Khazanah
Azzahra Esa Nabila

Seni Hidup Secukupnya di Tengah Dunia yang Selalu Menginginkan Lebih

Seni Hidup Secukupnya di Tengah Dunia yang Selalu Menginginkan Lebih

23 Juni 2026 | 23:33

Keboncinta.com-- Kita hidup di zaman yang sering mendorong manusia untuk terus menambah. Lebih banyak bekerja, lebih banyak membeli, lebih banyak pencapaian, lebih banyak pengalaman. Media sosial dipenuhi gambar liburan mewah, rumah yang semakin besar, dan target hidup yang tampaknya tidak ada habisnya. Di tengah arus tersebut, muncul pertanyaan sederhana: apakah hidup yang baik selalu berarti memiliki lebih banyak? Bagi masyarakat Swedia, jawabannya tidak selalu demikian. Mereka mengenal sebuah filosofi hidup bernama lagom, sebuah cara pandang yang mengajarkan bahwa yang terbaik sering kali berada di titik "secukupnya".

Lagom sulit diterjemahkan hanya dengan satu kata. Maknanya berada di antara terlalu sedikit dan terlalu banyak. Filosofi ini tidak mengajarkan hidup serba kekurangan, tetapi juga tidak mendorong berlebihan. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini terlihat dalam banyak hal. Mulai dari cara bekerja, mengelola waktu, mengonsumsi barang, hingga membangun hubungan sosial. Alih-alih mengejar segala sesuatu secara ekstrem, lagom mengajak seseorang mencari keseimbangan yang nyaman dan berkelanjutan. Menariknya, pendekatan ini lahir dari pemahaman bahwa kepuasan hidup tidak selalu bertambah seiring bertambahnya kepemilikan atau pencapaian.

Banyak orang mengira kebahagiaan akan datang ketika semua target berhasil dicapai. Namun kenyataannya, manusia sering beradaptasi dengan cepat terhadap apa yang sudah dimiliki. Barang baru yang awalnya terasa istimewa lama-kelamaan menjadi biasa. Pencapaian besar yang dulu diimpikan akhirnya digantikan oleh target berikutnya. Tanpa disadari, kita terjebak dalam siklus "kurang sedikit lagi". Di sinilah lagom menawarkan perspektif yang menarik. Filosofi ini mengajak manusia berhenti sejenak dan bertanya: apakah yang saya miliki saat ini sebenarnya sudah cukup? Bukan untuk membatasi mimpi, melainkan agar hidup tidak terus-menerus dikendalikan oleh rasa kurang. Dengan cara pandang ini, seseorang bisa menikmati proses tanpa harus selalu merasa tertinggal dari orang lain.

Di dunia yang bergerak semakin cepat, gagasan hidup secukupnya mungkin terdengar sederhana, bahkan kuno.

Tags:
Gen Z life Self Control Hidup Bersyukur

Komentar Pengguna