Keboncinta.com-- Planet kerdil Eris menjadi salah satu objek paling menarik di wilayah terluar Tata Surya. Meski memiliki sejumlah kemiripan dengan Pluto, penelitian terbaru menunjukkan bahwa Eris mempunyai karakteristik internal yang cukup berbeda.
Para ilmuwan kini berhasil memperoleh gambaran lebih mendalam mengenai struktur dan komposisi Eris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa planet kerdil tersebut kemungkinan memiliki kandungan batuan yang tinggi di bagian dalam, sementara permukaannya diselimuti material es.
Temuan ini sekaligus memberikan petunjuk bahwa sejarah pembentukan Eris tidak sepenuhnya sama dengan Pluto.
Baca Juga: Oksigen Terdeteksi di Venus, Ilmuwan Ungkap Rahasia Atmosfer Planet Tetangga Bumi
Salah satu perbedaan penting antara Eris dan Pluto berkaitan dengan kondisi bagian dalamnya.
Pluto diperkirakan memiliki lautan bawah permukaan yang berada di balik lapisan es. Namun, kondisi berbeda tampaknya terjadi pada Eris. Penelitian menunjukkan tidak terdapat indikasi kuat mengenai keberadaan lautan cair di dalam planet kerdil tersebut.
Ilmuwan planet dari University of California Santa Cruz, Francis Nimmo, menjelaskan bahwa Eris kemungkinan pernah mengalami pemanasan cukup besar pada masa awal sejarahnya hingga sebagian material di dalamnya mencair.
Ketika kondisi tersebut terjadi, material batuan yang lebih berat dapat bergerak menuju bagian tengah, sedangkan es berada di lapisan yang lebih luar.
Proses tersebut menunjukkan bahwa Eris kemungkinan telah mengalami pemisahan antara material batuan dan es tanpa mempertahankan lautan cair di bagian dalamnya.
Secara ukuran, Eris memiliki diameter sekitar 1.445 mil atau 2.325 kilometer. Ukuran tersebut membuatnya sedikit lebih kecil dibandingkan Pluto.
Namun, Eris memiliki massa sekitar 25 persen lebih besar daripada Pluto. Perbedaan ini berkaitan dengan kandungan batuan Eris yang diperkirakan lebih tinggi.
Astronom Caltech, Mike Brown, yang turut berperan dalam penemuan Eris, menggambarkan planet kerdil tersebut sebagai objek yang memiliki kemiripan dengan Pluto, tetapi dengan tambahan massa yang sangat besar dari material yang berasal dari kawasan Sabuk Kuiper.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa ukuran bukan satu-satunya faktor untuk memahami karakteristik sebuah planet kerdil. Komposisi internal juga memiliki peran penting.
Baca Juga: Filsafat dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan, dari Pertanyaan hingga Peradaban
Eris berada sangat jauh dari Matahari. Planet kerdil ini membutuhkan waktu sekitar 557 tahun Bumi untuk menyelesaikan satu kali revolusi mengelilingi Matahari.
Jarak yang sangat jauh tersebut membuat lingkungan Eris sangat dingin dan minim cahaya. Intensitas sinar Matahari yang diterima di wilayah tersebut jauh lebih lemah dibandingkan yang diterima Bumi.
Dalam kondisi sejauh itu, cahaya Matahari bahkan digambarkan sangat redup sehingga tampak seperti titik cahaya yang amat kecil dari permukaan Eris.
Eris juga memiliki sebuah satelit alami yang dikenal sebagai Dysnomia. Bulan tersebut sebagian besar tersusun dari material es dan memiliki hubungan orbit yang menarik dengan Eris.
Dysnomia berada dalam orbit sinkron terhadap Eris. Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan hubungan antara Pluto dan bulannya, Charon.
Keberadaan Dysnomia menjadi bagian penting dalam penelitian terhadap Eris karena pengamatan terhadap sistem Eris-Dysnomia dapat membantu ilmuwan memperkirakan karakteristik dan massa kedua objek tersebut.
Baca Juga: Bulan Ternyata Lebih Tua, Kristal Apollo Ungkap Usianya 4,46 Miliar Tahun
Eris termasuk dalam lima planet kerdil yang secara resmi diakui oleh Persatuan Astronomi Internasional. Di antara kelompok tersebut, Eris merupakan planet kerdil dengan massa terbesar.
Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa setiap planet kerdil memiliki karakteristik tersendiri. Meskipun Eris dan Pluto sama-sama berada di wilayah luar Tata Surya dan mempunyai sejumlah kemiripan, proses pembentukan serta kondisi internal keduanya tidak harus sama.
Karena itu, pemahaman mengenai Pluto tidak bisa begitu saja digunakan untuk menggambarkan seluruh planet kerdil yang berada di Tata Surya bagian luar.
Studi mengenai Eris dan Dysnomia memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk memahami lebih jauh bagaimana benda-benda langit di kawasan terluar Tata Surya terbentuk dan berevolusi.
Perbedaan antara Eris dan Pluto menjadi bukti bahwa kawasan jauh dari Matahari menyimpan keragaman yang sangat besar. Setiap penemuan baru membantu ilmuwan menyusun gambaran yang lebih lengkap mengenai sejarah dan struktur Tata Surya.
Baca Juga: Sejarah Ilmu Psikologi: Dari Filsafat Yunani hingga Memahami Perilaku Manusia
Misteri Eris pun menjadi pengingat bahwa semakin jauh manusia menjelajahi kosmos, semakin banyak pula karakteristik unik benda langit yang dapat ditemukan. Penelitian terhadap planet kerdil seperti Eris menjadi salah satu langkah untuk memahami bagaimana lingkungan kosmik kita terbentuk dan berkembang selama miliaran tahun.***