Balita Sering Memukul Saat Marah? Gunakan Teknik "Emotion Coaching" Agar Anak Belajar Menyalurkan Emosi dengan Kata-kata

Balita Sering Memukul Saat Marah? Gunakan Teknik "Emotion Coaching" Agar Anak Belajar Menyalurkan Emosi dengan Kata-kata

22 Februari 2026 | 23:25

keboncinta.com--  Melihat buah hati yang tiba-tiba melayangkan pukulan saat keinginannya tidak dituruti tentu bisa memicu rasa malu sekaligus frustrasi pada orang tua. Rasanya seperti ada yang salah dengan pola asuh kita, atau mungkin kita khawatir si kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar. Namun, sebelum Anda menarik napas panjang untuk melepaskan amarah, penting untuk menyadari bahwa balita memukul bukan karena mereka jahat, melainkan karena otak bagian depan mereka yang mengatur kontrol impuls masih dalam tahap pembangunan. Mereka memiliki emosi sebesar raksasa namun kapasitas bahasa yang masih setingkat kurcaci. Di sinilah teknik emotion coaching hadir sebagai penyelamat, mengubah momen "darurat" tersebut menjadi kelas pembelajaran kecerdasan emosional yang berharga.

Langkah pertama dalam emotion coaching adalah menjadi detektif emosi bagi anak Anda. Alih-alih langsung berfokus pada tindakan memukulnya, cobalah masuk ke dalam perasaan yang memicu tindakan tersebut. Validasi adalah kuncinya; Anda bisa berlutut agar sejajar dengan matanya dan berkata dengan tenang bahwa Anda mengerti dia sedang marah karena mainannya diambil. Kalimat sederhana seperti "Ayah lihat kamu sangat kesal sekarang" membantu anak mengenali perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya. Ketika sebuah emosi diberi nama, intensitasnya dalam otak cenderung menurun. Dengan melakukan ini, Anda sedang membangun jembatan antara bagian otak emosional dan otak rasionalnya, sehingga dia merasa dipahami dan tidak merasa perlu berjuang sendirian melawan amarahnya.

Setelah emosinya diakui, langkah selanjutnya adalah menetapkan batasan yang jelas namun tetap penuh kasih. Memberi validasi bukan berarti membiarkan perilaku buruk terjadi begitu saja. Anda tetap harus tegas mengatakan bahwa perasaan marah itu boleh, tetapi memukul itu tidak boleh karena menyakiti orang lain. Setelah batasan ditetapkan, segera berikan alternatif cara untuk menyalurkan energi kemarahan tersebut. Ajarkan anak untuk menggunakan kata-kata, seperti berteriak "Aku marah!" atau melakukan aktivitas fisik yang aman seperti meremas bantal atau menghentakkan kaki. Memberikan pengganti tindakan memukul memberinya peta jalan tentang apa yang harus dilakukan saat "api" kemarahan itu muncul kembali di kemudian hari.

Melatih disiplin dengan cara ini memang membutuhkan kesabaran ekstra dibandingkan sekadar memberikan hukuman instan yang mungkin membuat anak diam karena takut. Namun, hasil jangka panjangnya jauh lebih manis. Dengan konsisten menerapkan emotion coaching, Anda sedang membekali anak dengan kemampuan regulasi diri yang akan sangat ia butuhkan saat dewasa nanti. Alih-alih tumbuh menjadi individu yang memendam emosi lalu meledak, atau justru menjadi "lumpuh mental" karena tidak tahu cara menangani stres, anak Anda akan belajar menjadi pribadi yang komunikatif dan tangguh secara emosional. Pada akhirnya, setiap pukulan kecil itu adalah undangan bagi kita untuk mengajari mereka bahasa hati yang lebih baik.

Tags:
Parenting Emosi Anak Pola Asuh Toddler Life

Komentar Pengguna