Keboncinta.com - Tingginya harga pupuk pabrikan dan penurunan kesuburan tanah akibat ketergantungan bahan kimia mendorong para praktisi pertanian untuk kembali memanfaatkan teknologi ramah lingkungan. Salah satu solusi hemat dan efektif yang dapat diterapkan oleh para petani adalah pemanfaatan serta aktivasi Effective Microorganisms atau EM4 secara mandiri.
Pakar dan praktisi pertanian, Pak Riksa, mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus justru akan menguras bahan organik alami di dalam tanah. Hal tersebut berdampak pada rusaknya keseimbangan mikroorganisme tanah yang menguntungkan. Oleh karena itu, pengembalian unsur hara melalui mikroba efektif menjadi kunci penting untuk merevitalisasi lahan pertanian yang kritis.
Untuk menghemat biaya produksi, petani tidak perlu terus-menerus membeli produk mikroba siap pakai dalam jumlah besar. Cairan EM4 dorman yang dibeli dapat diperbanyak atau diaktifkan sendiri dengan formula khusus. Caranya adalah mencampurkan satu liter EM4, satu liter molase atau tetes tebu, serta delapan belas liter air bersih seperti air kelapa atau air cucian beras ke dalam jerigen berkapasitas dua puluh liter.
Proses aktivasi ini dilakukan secara fermentasi tertutup atau anaerob selama lima hingga tujuh hari. Selama masa fermentasi, wadah jerigen harus dibuka sebentar setiap hari untuk mengeluarkan gas yang terbentuk. Setelah masa fermentasi selesai, mikroba berada dalam kondisi paling aktif dan siap digunakan untuk pembuatan pupuk organik cair maupun pembenah tanah.
Cairan EM aktif ini direkomendasikan untuk digunakan dalam kurun waktu satu bulan karena keterbatasan cadangan nutrisi di dalam larutan. Adapun dosis pengaplikasiannya sangat hemat, yaitu hanya satu hingga lima persen atau sekitar satu sampai lima mililiter per liter air untuk disemprotkan ke tanaman atau dikocorkan ke area perakaran.
Selain sebagai pembenah tanah dan pembuat pupuk cair, mikroba juga dapat dikembangkan menjadi formula perlindungan tanaman yang dikenal sebagai EM5. Formula ini dibuat dari campuran EM4, molase, cuka, alkohol tujuh puluh persen, dan air cucian beras yang difermentasi selama dua minggu untuk membantu menangkal penyakit dan patogen tanaman secara alami.
Inovasi pengolahan mikroba mandiri ini menjadi angin segar bagi dunia pertanian di tengah melonjaknya harga sarana produksi. Dengan memahami dan memanfaatkan hukum alam melalui teknologi organik, para petani diharapkan mampu mandiri secara ekonomi sekaligus menjaga kelestarian kelangsungan lahan pertanian secara berkelanjutan. (swd)