Keboncinta.com-- Kebiasaan tidur anak sering dianggap sebagai sesuatu yang akan terbentuk dengan sendirinya. Padahal, waktu tidur yang terlalu larut atau jadwal istirahat yang tidak konsisten dapat berpengaruh terhadap kondisi anak saat menjalani aktivitas sehari-hari.
Tidur yang berkualitas bukan sekadar membuat anak merasa segar ketika bangun. Waktu istirahat yang cukup juga berperan dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan, konsentrasi, serta kestabilan emosi dan suasana hati anak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan berapa lama anak tidur, tetapi juga memastikan waktu tidur dan bangunnya berlangsung secara teratur. Konsistensi jadwal menjadi salah satu bagian penting dalam membangun pola tidur yang sehat.
Lantas, berapa lama kebutuhan tidur anak berdasarkan kelompok usianya? Dan bagaimana cara membentuk kebiasaan tidur yang teratur di rumah?
Baca Juga: Kemenag Gelar Pelatihan Tartil Al-Qur’an untuk 6.600 Guru PAI Mulai 7 September 2026
Tidur merupakan bagian dari kebutuhan dasar anak yang tidak boleh diabaikan. Ketika anak beristirahat, tubuh tetap menjalankan berbagai proses penting yang berkaitan dengan pemulihan dan perkembangan.
Salah satunya berkaitan dengan pelepasan hormon pertumbuhan yang mendukung proses tumbuh kembang. Oleh karena itu, memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup dan berkualitas menjadi hal penting, terutama pada masa pertumbuhan.
Sebaliknya, kebiasaan tidur terlalu malam atau jadwal istirahat yang sering berubah dapat menyebabkan kebutuhan tidur anak tidak terpenuhi.
Jika berlangsung secara terus-menerus, kurang tidur dapat membuat anak lebih mudah lelah, mengantuk pada siang hari, sulit berkonsentrasi, hingga mengalami perubahan suasana hati dan perilaku.
Membiasakan anak memiliki jadwal tidur yang baik sejak dini juga dapat menjadi bagian dari penerapan pola hidup sehat dalam keluarga.
Baca Juga: PPG Daljab 2026 Segera Digelar, Kemenag Fokus Tingkatkan Kompetensi dan Kelulusan Guru
Kebutuhan waktu tidur setiap anak tidak selalu sama. Usia menjadi salah satu faktor utama yang menentukan berapa lama anak membutuhkan waktu istirahat dalam sehari.
Sebagai gambaran, berikut kebutuhan tidur anak dalam periode 24 jam:
| Usia Anak | Kebutuhan Tidur per 24 Jam |
|---|---|
| 0–3 bulan | 14–17 jam |
| 4–11 bulan | 12–16 jam |
| 1–3 tahun | 11–14 jam |
| 3–6 tahun | 10–13 jam |
| 7 tahun ke atas | 9–11 jam |
Jumlah tersebut merupakan total waktu tidur dalam sehari. Pada kelompok usia tertentu, kebutuhan tidur dapat terbagi antara tidur malam dan tidur siang.
Dengan memahami kebutuhan tidur berdasarkan usia, orang tua dapat lebih mudah menyusun jadwal istirahat yang sesuai dengan aktivitas dan kebutuhan anak.
Membiarkan anak tidur larut malam sebaiknya tidak menjadi kebiasaan. Anak membutuhkan pola istirahat yang teratur agar ritme hariannya dapat berjalan dengan lebih baik.
Menentukan jadwal tidur juga tidak cukup hanya dengan menetapkan satu jam tertentu. Orang tua perlu mempertimbangkan usia anak, total waktu tidur yang dibutuhkan, serta waktu anak harus bangun pada pagi hari.
Pada anak usia dini, rutinitas sebelum tidur dapat diperkenalkan secara bertahap. Ketika waktu istirahat semakin dekat, aktivitas yang membuat anak terlalu aktif atau bersemangat sebaiknya mulai dikurangi.
Orang tua juga dapat membuat rangkaian kegiatan sederhana yang dilakukan setiap malam. Misalnya, membersihkan diri, mengganti pakaian, membaca buku, atau melakukan aktivitas tenang lainnya.
Jika dilakukan secara konsisten, rutinitas tersebut dapat menjadi sinyal bagi anak bahwa waktu tidur sudah semakin dekat.
Baca Juga: PPG Dalam Jabatan 2026 Segera Berlangsung, Kemenag Targetkan Kelulusan Meningkat
Kekurangan waktu tidur dapat terlihat melalui perubahan kondisi anak dalam menjalani kegiatan sehari-hari.
Anak yang kurang tidur dapat menjadi lebih cepat lelah, mengantuk pada siang hari, kesulitan mempertahankan konsentrasi, lebih mudah rewel, atau mengalami perubahan suasana hati.
Kondisi tersebut tentu dapat berpengaruh terhadap berbagai aktivitas, termasuk bermain, belajar, maupun berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Apabila gangguan pola tidur berlangsung dalam waktu lama, rutinitas harian anak juga berpotensi ikut terganggu. Waktu makan, aktivitas fisik, belajar, hingga waktu bersama keluarga dapat menjadi kurang teratur.
Karena itu, tidur perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari pola hidup sehat anak, berdampingan dengan makanan bergizi dan aktivitas fisik yang sesuai dengan usianya.
Kebiasaan tidur anak juga dapat berdampak pada kondisi orang tua. Ketika anak terbiasa tidur larut, sulit terlelap, atau sering terbangun pada malam hari, waktu istirahat orang tua dapat ikut berkurang.
Jika situasi tersebut terjadi berulang kali, orang tua bisa merasa lebih lelah ketika menjalankan aktivitas pada keesokan harinya.
Kurangnya waktu istirahat juga dapat memengaruhi kondisi fisik dan suasana hati. Oleh sebab itu, membangun pola tidur anak yang teratur bukan hanya memberikan manfaat bagi anak, tetapi juga membantu menjaga kualitas istirahat seluruh anggota keluarga.
Baca Juga: Guru PAI Wajib Tahu! Lulus Pelatihan Tartil Kemenag Bisa Dapat Keuntungan Ini di PPKB
Membentuk kebiasaan tidur yang baik tidak harus dilakukan secara tiba-tiba. Orang tua dapat melakukan perubahan secara perlahan dengan menciptakan rutinitas yang sederhana dan mudah diterapkan setiap hari.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menetapkan waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari. Kamar tidur juga perlu dibuat senyaman mungkin agar anak lebih mudah memasuki waktu istirahat.
Menjelang tidur, berbagai kegiatan yang terlalu merangsang anak sebaiknya dikurangi. Sebagai gantinya, orang tua dapat mengajak anak melakukan aktivitas yang lebih tenang.
Rutinitas sebelum tidur juga tidak perlu dibuat rumit.