PALU, KEBONCINTA.COM – Sebanyak 1.073 mahasiswa dan 155 dosen dari tujuh perguruan tinggi dilibatkan dalam program penanganan tuberkulosis di Sulawesi Tengah. Melalui program bernama BERANI MAGAYA, mahasiswa akan membantu mendampingi pasien, memberikan edukasi kepada keluarga, serta mendorong kontak erat menjalani pemeriksaan kesehatan.
BERANI MAGAYA merupakan singkatan dari Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga. Program tersebut menjadi salah satu kegiatan Konsorsium Perguruan Tinggi Sulawesi Tengah atau KITA SULTENG yang sebelumnya diluncurkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan pada Juni 2026 di Universitas Tadulako.
Peluncuran program BERANI MAGAYA diselenggarakan bertepatan dengan rangkaian Dies Natalis Universitas Tadulako pada 21 Agustus 2026. Kegiatan itu dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Wamendiktisaintek Fauzan, dan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus.
Program BERANI MAGAYA akan menjangkau Kota Palu serta Kabupaten Poso, Banggai, dan Tolitoli. Para mahasiswa ditugaskan mendampingi pasien TBC paru dan orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien.
Pendampingan dilakukan untuk membantu memastikan pasien tetap menjalani pengobatan, menyampaikan informasi kesehatan kepada keluarga, mendukung pendataan, serta mendorong masyarakat yang berisiko agar menjalani pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kendati melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar, pemeriksaan, diagnosis, pemberian terapi pencegahan, dan pengobatan tetap menjadi kewenangan tenaga kesehatan. Mahasiswa berperan sebagai pendamping yang menghubungkan masyarakat dengan puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan.
Kolaborasi tersebut dinilai penting karena penanganan TBC tidak hanya berfokus kepada pasien yang telah terdiagnosis. Anggota keluarga dan orang yang sering berinteraksi dengan pasien juga perlu mendapatkan pemeriksaan sesuai penilaian tenaga kesehatan.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam peluncuran program, sekitar 8.418 kasus TBC telah ditemukan di Sulawesi Tengah. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.900 kasus berada di Kota Palu.
Sementara itu, capaian terapi pencegahan tuberkulosis atau TPT disebut baru mencapai sekitar 7 persen di Kota Palu dan 14 persen untuk tingkat Sulawesi Tengah. Angka tersebut masih berada di bawah target yang ditetapkan sebesar 80 persen.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan perguruan tinggi dilibatkan untuk membantu memperluas jangkauan edukasi, pendataan, dan pendampingan kepada keluarga pasien.
Wamendiktisaintek Fauzan menilai sumber daya perguruan tinggi akan memberikan manfaat lebih besar apabila digerakkan secara bersama. Kampus tidak hanya memiliki tenaga akademik, tetapi juga jaringan mahasiswa, keahlian, hasil penelitian, dan program pengabdian kepada masyarakat.
Tujuh perguruan tinggi yang terlibat dalam konsorsium dan program BERANI MAGAYA meliputi:
Universitas Tadulako;
Poltekkes Kemenkes Palu;
Universitas Widya Nusantara;
Universitas Muhammadiyah Palu;
Universitas Tompotika Luwuk Banggai;
Universitas Alkhairaat Palu; dan
STIK Indonesia Jaya.
Program tersebut pada awalnya berkembang dari inisiatif Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako. Melalui konsorsium KITA SULTENG, kegiatan kemudian diperluas menjadi gerakan bersama tujuh perguruan tinggi.
Rektor Universitas Tadulako Amar menyampaikan bahwa kolaborasi antarkampus menunjukkan kekuatan perguruan tinggi dapat digerakkan untuk membantu menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat.
Pendampingan mahasiswa akan dihubungkan dengan sistem pelayanan kesehatan di daerah. Dinas kesehatan bertugas memastikan masyarakat yang ditemukan memiliki risiko dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Pemerintah juga menyiapkan pemeriksaan TBC melalui program Cek Kesehatan Gratis khusus TBC di 53.335 lokasi di seluruh Indonesia. Sebanyak 508 lokasi di antaranya berada di Sulawesi Tengah.
Sulawesi Tengah dijadwalkan memperoleh tambahan 16 alat X-ray untuk memperluas kapasitas pemeriksaan. Keberadaan alat tersebut diharapkan membantu tenaga kesehatan menemukan kasus lebih dini sehingga pasien dapat segera mendapatkan penanganan.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyatakan pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, perguruan tinggi negeri dan swasta, serta jajaran kesehatan untuk memperkuat pelaksanaan program.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus mendorong pemerintah daerah memasukkan penanganan TBC ke dalam perencanaan dan penganggaran secara berkelanjutan. Dengan demikian, program tidak berhenti sebagai kegiatan sementara.
Masyarakat yang mengalami batuk menetap, batuk berdarah, demam, keringat pada malam hari, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau pernah melakukan kontak erat dengan pasien TBC disarankan memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan.
Pasien yang telah mendapatkan obat juga perlu mengikuti petunjuk tenaga kesehatan dan tidak menghentikan pengobatan sendiri meskipun gejala sudah membaik. Pengobatan yang tidak dijalankan dengan benar dapat meningkatkan risiko kegagalan terapi dan resistansi obat.
Terapi pencegahan TBC bagi kontak erat hanya diberikan setelah pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan. Masyarakat tidak dianjurkan membeli atau mengonsumsi obat TBC secara mandiri.
Keberhasilan BERANI MAGAYA nantinya tidak hanya ditentukan oleh jumlah mahasiswa yang diterjunkan. Dampaknya juga akan terlihat dari jumlah kontak erat yang berhasil diperiksa, kesinambungan pengobatan pasien, peningkatan terapi pencegahan, serta kemampuan kampus dan pemerintah daerah mempertahankan program secara berkelanjutan.