.

Kombinasi antara aktivitas digital dan kegiatan langsung membantu anak tetap aktif, bukan hanya menjadi penonton pasif.

Pemerintah juga menekankan bahwa teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman, pemikiran kritis, dan pembelajaran yang bermakna, bukan menjadi tujuan akhir pendidikan.

Waktu penggunaan layar tetap perlu dibatasi

Konten pendidikan tidak berarti dapat digunakan tanpa batas waktu.

Anak tetap membutuhkan tidur cukup, aktivitas fisik, permainan langsung, membaca buku cetak, berinteraksi dengan keluarga, serta berkomunikasi dengan teman sebaya.

Orang tua dan sekolah dapat membuat jadwal penggunaan perangkat yang jelas. Anak perlu memahami kapan perangkat digunakan untuk belajar, kapan boleh digunakan untuk hiburan, dan kapan harus disimpan.

Penggunaan layar juga sebaiknya dihentikan menjelang waktu tidur.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna