Keboncinta.com-- Perbedaan sikap anak antara rumah dan sekolah sebenarnya tidak selalu berarti ada sesuatu yang berbahaya. Anak berada dalam lingkungan yang berbeda, bertemu dengan orang yang berbeda, dan menghadapi tuntutan sosial yang tidak sama. Karena itu, cara mereka mengekspresikan diri juga dapat berubah.
Namun, jika perubahan perilaku cukup mencolok atau sampai menimbulkan masalah di sekolah, orang tua sebaiknya tidak langsung menyangkal atau menyalahkan anak. Justru kondisi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memahami apa yang sedang dialami anak.
Perilaku anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman yang mereka jalani. Anak yang pendiam di rumah bisa menjadi sangat aktif ketika bersama teman-temannya. Sebaliknya, anak yang terlihat aktif di sekolah mungkin justru lebih tenang ketika berada di rumah.
Baca Juga: TPG Agustus 2026 Masuk Tahap Pencairan, Guru Wajib Pastikan Data Valid Sebelum Dana Disalurkan
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua.
Ada anak yang merasa memiliki ruang lebih besar untuk mengekspresikan dirinya ketika berada di luar rumah.
Di rumah, mereka mungkin terbiasa mengikuti aturan yang ketat atau memiliki gambaran tertentu tentang bagaimana seharusnya bersikap. Akibatnya, anak bisa menahan berbagai emosi dan keinginannya.
Ketika berada di sekolah atau lingkungan pertemanan, anak mungkin merasa lebih bebas sehingga perilaku yang berbeda mulai terlihat.
Kondisi ini tidak otomatis berarti orang tua terlalu keras. Namun, penting untuk melihat apakah anak merasa nyaman menyampaikan pendapat, emosi, dan masalahnya kepada keluarga.
Perubahan perilaku juga terkadang berkaitan dengan kebutuhan anak untuk mendapatkan perhatian.
Anak membutuhkan perhatian bukan hanya ketika melakukan kesalahan. Mereka juga membutuhkan waktu untuk didengarkan, diajak berbicara, bermain, dan mendapatkan apresiasi.
Dalam situasi tertentu, perilaku yang dianggap mengganggu dapat menjadi cara anak mencari respons dari lingkungan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya, "Kenapa kamu melakukan itu?" tetapi juga mencoba memahami apa yang sedang dibutuhkan anak.
Memberikan perhatian secara positif dan konsisten dapat membantu anak belajar memperoleh perhatian tanpa harus melakukan tindakan yang merugikan.
Baca Juga: Cuma 4 Kata, Tapi Bisa Membentuk Karakter Anak: Guru dan Orang Tua Perlu Ajarkan Ini
Orang tua tentu ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Namun, harapan yang terlalu tinggi terkadang membuat anak merasa harus selalu memenuhi standar tertentu.
Ketika anak merasa harus selalu menjadi "anak baik", mereka mungkin memilih menyembunyikan perilaku atau emosi tertentu di rumah.
Karena itu, orang tua perlu membedakan antara mengajarkan perilaku yang baik dengan menuntut anak agar tidak pernah melakukan kesalahan.
Anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar, mencoba, gagal, dan memperbaiki kesalahan.
Ketika guru menyampaikan bahwa perilaku anak berbeda di sekolah, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggap guru salah atau anak sedang berbohong.
Sebaliknya, informasi dari guru dapat menjadi bahan untuk memahami anak secara lebih menyeluruh.
Anak bisa menunjukkan sisi dirinya yang berbeda di setiap lingkungan. Hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu dipahami berdasarkan konteks, bukan langsung diberi label sebagai "anak nakal" atau "anak bermasalah".
Komunikasi antara orang tua dan guru sangat penting agar keduanya dapat melihat perilaku anak dari sudut pandang yang lebih lengkap.
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan orang tua adalah membangun kebiasaan berbicara dengan anak.
Tidak harus selalu dalam suasana serius. Percakapan dapat dimulai dari hal sederhana seperti bagaimana kegiatan di sekolah, siapa teman bermainnya, apa yang membuatnya senang, atau apakah ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Hindari menjadikan setiap percakapan sebagai sesi menghakimi atau memarahi. Anak perlu merasa bahwa orang tua adalah tempat yang aman untuk bercerita.
Setelah anak terbuka, orang tua dapat memberikan arahan mengenai perilaku yang baik dan buruk dengan bahasa yang mudah dipahami.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Emosi Anak, Begini Cara Orang Tua Membantunya Belajar Mengelola Perasaan
Anak masih berada dalam tahap belajar memahami aturan sosial. Karena itu, mereka membutuhkan penjelasan mengenai alasan sebuah tindakan dianggap baik atau tidak baik.
Daripada hanya mengatakan, "Jangan nakal!", orang tua dapat menjelaskan perilaku apa yang seharusnya dilakukan dan mengapa tindakan tersebut lebih tepat.
Dengan cara ini, anak tidak sekadar takut terhadap hukuman, tetapi mulai memahami konsekuensi dari tindakannya.
Perbedaan perilaku antara rumah dan sekolah tidak selalu menjadi masalah. Namun, orang tua perlu memberikan perhatian lebih jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus, semakin berat, mengganggu proses belajar, hubungan sosial, atau keselamatan anak maupun orang lain.
Jika orang tua merasa kesulitan memahami perubahan perilaku anak, komunikasi dengan guru dan konsultasi dengan tenaga profesional yang sesuai dapat membantu menemukan penyebab serta langkah yang tepat.
Baca Juga: Bukan Sekadar Minuman Sehat, Ini Manfaat Jus Seledri untuk Imunitas dan Pencernaan
Pada akhirnya, anak bukanlah pribadi yang harus selalu menunjukkan perilaku sama di setiap tempat. Yang lebih penting adalah memastikan anak merasa aman, mendapatkan perhatian yang cukup, memahami batasan, serta memiliki kesempatan untuk belajar mengelola emosi dan perilakunya.
Dengan komunikasi yang hangat antara orang tua, anak, dan guru, perbedaan perilaku di rumah dan sekolah dapat menjadi pintu untuk memahami kebutuhan anak dengan lebih baik.***