Keboncinta.com-- Jam tidur anak sering dianggap sebagai persoalan sederhana. Padahal, kebiasaan tidur yang tidak teratur dapat memengaruhi kualitas istirahat dan keseharian anak. Karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian lebih terhadap pola tidur sejak usia dini.
Tidur yang cukup dan teratur merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung proses tumbuh kembang anak. Sebaliknya, kebiasaan tidur terlalu malam atau kurang tidur dapat membuat anak mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga memengaruhi suasana hati dan perilakunya.
Lantas, berapa lama waktu tidur yang dibutuhkan anak berdasarkan usianya? Dan bagaimana cara membangun kebiasaan tidur yang lebih teratur?
Baca Juga: Minat Baca Anak Bisa Tumbuh Sejak Dini, Ini 10 Kebiasaan yang Bisa Diterapkan di Rumah
Tidur bukan sekadar waktu bagi anak untuk beristirahat setelah menjalani berbagai aktivitas. Ketika tidur, tubuh menjalankan berbagai proses pemulihan dan perkembangan yang penting.
Salah satu proses yang berkaitan dengan tidur adalah pelepasan hormon pertumbuhan. Karena itu, kualitas dan kecukupan tidur menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam mendukung pertumbuhan anak.
Kebiasaan tidur yang terlalu larut dan tidak teratur dapat membuat waktu istirahat anak berkurang. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memengaruhi kebugaran, konsentrasi, suasana hati, dan aktivitas anak pada siang hari.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan berapa lama anak tidur, tetapi juga memastikan jadwal tidurnya konsisten.
Kebutuhan tidur anak berbeda-beda sesuai dengan tahapan usianya. Semakin besar usia anak, kebutuhan tidur umumnya semakin berkurang.
Secara umum, kebutuhan tidur dalam 24 jam dapat menjadi gambaran bagi orang tua untuk mengatur jadwal istirahat anak.
| Usia Anak | Kebutuhan Tidur per 24 Jam |
|---|---|
| 0–3 bulan | 14–17 jam |
| 4–11 bulan | 12–16 jam |
| 1–3 tahun | 11–14 jam |
| 3–6 tahun | 10–13 jam |
| 7 tahun ke atas | 9–11 jam |
Kebutuhan tersebut mencakup keseluruhan waktu tidur dalam sehari, termasuk tidur siang pada kelompok usia yang masih membutuhkannya.
Dengan mengetahui kebutuhan tidur sesuai usia, orang tua dapat lebih mudah menyusun jadwal istirahat yang sesuai dengan aktivitas anak.
Membiasakan anak tidur terlalu malam bukan kebiasaan yang ideal. Waktu tidur yang konsisten membantu anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup sekaligus membentuk ritme harian yang lebih teratur.
Daripada berfokus hanya pada patokan jam tertentu, orang tua sebaiknya menyesuaikan waktu tidur dengan usia, kebutuhan tidur, dan waktu anak harus bangun pada pagi hari.
Untuk anak yang masih kecil, rutinitas tidur dapat mulai dipersiapkan lebih awal. Aktivitas yang membuat anak terlalu aktif menjelang waktu tidur juga sebaiknya dikurangi agar tubuh dan pikiran anak lebih siap beristirahat.
Ketika kebutuhan tidur tidak terpenuhi, anak dapat mengalami berbagai perubahan dalam kesehariannya. Anak mungkin menjadi lebih mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, rewel, atau mengalami perubahan suasana hati.
Dalam jangka panjang, kebiasaan tidur yang buruk juga dapat mengganggu rutinitas makan, aktivitas fisik, dan proses belajar anak.
Karena itu, pola tidur sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pola hidup sehat bersama dengan asupan makanan bergizi dan aktivitas fisik yang sesuai usia.
Pola tidur anak ternyata tidak hanya berkaitan dengan kondisi anak. Orang tua juga dapat terkena dampaknya.
Anak yang sering terjaga hingga larut malam dapat membuat orang tua ikut kehilangan waktu istirahat. Jika kondisi tersebut terjadi berulang kali, orang tua dapat mengalami kelelahan dan kesulitan mendapatkan tidur yang cukup.
Kurangnya waktu tidur dapat membuat tubuh terasa lelah dan memengaruhi suasana hati. Karena itu, membangun rutinitas tidur anak yang baik juga dapat membantu menciptakan pola istirahat yang lebih sehat bagi seluruh keluarga.
Orang tua tidak perlu mengubah jadwal tidur anak secara drastis. Kebiasaan dapat dibangun secara bertahap melalui rutinitas sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Sejak kecil, anak dapat diperkenalkan dengan perbedaan aktivitas pada siang dan malam hari.
Pada siang hari, anak dapat melakukan berbagai aktivitas sesuai usia, sementara malam hari diarahkan menjadi waktu untuk menenangkan tubuh dan mempersiapkan diri untuk tidur.
Rutinitas yang konsisten dapat membantu anak mengenali bahwa malam merupakan waktunya beristirahat.
Tidur siang memang dapat menjadi bagian dari kebutuhan tidur anak, terutama pada usia tertentu. Namun, waktu tidur siang perlu disesuaikan agar tidak mengganggu waktu tidur malam.
Jika anak tidur siang terlalu lama atau terlalu sore, anak bisa menjadi lebih sulit mengantuk pada malam hari.
Karena itu, orang tua dapat mengatur jadwal tidur siang sesuai kebutuhan usia anak dan memastikan anak tidak tidur terlalu dekat dengan waktu tidur malam.
Satu jam sebelum waktu tidur dapat digunakan sebagai masa transisi dari aktivitas menuju istirahat.
Orang tua dapat mengurangi aktivitas yang terlalu merangsang, meredupkan suasana kamar, merapikan tempat tidur, membaca cerita bersama, atau melakukan kegiatan tenang lainnya.
Rutinitas yang dilakukan secara berulang akan membantu anak memahami bahwa rangkaian aktivitas tersebut merupakan tanda bahwa waktu tidur sudah dekat.
Membangun pola tidur anak membutuhkan kesabaran.