Istidraj dalam Karir: Waspada Saat Jabatan Naik Terus tapi Ibadah Makin Hancur

Istidraj dalam Karir: Waspada Saat Jabatan Naik Terus tapi Ibadah Makin Hancur

14 Februari 2026 | 11:53

keboncinta.com--  Dalam dunia profesional, kenaikan jabatan dan peningkatan gaji sering kali dianggap sebagai indikator mutlak dari keberkahan dan kesuksesan. Namun, dalam perspektif khazanah spiritual, ada sebuah fenomena yang jauh lebih sunyi sekaligus mengerikan yang disebut sebagai istidraj. Istidraj adalah kondisi di mana seseorang terus-menerus dilimpahi kenikmatan duniawi, materi, dan status sosial, padahal pada saat yang sama ia sedang tenggelam dalam kemaksiatan atau pengabaian terhadap perintah Sang Pencipta. Dalam konteks karir, ini bisa terlihat seperti tangga menuju langit: proyek selalu tembus, apresiasi atas mengalir deras, dan pengaruh semakin luas, namun ironisnya, sajadah justru semakin berdebu dan waktu untuk beribadah semakin terkikis habis karena alasan kesibukan.

Bahaya utama dari istidraj di lingkungan kerja adalah kemampuan untuk memahami logika dan nurani pelakunya. Ketika semua urusan kantor tampak berjalan mulus tanpa hambatan, ego manusia cenderung berbisik bahwa "Tuhan sedang meridai jalanku." Padahal, jika kemudahan-kemudahan tersebut datang beriringan dengan memudarnya kualitas shalat, hilangnya kejujuran dalam berbisnis, atau munculnya rasa sombong yang merasa paling hebat, maka keberhasilan itu bukanlah hadiah, melainkan sebuah ujian yang dibiarkan tanpa teguran. Ini adalah bentuk retensi tekanan yang halus, di mana seseorang dibiarkan merasa aman dalam kelalaiannya hingga tiba saatnya ia terjatuh dari ketinggian yang paling menyakitkan tanpa memiliki pegangan spiritual sedikit pun.

Mendeteksi istidraj membutuhkan kejujuran tingkat tinggi di depan cermin batinnya sendiri. Kita perlu bertanya secara kritis: apakah posisi baru ini membuat saya lebih rendah hati atau justru membuat saya merasa lebih meremehkan orang lain? Apakah harta yang bertambah membuat saya semakin dermawan atau justru membuat saya semakin takut kehilangan dunia? Jika kita mendapati diri kita semakin "sukses" di mata manusia namun semakin "bangkrut" secara ruhani, itulah alarm merah yang harus segera direspon. Kesuksesan tanpa akar spiritual yang kuat hanyalah fatamorgana; Ia tampak megah dari kedamaian, namun tidak akan pernah mampu memuaskan dahaga jiwa yang kedamaian dan ketenangan sejati.

Pada akhirnya, karir hanyalah salah satu instrumen pengabdian, bukan tujuan akhir yang dapat memenuhi seluruh hak Tuhan atas waktu kita. Untuk menghindari jebakan istidraj, setiap pencapaian harus dilakukan dengan peningkatan rasa syukur yang nyata, bukan sekadar kata-kata. Syukur yang nyata berarti menjadikan setiap kenaikan jabatan sebagai sarana untuk lebih banyak menebar manfaat dan memperbaiki kualitas hubungan dengan Sang Pemberi Rezeki. Jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk membangun istana megah di dunia, namun lupa bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali ke tempat di mana jabatan dan gelar tidak lagi memiliki nilai tukar. Waspadalah, jangan sampai kemilau karir justru menjadi tabir yang menghalangi cahaya hidayah dalam hati.

Tags:
Refleksi Diri Karier Spiritualitas Istidraj Islami

Komentar Pengguna