KHAZANAH – Kekuasaan, istana megah, wilayah yang luas hingga pernikahan dengan keluarga kerajaan lain membuat Dinasti Habsburg pernah menjadi salah satu keluarga paling berpengaruh dalam sejarah Eropa.
Pada puncak kekuasaannya, anggota keluarga Habsburg memegang berbagai wilayah penting di Eropa. Pengaruh mereka berkembang melalui peperangan, politik dan terutama strategi pernikahan antarbangsawan.
Namun strategi yang membantu keluarga ini memperluas kekuasaan ternyata mempunyai sisi gelap.
Keinginan menjaga wilayah, kekayaan dan hubungan politik tetap berada di antara keluarga kerajaan membuat sejumlah anggota Habsburg menikah dengan kerabat dekat selama beberapa generasi.
Pada cabang Habsburg Spanyol, praktik tersebut menjadi begitu berulang hingga penelitian modern menemukan peningkatan tajam tingkat inbreeding. Kondisi ini kemudian dikaitkan dengan rendahnya kelangsungan hidup keturunan dan ciri fisik khas yang sekarang dikenal sebagai Habsburg jaw.
Keluarga Habsburg tidak langsung lahir sebagai penguasa besar Eropa.
Salah satu titik penting kebangkitan mereka terjadi ketika Rudolf I menjadi Raja Jerman pada 1273. Setelah mengalahkan Raja Otakar II dari Bohemia beberapa tahun kemudian, keluarga Habsburg memperoleh wilayah penting di Austria yang kemudian menjadi salah satu fondasi kekuasaan mereka.
Dari sana pengaruh keluarga semakin berkembang.
Pada abad ke-16, keluarga Habsburg sudah mempunyai posisi yang sangat kuat di Eropa. Mereka tidak hanya memperluas wilayah melalui peperangan tetapi juga menggunakan pernikahan strategis untuk memperkuat hubungan dengan kerajaan lain.
Cara ini terbukti sangat efektif secara politik.
Masalah muncul ketika calon pasangan yang dianggap paling aman untuk mempertahankan kekuasaan ternyata sering masih berasal dari keluarga yang sama.
Pada masa kerajaan Eropa, pernikahan bukan hanya persoalan hubungan pribadi.
Pernikahan dapat menentukan:
wilayah → warisan → klaim takhta → aliansi → bahkan keseimbangan kekuatan antarnegara.
Habsburg sangat berhasil memanfaatkan cara tersebut.
Melalui perkawinan antarbangsawan, pengaruh keluarga meluas jauh melampaui Austria. Metropolitan Museum of Art mencatat dominasi Habsburg berkembang secara dramatis di daratan Eropa melalui kombinasi penaklukan militer dan pernikahan yang dipilih dengan hati-hati.
Cabang keluarga tersebut kemudian masuk ke Spanyol setelah Philip I menikahi Joanna dari Castile.
Dinasti Habsburg Spanyol memerintah sejak 1516 hingga 1700, periode ketika kekuasaan Spanyol berkembang menjadi salah satu kekuatan terbesar dunia.
Tetapi mempertahankan semua warisan tersebut membutuhkan strategi.
Salah satunya adalah terus menikah di antara jaringan keluarga kerajaan yang sama.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2009 menelusuri silsilah Habsburg Spanyol hingga lebih dari 3.000 individu dalam 16 generasi.
Hasilnya menunjukkan pola perkawinan antarkerabat yang cukup jelas.
Dalam sekitar dua abad kekuasaan Habsburg Spanyol terdapat 11 pernikahan raja. Sebagian besar merupakan perkawinan konsanguin, termasuk hubungan:
Salah satu contohnya adalah Raja Philip IV dari Spanyol yang menikahi Mariana dari Austria, yang merupakan keponakannya sendiri.
Dari pernikahan inilah kemudian lahir salah satu tokoh paling terkenal dalam kisah Habsburg: Charles II dari Spanyol.
Inbreeding terjadi ketika dua orang yang mempunyai nenek moyang dekat menghasilkan keturunan.
Masalah utamanya bukan sekadar karena pasangan tersebut mempunyai hubungan keluarga.
Ketika perkawinan antarkerabat terjadi berulang kali selama banyak generasi, peluang seorang anak memperoleh dua salinan gen yang sama dari leluhur yang sama menjadi semakin besar.
Penelitian terhadap Habsburg menghitungnya menggunakan inbreeding coefficient atau koefisien inbreeding (F).
Pada Philip I, koefisien tersebut hanya sekitar:
0,025.
Tetapi setelah beberapa generasi perkawinan berulang antarkerabat, nilai tersebut meningkat.
Pada Charles II:
F = 0,254.
Angka ini sangat tinggi.
Secara teoritis, angka sekitar 0,25 berada di kisaran yang diharapkan pada keturunan hubungan saudara kandung atau orang tua dengan anak.
Namun ini bukan berarti ayah dan ibu Charles II adalah saudara kandung.
Orang tuanya adalah paman dan keponakan. Koefisien Charles menjadi sangat tinggi karena hubungan kekerabatan telah terakumulasi selama banyak generasi sebelumnya.
Ini bagian paling menarik dari penelitian tersebut.
Jika Charles II hanya dilihat dari hubungan orang tuanya, koefisien inbreeding seharusnya lebih rendah.
Tetapi para peneliti menemukan bahwa hubungan kekerabatan dari nenek moyang yang lebih jauh memberikan kontribusi sangat besar.
Bahkan untuk memahami tingkat inbreeding sebagian raja Habsburg Spanyol, peneliti harus menelusuri silsilah sampai sekitar 10 generasi atau lebih.
Dengan kata lain, pohon keluarga mereka sudah bukan lagi sekadar:
kakek → anak → cucu.
Cabang-cabangnya terus saling bertemu kembali karena keluarga yang sama menikah satu sama lain berulang kali.
Strategi yang awalnya bertujuan mempertahankan kekuasaan akhirnya mengurangi keragaman genetik keturunan.
Salah satu ciri fisik yang paling sering dikaitkan dengan keluarga ini adalah Habsburg jaw.
Ciri tersebut terutama berupa rahang bawah yang menonjol atau mandibular prognathism.
Banyak lukisan raja dan bangsawan Habsburg menunjukkan pola wajah yang mirip: rahang bawah menonjol, bibir bawah terlihat besar serta bagian tengah wajah tampak lebih masuk ke belakang.
Selama berabad-abad orang menduga ciri tersebut berkaitan dengan perkawinan dalam keluarga.
Pada 2019, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Human Biology mencoba mengujinya secara lebih sistematis. Para peneliti menganalisis potret 15 anggota Habsburg Spanyol dan membandingkan ciri rahangnya dengan tingkat inbreeding berdasarkan silsilah.
Hasilnya menemukan hubungan antara tingkat inbreeding yang lebih tinggi dan semakin jelasnya mandibular prognathism.
Perbedaan tingkat inbreeding dalam penelitian tersebut menjelaskan sekitar 22 persen variasi tingkat keparahan Habsburg jaw yang diamati.
Penelitian itu tetap mempunyai keterbatasan.
Para ilmuwan menganalisis potret, bukan DNA anggota Habsburg secara langsung. Karena itu, hubungan tersebut menunjukkan korelasi yang kuat tetapi bukan pembuktian genetika molekuler secara langsung.
Peneliti juga mengakui masih ada kemungkinan faktor lain ikut memengaruhi bentuk wajah.
Jadi kalimat yang lebih tepat adalah:
perkawinan antarkerabat kemungkinan berkontribusi terhadap Habsburg jaw, bukan berarti setiap orang yang memiliki rahang menonjol pasti mempunyai riwayat perkawinan sedarah.
Charles II lahir pada 1661 dan menjadi raja terakhir dari garis Habsburg Spanyol.
Ia mengalami berbagai masalah kesehatan sepanjang hidupnya. Penyebab pasti masing-masing masalah kesehatan tersebut masih diperdebatkan, dan tidak semuanya dapat dipastikan berasal dari inbreeding.
Yang dapat dihitung secara lebih jelas melalui silsilah adalah tingkat inbreeding-nya.
Penelitian PLOS ONE menemukan Charles II mempunyai koefisien 0,254, tertinggi di antara para raja Habsburg Spanyol yang dianalisis bersama beberapa anggota keluarga lain dengan tingkat sangat tinggi.
Charles kemudian menikah dua kali tetapi tidak memiliki keturunan.
Ketika ia meninggal pada 1700, garis Habsburg Spanyol berakhir.
Efek yang dipelajari peneliti tidak hanya berfokus pada penampilan Charles II.
Dari keluarga kerajaan Spanyol yang dianalisis, terdapat tingkat kematian anak yang cukup tinggi.
Data penelitian mencatat dari 34 anak dalam keluarga kerajaan Spanyol antara kelahiran Philip II dan Charles II:
10 anak atau 29,4 persen meninggal sebelum usia satu tahun.
Sementara:
17 anak atau 50 persen meninggal sebelum usia 10 tahun.
Analisis statistik penelitian tersebut menemukan hubungan antara tingkat inbreeding keturunan Habsburg dan penurunan peluang bertahan hidup hingga usia 10 tahun.
Namun para peneliti juga menegaskan bahwa bukti historis semacam ini memiliki keterbatasan.
Tidak semua kematian atau penyakit anggota keluarga dapat otomatis dikaitkan dengan perkawinan antarkerabat. Kondisi lingkungan, penyakit infeksi, pelayanan kesehatan pada zamannya dan banyak faktor lain juga berpengaruh.
Masalah Charles II tidak berhenti pada kesehatannya.
Karena ia tidak mempunyai anak, muncul persoalan jauh lebih besar:
Siapa yang akan mewarisi kerajaan Spanyol?
Charles meninggal pada 1700 tanpa keturunan langsung. Berakhirnya Habsburg Spanyol kemudian membuka perebutan takhta yang berkembang menjadi War of the Spanish Succession atau Perang Suksesi Spanyol.
Perang tersebut melibatkan berbagai kekuatan Eropa karena yang diperebutkan bukan sekadar mahkota.
Spanyol masih mempunyai wilayah dan kepentingan luas sehingga siapa pun yang mewarisinya dapat mengubah keseimbangan kekuatan Eropa.
Pada akhirnya, takhta Spanyol jatuh kepada Dinasti Bourbon.
Dengan demikian, garis Habsburg yang sebelumnya mempertahankan kekuasaan melalui pernikahan keluarga justru kehilangan cabang Spanyol setelah raja terakhirnya tidak menghasilkan penerus.
Tidak.
Ini juga sering disalahpahami.
Kematian Charles II mengakhiri garis Habsburg Spanyol, bukan berarti seluruh keluarga Habsburg hilang dari Eropa.
Cabang Austria tetap melanjutkan kekuasaan dan pengaruh keluarga tersebut.
Bahkan nama Habsburg terus berkaitan dengan Kekaisaran Austria dan kemudian Austria-Hungaria hingga periode modern.
Jadi kisah Charles II lebih tepat disebut sebagai berakhirnya Habsburg Spanyol, bukan punahnya seluruh Dinasti Habsburg.
Sejarah Habsburg mempunyai sebuah ironi.
Strategi pernikahan merupakan salah satu alasan keluarga ini dapat berkembang dari bangsawan regional menjadi salah satu dinasti paling kuat di Eropa. Metropolitan Museum of Art mencatat pernikahan yang dipilih secara strategis memainkan peranan besar dalam ekspansi kekuasaan Habsburg.
Tetapi pada cabang Spanyol, strategi mempertahankan kekuasaan melalui pernikahan dalam jaringan keluarga yang semakin sempit akhirnya menghasilkan tingkat inbreeding yang sangat tinggi.
Apa yang secara politik terasa aman dalam satu generasi dapat membawa konsekuensi biologis setelah berlangsung berulang kali selama beberapa generasi.
Kalau yang dimaksud kutukan supernatural, tidak ada bukti ilmiahnya.
Istilah tersebut lebih tepat digunakan sebagai ungkapan dramatis untuk menggambarkan konsekuensi yang muncul dari perkawinan antarkerabat secara berulang.
Yang benar-benar dapat dibuktikan penelitian adalah:
perkawinan konsanguin berulang → peningkatan koefisien inbreeding → hubungan dengan penurunan survival anak dan semakin jelasnya ciri Habsburg jaw pada cabang Spanyol.
Charles II kemudian menjadi simbol paling ekstrem dari sistem tersebut.
Ia memiliki tingkat inbreeding sangat tinggi, tidak memiliki keturunan, dan kematiannya pada 1700 menandai berakhirnya kekuasaan Habsburg di Spanyol.
Itulah sebabnya kisah keluarga Habsburg masih menarik dibicarakan ratusan tahun kemudian.
Mereka menunjukkan bagaimana sebuah keluarga dapat menggunakan pernikahan sebagai alat politik untuk membangun kekuasaan selama berabad-abad, tetapi strategi yang sama ketika dilakukan terlalu jauh justru menciptakan konsekuensi yang tidak pernah direncanakan.