Teknologi
Hilmi An Naufal

Pendiri Zoho Peringatkan AI Bisa Menulis Sebagian Besar Kode Software, Programmer Diminta Cari Cara Tetap Relevan

Pendiri Zoho Peringatkan AI Bisa Menulis Sebagian Besar Kode Software, Programmer Diminta Cari Cara Tetap Relevan

07 September 2026 | 14:57

KEBONCINTA.COM – Senin, 7 September 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan kembali menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan pekerjaan di industri teknologi.

Pendiri Zoho, Sridhar Vembu, memperingatkan kemampuan AI dalam pemrograman berkembang begitu cepat sehingga sebagian besar kode perangkat lunak berpotensi dibuat oleh kecerdasan buatan.

Pernyataan tersebut muncul ketika Vembu menanggapi diskusi mengenai kemampuan AI dalam bidang matematika.

Diskusi awal berasal dari Will Bryk, CEO Exa AI Labs, yang berpendapat kemampuan AI menyelesaikan persoalan matematika dapat berkembang jauh lebih cepat dalam beberapa waktu mendatang.

Vembu kemudian memperluas diskusi tersebut menuju dunia software engineering.

Menurutnya, bagian tertentu dari matematika yang menyerupai permainan seperti catur atau Go, yaitu mencari langkah semakin cerdas dalam sistem dengan aturan yang sudah tersedia, kemungkinan dapat dikuasai AI.

Namun ia membedakannya dengan kreativitas manusia dalam menciptakan konsep matematika benar-benar baru.

Bagian tersebut dianggap jauh lebih sulit karena bukan sekadar memecahkan persoalan yang aturan dasarnya telah tersedia.

Hal yang menjadi perhatian terbesar justru pandangan Vembu mengenai pemrograman.

Ia menilai saat ini semakin terlihat bahwa sebagian sangat besar kode software dapat dibuat secara kompeten dan benar oleh AI.

Perkembangan tersebut menjadi penting karena selama beberapa tahun terakhir AI coding assistant telah berubah sangat cepat.

Awalnya, AI digunakan programmer terutama untuk melengkapi beberapa baris kode.

Kemudian kemampuannya meningkat menjadi membuat fungsi, memperbaiki error dan menjelaskan source code.

Sekarang model AI bahkan mulai mampu membuat struktur aplikasi, menjalankan alat pengembangan, melakukan pengujian serta memperbaiki kesalahan secara berulang.

Fenomena agentic coding semakin mempercepat perubahan tersebut.

Dalam sistem semacam ini, manusia tidak harus memberikan perintah untuk setiap baris kode.

Pengguna cukup menjelaskan tujuan yang ingin dicapai.

Agen AI kemudian dapat merencanakan pekerjaan, membuat file, menulis kode, menjalankan pengujian dan melakukan perubahan berdasarkan hasil yang diperoleh.

Namun penggunaan AI untuk membuat software tetap menghadapi tantangan besar.

Kode yang terlihat benar belum tentu bebas dari bug, kelemahan keamanan maupun masalah ketika digunakan pada kondisi sebenarnya.

Karena itu proses verifikasi menjadi salah satu bagian penting dari perkembangan AI coding.

Vembu menyinggung sistem pembuktian formal seperti Lean yang selama ini digunakan untuk memverifikasi teorema matematika.

Teknologi sejenis menurutnya dapat dikembangkan untuk membantu memastikan kode yang ditulis AI benar.

Jika kemampuan pembuatan kode dan verifikasi kode berkembang bersamaan, dampaknya terhadap industri software dapat menjadi jauh lebih besar.

Satu programmer dengan bantuan AI berpotensi menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang.

Hal tersebut tentu memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Pengembangan aplikasi dapat berlangsung lebih cepat dan biaya pembuatan software dapat berkurang.

Perusahaan kecil juga dapat membangun layanan yang sebelumnya membutuhkan tim teknologi jauh lebih besar.

Namun pada sisi lain muncul kekhawatiran terhadap kebutuhan tenaga kerja.

Vembu menegaskan ia tidak mengatakan manusia akan sepenuhnya hilang dari proses pembuatan software.

Pertanyaan yang menurutnya lebih penting justru mengenai berapa banyak manusia yang nantinya masih dibutuhkan.

Ia menilai jawaban terhadap pertanyaan tersebut saat ini cukup mengkhawatirkan.

Pernyataan tersebut relevan bagi programmer, mahasiswa informatika maupun mereka yang baru memulai belajar coding.

Kemampuan menulis sintaks saja kemungkinan tidak lagi cukup menjadi keunggulan utama.

AI sudah semakin mampu menghasilkan kode dari instruksi bahasa alami.

Programmer masa depan kemungkinan harus memperkuat kemampuan yang lebih luas.

Memahami arsitektur sistem, keamanan aplikasi, database, jaringan, pengalaman pengguna dan kebutuhan bisnis dapat menjadi semakin penting.

Kemampuan memeriksa hasil AI juga diperlukan.

Programmer tetap harus memahami apakah kode yang dihasilkan aman, efisien serta sesuai dengan kebutuhan sebenarnya.

Sebab AI dapat memberikan jawaban yang tampak meyakinkan tetapi ternyata mempunyai kesalahan.

Perubahan tersebut sebenarnya tidak harus selalu dipandang sebagai ancaman.

AI juga memungkinkan seorang programmer mengembangkan aplikasi dengan kecepatan yang sebelumnya sulit dicapai.

Developer dapat menggunakan AI untuk menyelesaikan pekerjaan rutin kemudian mengalokasikan lebih banyak waktu pada desain sistem dan pemecahan masalah.

Mahasiswa yang sedang mempelajari pemrograman juga masih perlu memahami dasar coding.

Menggunakan AI tanpa mengetahui logika program dapat membuat pengguna kesulitan ketika harus mencari penyebab bug atau memeriksa keamanan aplikasi.

Karena itu, kemampuan menggunakan AI dan kemampuan teknis dasar kemungkinan harus berkembang secara bersamaan.

Pandangan pendiri Zoho tersebut menunjukkan bahwa diskusi mengenai AI mulai bergerak dari pertanyaan “apakah AI bisa menulis kode?” menjadi pertanyaan yang jauh lebih besar.

Jika AI memang mampu membuat sebagian besar software, bagaimana pekerjaan programmer akan berubah?

Jawabannya mungkin baru terlihat dalam beberapa tahun mendatang.

Namun perkembangan yang terjadi sekarang menunjukkan bahwa profesi teknologi juga tidak kebal terhadap perubahan besar yang dibawa kecerdasan buatan.

Bagi programmer, tantangannya bukan sekadar bersaing dengan AI, tetapi belajar menggunakan teknologi tersebut sekaligus membangun kemampuan yang sulit digantikan oleh otomatisasi.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna