Budaya
SUWANDI

Prinsip Tahan Banting Masyarakat Tionghoa untuk Menembus Batas Nasib

Prinsip Tahan Banting Masyarakat Tionghoa untuk Menembus Batas Nasib

20 Juli 2026 | 20:08

Keboncinta.com - Di balik megahnya arsitektur dan riuhnya aktivitas pengunjung di area Pantai Indah Kapuk (PIK) serta arena Jakarta Fair Kemayoran (PRJ), tersimpan sebuah filosofi mendalam tentang daya juang hidup. Prinsip tersebut terukir indah dalam sebuah inskripsi di Kelenteng Tian Fu Gong PIK: ιŸ§ζ€§ζˆ˜θƒœε‘½θΏ (Rènxìng zhànshèng mìngyùn), yang memiliki arti "Tahan Banting Menang di Nasib."

Pegiat Budaya Tionghoa asal Cirebon, Jeremy Huang Wijaya, mengungkapkan bahwa filosofi ini bukan sekadar rangkaian karakter Mandarin biasa, melainkan cerminan dari akar ketangguhan yang telah teruji oleh sejarah panjang migrasi masyarakat Tionghoa di Nusantara.

"Pepatah Rènxìng zhànshèng mìngyùn adalah kunci utama mengapa banyak perantau sanggup bertahan dan meraih keberhasilan. Kehidupan ini sangat keras, sehingga seseorang harus memiliki mental tahan banting agar bisa mengubah dan memenangkan nasibnya sendiri," ujar Jeremy Huang saat memberikan pandangannya, Senin (20/7/2026).

Menelusuri Jejak Sejarah dan Etos Kerja Perantau

Jeremy menceritakan, jika merujuk pada catatan sejarah, gelombang kedatangan masyarakat dari Tiongkok ke Nusantara telah dimulai sejak abad ke-4 hingga ke-5 Masehi, yang dipelopori oleh biksu dan penjelajah Fa Hsien (Faxian). Sejak saat itu, ribuan pedagang dan perantau melintasi Samudera Luas, menerjang badai serta gelombang demi menjemput impian perbaikan hidup.

Banyak di antara para leluhur tersebut mengawali karier dari titik terendah, seperti menjadi anak buah kapal (ABK) atau buruh kasar di negeri perantauan. Mereka tiba dengan bekal seadanya dan hanya mengandalkan tekad yang kuat.

"Mereka hidup sangat hemat dan disiplin tinggi. Istirahat mereka kerap hanya 2 sampai 3 jam sehari karena fokus utamanya adalah bekerja. Prinsip hidup mereka tegas: makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Mereka cukup makan secara sederhana untuk mengisi tenaga, tidak berfoya-foya," tutur Jeremy.

Hasil jerih payah dari upah buruh tersebut tidak dihabiskan untuk gaya hidup mewah. Sebaliknya, tabungan dialokasikan untuk membeli aset jangka panjang seperti tanah dan emas, atau dijadikan modal awal berdagang hingga akhirnya berkembang pesat.

Refleksi Tokoh Dunia hingga Tokoh Nasional

Filosofi tahan banting ini, menurut Jeremy, tidak hanya berlaku pada era perantau klasik, tetapi juga menjadi fondasi kesuksesan berbagai tokoh besar dunia dan nasional modern.

Ia mencontohkan pendiri Alibaba Group, Jack Ma, yang berjuang dari titik nol hingga menjadi miliarder Tiongkok pertama yang tampil di sampul majalah Forbes. Jack Ma secara konsisten menekankan pentingnya berpikir positif dan mental tidak mudah menyerah dalam mengarungi ketidakpastian.

Di tingkat regional dan nasional, etos yang sama tercermin pada deretan figur ternama seperti mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, pengusaha legendaris Liem Sioe Liong, pengembang kawasan PIK Sugianto Kusuma (Agwan), hingga maestro bulu tangkis Indonesia Rudy Hartono yang sukses menjuarai All England sebanyak delapan kali.

"Apakah itu di bidang bisnis, pemerintahan, maupun olahraga, benang merahnya sama. Mereka semua berhasil menduduki puncak prestasi karena memiliki ketahanan mental. Mereka berhasil menundukkan garis nasib lewat kerja keras tanpa kenal menyerah," pungkas Jeremy.

Melalui pesan moral ini, Jeremy Huang mengajak generasi muda untuk mengambil ikhtibar dari filosofi Rènxìng zhànshèng mìngyùn, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dan ketidakpastian zaman modern.(swd)

Tags:
Jeremy Huang Filosofi tionghoa Etos kerja perantauan

Komentar Pengguna