Keboncinta.com — Kawasan Pulasaren di Kota Cirebon menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu pusat pergerakan ekonomi, pelayanan kesehatan, hingga ruang interaksi sosial masyarakat. Memori kolektif mengenai kejayaan kawasan ini diabadikan secara apik oleh pegiat budaya Tionghoa asal Cirebon, Jeremy Huang Wijaya, melalui ingatan sejarah sekaligus karya seni musik.
Menurut Jeremy, sepanjang era 1970 hingga 2000-an, Pulasaren dikenal sebagai pusat perdagangan yang amat hidup dan dinamis. Di kawasan bernilai historis yang menaungi Keraton Kacirebonan ini, berdiri berbagai fasilitas umum dan landmark penting yang pernah menjadi urat nadi kehidupan warga Cirebon.
"Pulasaren dulu sangat hidup. Di sana ada praktik dokter senior seperti Dr. John Petrus Gunawan tepat di depan Keraton Kacirebonan, serta Dr. Heliyani yang berada di samping Gedung Yakin. Ada pula Apotek Pulasaren, toko pakan ternak berskala besar, hingga Rumah Sakit Bersalin Panti Abdi Darma (PAD)," kenang Jeremy.
Tak hanya pelayanan publik dan perdagangan, Pulasaren juga menjadi surga kuliner dan pusat hiburan warga pada masanya. Dua bioskop legendaris, yaitu Bioskop Paradise dan Sridara, pernah menjadi pilihan utama rekreasi masyarakat. Saat sore tiba, deretan penjual jajanan seperti gorengan renyah hingga gado-gado ayam khas Pulasaren selalu ramai disinggahi pembeli.
salah satu bangunan yang memiliki ikatan emosional kuat bagi masyarakat—termasuk bagi Jeremy sendiri—adalah Gedung Yakin. Sepanjang tahun 1970 hingga 2010, gedung tersebut menjadi pusat perhelatan pesta pernikahan, perayaan Natal sekolah BPK Penabur Cirebon, hingga tempat pertemuan penting.
Gedung Yakin juga mencatatkan sejarah literasi ketika dijadikan lokasi Pameran Buku Se-Indonesia pada tahun 1986 dan 1987. Acara yang diinisiasi oleh GKI Pengampon Cirebon di bawah koordinasi Permadi Budiatma, Feilin Fajar Iskandar, dan Hudyanto Luwiska tersebut diikuti oleh puluhan penerbit nasional. Secara personal, Gedung Yakin juga menjadi saksi bisu momen sakral pernikahan Jeremy Huang pada 20 Januari 2007 silam.
Kisah Asmara Mellow di Balik Lagu "Pulasaren Teringat Petikan Gitarmu"
Kehangatan kenangan di Pulasaren menginspirasi Jeremy menciptakan sebuah karya musik sentimental berjudul "Pulasaren Teringat Petikan Gitarmu". Lagu ini mengisahkan romantisme masa SMA antara seorang pria dengan teman sekolahnya yang tinggal di kawasan Pulasaren. Momen saat keduanya bernyanyi bersama di tengah gerimis hujan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.
Namun, kisah manis tersebut berujung duka ketika restu orang tua sang gadis tidak didapatkan. Perpisahan tersebut meremukkan hati sang pria. Bahkan setelah 40 tahun berlalu, sang gadis tidak pernah lagi bersua. Lewat lirik lagu ini, sang pria memanjatkan doa agar sebelum akhir hayatnya, ia dapat kembali bertemu untuk menyampaikan permohonan maaf serta melihat mantannya hidup bahagia.
Berikut adalah petikan syair lagu "Pulasaren Teringat Petikan Gitarmu" karya Jeremy Huang Wijaya:
Pulasaren Cirebon,
Kenangan indah yang tidak akan terlupakan.
Di saat gerimis hujan,
Kau petik gitarmu, melantunkan lagu cinta.
40 tahun berlalu,
Kenangan indah waktu SMA tidak akan terlupakan.
Terima kasih kau jadi bagian terindah dalam hidupku.
Maafkan aku jika bersalah pada dirimu.
Meski kita tidak bersatu,
Jangan membenci diriku.
Ku doakan kau bahagia selalu,
Ku kenang hingga akhir hidup.
Diundang Jadi Pembicara Bedah Sejarah di PonPes Buntet
Dikenal luas atas kepeduliannya terhadap rekam jejak sejarah lokal, kiprah Jeremy Huang Wijaya terus mendapat apresiasi dari berbagai kalangan cross-cultural di Cirebon. Teranyar, Jeremy secara resmi diundang oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet Pesantren Cirebon, KH. M. Faris Al Haq.
Pihak Buntet Pesantren meminta Jeremy hadir sebagai salah satu narasumber utama dalam forum "Bedah Sejarah Desa Mertapada / Syekh Arifin".