Berita
SUWANDI

Mitos Lapar Berujung Krisis Energi: Dokter Gizi Ungkap Kesalahan Fatal Saat Memangkas Kalori

Mitos Lapar Berujung Krisis Energi: Dokter Gizi Ungkap Kesalahan Fatal Saat Memangkas Kalori

11 Agustus 2026 | 20:55

Keboncinta.com - Kebanyakan orang yang ingin menurunkan berat badan sering kali terjebak dalam pemahaman yang salah dengan memangkas porsi makan secara ekstrem. Banyak yang beranggapan bahwa semakin sedikit makanan yang masuk ke dalam tubuh, maka angka pada timbangan akan turun semakin cepat. 

Namun, pakar spesialis gizi klinik Dr. Meta Satyani menjelaskan bahwa pendekatan pangkas kalori secara ekstrem justru menjadi penyebab utama mengapa berat badan seseorang menjadi stagnan dan sangat sulit untuk turun.

 

Dalam keterangannya di kanal YouTube Malaka, Dr. Meta Satyani mengungkapkan bahwa saat seseorang mengurangi porsi makan secara berlebihan, tubuh akan merespons situasi tersebut seolah-olah sedang mengalami krisis energi. 

Ketika berada dalam kondisi ini, tubuh bukannya membakar simpanan lemak, melainkan justru berusaha keras menahan energi yang ada agar tidak terbuang. Pada tahap awal, timbangan memang mungkin memperlihatkan penurunan angka, tetapi hal tersebut bukan disebabkan oleh penyusutan lemak, melainkan berkurangnya simpanan glikogen, massa otot, serta kadar cairan tubuh.

Penurunan massa otot akibat pangkas kalori yang drastis ini akan menyebabkan laju metabolisme tubuh melambat secara signifikan. Ketika laju metabolisme melemah, kemampuan tubuh dalam membakar kalori, bahkan saat beristirahat maupun berolahraga, menjadi sangat rendah. 

Dokter Meta menyebutkan bahwa metode diet dengan kalori sangat rendah, seperti hanya mengonsumsi 800 hingga 1.000 kalori per hari, sebenarnya hanya diperbolehkan untuk target jangka pendek tertentu seperti atlet dan maksimal hanya boleh dilakukan selama 12 minggu di bawah pengawasan ketat agar tidak memicu kerugian massa otot.

Selain kesalahan dalam mengatur asupan nutrisi makro, faktor pola hidup seperti kurang tidur dan stres berkepanjangan juga memegang peranan penting yang sering kali diabaikan. 

Kurangnya waktu istirahat memicu lonjakan hormon kortisol yang mempercepat penumpukan lemak, terutama di area perut. Kurang tidur juga mengganggu keseimbangan hormon pencernaan, yaitu dengan meningkatkan hormon grelin yang memicu rasa lapar serta menurunkan hormon leptin yang memberikan rasa kenyang. 

Akibatnya, seseorang yang kurang tidur cenderung memiliki dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak secara berlebihan.

Oleh karena itu, Dr. Meta menekankan pentingnya menjaga keseimbangan nutrisi yang mencakup karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta kecukupan protein untuk mempertahankan massa otot dan menjaga metabolisme tetap tinggi.

Langkah ini juga perlu disempurnakan dengan kombinasi olahraga latihan kekuatan, istirahat yang cukup selama 6 hingga 8 jam setiap malam, serta pengelolaan stres yang baik agar program penurunan berat badan dapat berjalan secara efektif dan aman dalam jangka panjang. (swd)

(Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=jxUORjTG_go)

 

 

Tags:
Kesehatan Tubuh Diet Sehat Olahraga

Komentar Pengguna