Kuliner
M. Fadhli Dzil Ikram

Jarang Diketahui! Kuliner Ini Dulu Hanya Disajikan untuk Sultan

Jarang Diketahui! Kuliner Ini Dulu Hanya Disajikan untuk Sultan

06 Mei 2026 | 14:55

keboncinta.com -- Indonesia punya banyak kuliner tradisional yang bukan cuma lezat, tetapi juga penuh sejarah dan filosofi. Menariknya, beberapa makanan yang sekarang bisa dinikmati masyarakat umum ternyata dahulu hanya disajikan untuk kalangan kerajaan, bangsawan, atau tamu kehormatan.

1. Ayam Betutu — Hidangan Sakral dari Bali

Ayam Betutu merupakan kuliner khas Bali yang terkenal dengan penggunaan rempah lengkap atau base genep. Ayam utuh dibumbui lalu dimasak perlahan hingga bumbunya meresap sempurna.

Pada masa kerajaan Bali, Ayam Betutu:

  • disajikan dalam jamuan kerajaan,
  • digunakan dalam upacara adat dan keagamaan,
  • menjadi simbol penghormatan bagi tamu penting.

Proses memasaknya yang lama melambangkan:

  • kesabaran,
  • ketelitian,
  • dan penghormatan terhadap tradisi.

Hingga sekarang, Ayam Betutu masih identik dengan acara besar dan perayaan adat di Bali.

2. Nasi Blawong — Kuliner Keraton Yogyakarta

Nasi Blawong adalah hidangan khas Keraton Yogyakarta yang dahulu hanya disantap Sultan dan keluarga kerajaan.

Ciri khasnya:

  • nasi putih,
  • kuah santan merah,
  • daging sapi atau kerbau,
  • aroma rempah yang kuat.

Warna merah pada kuah memiliki makna filosofis:

  • keberanian,
  • kekuatan,
  • dan kewibawaan.

Karena bahan dan rempahnya tergolong mewah pada zamannya, hidangan ini menjadi simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta.

Kini Nasi Blawong memang mulai bisa ditemukan di luar keraton, tetapi tetap tergolong kuliner langka dan eksklusif.

Baca juga : Perhatikan Apa yang Anda Makan: Makanan Ini Mengandung Gula yang Tinggi Tanpa Rasa Manis

3. Bebek Songkem — Simbol Penghormatan dari Madura

Bebek Songkem berasal dari Madura dan dimasak dengan cara unik:

  • dibumbui rempah,
  • dibungkus daun pisang,
  • lalu dikukus hingga empuk.

Kata songkem dalam budaya Madura berarti:

sikap hormat atau tunduk.

Dahulu makanan ini sering dihidangkan untuk:

  • bangsawan,
  • tokoh masyarakat,
  • tamu kehormatan.

Selain lezat, Bebek Songkem juga dianggap lebih sehat karena tidak digoreng, sehingga rasa alami daging dan rempah tetap terjaga.

4. Gulai Itiak Lado Mudo — Sajian Kaum Penghulu Minangkabau

Kuliner khas Sumatera Barat ini menggunakan:

  • daging bebek (itiak),
  • cabai hijau (lado mudo),
  • dan rempah khas Minang.

Rasanya pedas segar dengan aroma kuat yang khas.

Pada masa lalu, Gulai Itiak Lado Mudo:

  • sering hadir dalam acara adat,
  • disajikan kepada penghulu dan tokoh penting Minangkabau,
  • menjadi simbol kemakmuran dan kehormatan.

Karena menggunakan banyak rempah dan bahan berkualitas, hidangan ini dianggap mewah pada zamannya.

5. Kue Kipo — Kudapan Bangsawan Kotagede

Kue Kipo adalah jajanan tradisional khas Kotagede, Yogyakarta, yang sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Islam.

Kue mungil ini terbuat dari:

  • tepung ketan,
  • isian gula merah dan kelapa,
  • dipanggang di atas daun pisang.

Dahulu Kue Kipo dikenal sebagai kudapan favorit kalangan bangsawan dan lingkungan keraton.

Ciri khasnya:

  • ukuran kecil,
  • rasa legit,
  • aroma daun pisang yang harum.

Sampai sekarang, Kue Kipo masih dibuat dengan cara tradisional dan menjadi salah satu simbol warisan kuliner Kotagede.

Baca juga : Pentingnya Makanan bagi Kelangsungan Hidup Makhluk Hidup

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Meski dulu hanya bisa dinikmati raja dan bangsawan, makanan-makanan ini kini menjadi bagian penting dari identitas kuliner Indonesia. Tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang:

  • sejarah,
  • filosofi,
  • tradisi,
  • dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

Kuliner Nusantara memang bukan sekadar makanan, tetapi juga cerita panjang tentang perjalanan peradaban Indonesia.

Tags:
Makanan Sehat Makanan Sultan

Komentar Pengguna