JAKARTA — Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang perlu mendapat perhatian khusus bagi siswa SMA dan SMK yang berencana mengikuti Tes Kemampuan Akademik atau TKA 2026.
Hasil evaluasi pelaksanaan TKA sebelumnya menunjukkan masih banyak peserta kesulitan menyelesaikan soal matematika, terutama soal yang mengharuskan siswa memahami permasalahan sehari-hari dan mengubahnya menjadi model matematika.
Berdasarkan data capaian nasional terhadap sekitar 3,46 juta peserta, rata-rata nilai matematika siswa SMA dan SMK tercatat masih berada di bawah 31 persen. Tiga materi yang paling banyak menimbulkan kesulitan adalah peluang kejadian majemuk, barisan dan deret geometri, serta transformasi geometri.
Soal dalam TKA dirancang untuk mengukur kemampuan memahami konsep, menerapkan pengetahuan, dan melakukan penalaran. Karena itu, menghafalkan rumus saja belum tentu cukup untuk memperoleh hasil maksimal.
Siswa perlu memahami informasi dalam soal, menentukan konsep yang tepat, dan menghubungkan beberapa tahapan perhitungan. Kerangka resmi TKA Matematika SMA juga mencakup kemampuan memahami, mengaplikasikan, dan bernalar dalam menyelesaikan berbagai permasalahan matematika.
Berikut tiga materi yang perlu menjadi fokus belajar siswa menjelang pelaksanaan TKA SMA dan SMK 2026.
Peluang kejadian majemuk menjadi salah satu materi yang dianggap sulit karena biasanya disajikan dalam bentuk permasalahan sehari-hari.
Siswa tidak hanya diminta menggunakan rumus peluang, tetapi juga harus menentukan jenis kejadian dalam soal. Mereka perlu membedakan kejadian yang saling bebas, saling bergantung, saling lepas, atau memiliki hubungan tertentu.
Kesalahan sering terjadi ketika siswa belum berhasil menerjemahkan cerita menjadi model matematika. Akibatnya, rumus yang digunakan tidak sesuai dengan informasi dalam soal.
Materi peluang kejadian majemuk juga mencakup peluang bersyarat, kejadian saling bebas, kejadian saling lepas, serta penggunaan aturan pencacahan.
Untuk menguasainya, siswa dapat berlatih dengan soal yang berhubungan dengan pengambilan kartu, pemilihan anggota kelompok, kemungkinan kemenangan dalam pertandingan, atau hasil pelemparan dadu dan koin.
Materi berikutnya adalah barisan dan deret geometri. Dalam materi ini, siswa harus mengenali pola perkalian atau pembagian yang terbentuk di antara suku-suku dalam suatu barisan.
Barisan geometri memiliki perbandingan atau rasio yang tetap antara dua suku yang berurutan. Hal ini berbeda dari barisan aritmetika yang menggunakan selisih tetap.
Kesulitan biasanya muncul ketika pola tersebut disisipkan dalam soal cerita. Siswa harus menentukan suku pertama, rasio, banyaknya suku, serta apakah soal meminta nilai suatu suku atau jumlah beberapa suku.
Contohnya dapat berupa pertumbuhan jumlah bakteri, kenaikan nilai investasi, penyusutan harga barang, hingga perubahan ukuran suatu benda secara berulang.
Agar tidak tertukar, siswa disarankan memahami perbedaan antara barisan dan deret. Barisan menunjukkan urutan bilangan, sedangkan deret merupakan hasil penjumlahan suku-suku dalam barisan tersebut.
Transformasi geometri juga menjadi tantangan karena melibatkan koordinat, gambar, dan sejumlah aturan perubahan posisi.
Materi ini mencakup translasi atau pergeseran, refleksi atau pencerminan, rotasi atau perputaran, serta dilatasi atau perubahan ukuran. Dalam soal yang lebih kompleks, beberapa transformasi dapat digabungkan secara berurutan.
Siswa mungkin diminta menentukan posisi akhir sebuah titik setelah digeser, dicerminkan, kemudian diputar. Kesalahan pada satu tahapan dapat menyebabkan jawaban akhir menjadi tidak tepat.
Cara yang dapat digunakan untuk mempermudah pengerjaan adalah menggambar bidang koordinat Kartesius. Setelah itu, tandai posisi awal objek dan lakukan setiap transformasi secara berurutan.
Visualisasi membantu siswa memahami perubahan posisi dibandingkan hanya mengandalkan hafalan rumus.
Kemendikdasmen telah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan TKA sebelumnya. Pada TKA 2026, matematika wajib untuk jenjang SMA dan SMK direncanakan terdiri atas 25 soal dengan waktu pengerjaan selama 75 menit.
Dengan ketentuan tersebut, peserta memiliki waktu rata-rata sekitar tiga menit untuk menyelesaikan setiap soal. Perubahan ini diharapkan memberikan waktu yang lebih memadai bagi siswa untuk membaca, memahami, dan menyelesaikan permasalahan matematika.
Meski demikian, siswa tetap perlu berlatih mengelola waktu. Soal yang dianggap mudah dapat diselesaikan terlebih dahulu, sedangkan soal yang membutuhkan perhitungan panjang dapat dikerjakan setelahnya.
Dalam mempersiapkan diri, siswa disarankan memperkuat pemahaman konsep dasar. Untuk soal peluang dan deret, latihan dapat dimulai dengan mengubah kalimat dalam soal menjadi simbol atau model matematika.
Sementara itu, untuk transformasi geometri, siswa dapat menggunakan gambar, diagram, atau sketsa koordinat.