Berita
Hilmi An Naufal

Pemerintah Targetkan Setiap Sekolah Punya 6 Smart Board pada Akhir 2027, Tahun Depan Ditambah 2 Unit

Pemerintah Targetkan Setiap Sekolah Punya 6 Smart Board pada Akhir 2027, Tahun Depan Ditambah 2 Unit

05 September 2026 | 07:03

KEBONCINTA.COM – Program digitalisasi pembelajaran di sekolah akan kembali diperluas pada 2027. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengungkapkan pemerintah menargetkan setiap satuan pendidikan mempunyai total enam Interactive Flat Panel atau IFP pada akhir 2027.

Perangkat IFP lebih dikenal masyarakat sebagai papan interaktif digital atau smart board.

Pemerintah berencana memberikan tambahan dua perangkat pada 2027 sebagai kelanjutan program distribusi yang telah berjalan sebelumnya.

Target tersebut disampaikan Abdul Mu'ti dalam Rapat Koordinasi Daerah Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran di Jakarta pada Jumat, 4 September 2026.

Rakor berlangsung pada 3 hingga 5 September dan melibatkan kepala dinas pendidikan dari berbagai kabupaten dan kota di Indonesia.

Mu'ti mengatakan digitalisasi pendidikan tidak berhenti setelah sekolah memperoleh perangkat pertama.

Pemerintah ingin jumlah papan interaktif yang tersedia semakin banyak sehingga penggunaannya tidak terbatas pada satu ruang atau kelompok siswa.

Target akhirnya adalah setiap satuan pendidikan memiliki enam perangkat pada penghujung 2027.

Dengan lebih banyak IFP, sekolah mempunyai ruang lebih besar mengintegrasikan teknologi ke dalam kegiatan belajar.

Guru dapat menampilkan materi berupa gambar, video, simulasi dan sumber pembelajaran digital langsung melalui layar berukuran besar.

Perangkat juga memiliki fungsi interaktif sehingga pengguna dapat menulis maupun mengoperasikan materi melalui layar.

Namun Kemendikdasmen menegaskan pembagian smart board bukan program yang hanya mengejar jumlah perangkat.

Teknologi harus memiliki hubungan langsung dengan peningkatan mutu pembelajaran.

Mu'ti mengaitkan penggunaan IFP dengan kebijakan pembelajaran mendalam atau deep learning.

Dalam konteks pendidikan, pembelajaran mendalam bukan sekadar penggunaan teknologi kecerdasan buatan.

Pendekatan tersebut diarahkan agar siswa memahami konsep secara lebih bermakna, mampu menghubungkan materi dan aktif dalam proses belajar.

IFP diharapkan menjadi alat bantu guru untuk mencapai tujuan tersebut.

Misalnya guru dapat menggunakan simulasi untuk menjelaskan materi yang sulit divisualisasikan melalui papan tulis biasa.

Video dapat membantu siswa melihat suatu proses secara lebih konkret.

Sumber pembelajaran juga dapat diakses lebih cepat ketika perangkat terhubung dengan internet.

Namun keberadaan smart board tidak otomatis membuat pembelajaran lebih baik.

Guru tetap menjadi faktor utama.

Perangkat hanya memberikan manfaat apabila pendidik memahami bagaimana menggunakannya untuk mendukung kegiatan belajar.

Jika smart board hanya digunakan untuk menampilkan file yang sebelumnya ditulis di papan biasa, manfaat teknologi belum sepenuhnya dimaksimalkan.

Karena itu, digitalisasi membutuhkan peningkatan kompetensi guru secara bersamaan.

Tenaga pendidik perlu memahami pengoperasian perangkat, pemilihan konten serta cara merancang aktivitas yang membuat siswa terlibat.

Kemendikdasmen telah menjalankan berbagai program pelatihan untuk mendukung penggunaan teknologi di sekolah.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pelatihan dapat menjangkau satuan pendidikan dengan kondisi yang berbeda-beda.

Sekolah di perkotaan mungkin telah terbiasa menggunakan internet cepat dan perangkat digital.

Situasinya berbeda bagi sekolah di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar.

Di beberapa lokasi, masalah paling mendasar masih berupa pasokan listrik dan jaringan internet.

Kemendikdasmen sebelumnya mencatat ratusan ribu satuan pendidikan membutuhkan dukungan kelistrikan untuk mendukung digitalisasi.

Sebagian belum mempunyai sambungan listrik memadai dan sebagian lainnya membutuhkan penambahan daya.

Kondisi tersebut membuat distribusi IFP perlu berjalan bersama peningkatan infrastruktur.

Jangan sampai perangkat telah berada di ruang kelas tetapi tidak dapat digunakan karena kapasitas listrik tidak mencukupi.

Kementerian ESDM dan PLN telah dilibatkan untuk memetakan kebutuhan penyambungan baru maupun penambahan daya.

Bagi sekolah yang tidak terjangkau jaringan PLN, alternatif seperti sistem tenaga surya dan solusi off-grid juga menjadi bagian yang pernah dibahas pemerintah.

Penambahan jumlah IFP juga berpotensi meningkatkan tagihan listrik.

Mu'ti mengakui konsekuensi operasional tersebut.

Pemerintah telah membuka kemungkinan penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah untuk membantu membayar tambahan kebutuhan listrik akibat penggunaan perangkat digital sesuai aturan.

Kepala sekolah karena itu perlu menyusun perencanaan anggaran dengan baik.

Digitalisasi tidak hanya membutuhkan biaya ketika perangkat dibeli.

Sekolah juga perlu memperhitungkan listrik, jaringan internet, pemeliharaan dan pengamanan perangkat.

Pemerintah sebelumnya telah mendistribusikan sekitar 288 ribu unit IFP dalam program digitalisasi pembelajaran.

Distribusi dilakukan ke sekolah dan satuan pendidikan di berbagai wilayah.

Pada tahap berikutnya, jumlah perangkat per sekolah akan terus ditambah menuju target enam unit pada akhir 2027.

Besarnya program membuat tata kelola aset menjadi penting.

Setiap perangkat yang diterima sekolah harus tercatat dan digunakan untuk tujuan pembelajaran.

Sekolah juga perlu mempunyai prosedur pemeliharaan agar perangkat dapat digunakan dalam waktu panjang.

Jika terjadi kerusakan ringan, sekolah membutuhkan mekanisme penanganan.

Sementara kerusakan besar harus dikoordinasikan berdasarkan ketentuan garansi atau pengelolaan aset yang berlaku.

Keamanan juga perlu diperhatikan karena perangkat mempunyai nilai yang relatif tinggi.

Sekolah perlu memastikan ruang penyimpanan dan ruang kelas mempunyai sistem pengamanan yang memadai.

Namun aspek yang jauh lebih penting adalah tingkat pemanfaatannya.

Pemerintah harus dapat mengevaluasi apakah perangkat benar-benar digunakan secara rutin.

Data mengenai jumlah IFP yang telah dibagikan belum cukup untuk mengukur keberhasilan digitalisasi.

Indikator yang lebih bermakna adalah perubahan kualitas pembelajaran.

Apakah siswa menjadi lebih aktif?

Apakah guru mempunyai lebih banyak pilihan dalam menjelaskan materi?

Apakah teknologi membantu siswa memahami konsep yang sebelumnya sulit?

Pertanyaan tersebut akan menentukan apakah investasi besar dalam digitalisasi menghasilkan manfaat yang sepadan.

Smart board juga seharusnya tidak membuat guru terlalu bergantung kepada internet.

Sekolah perlu mempunyai bahan pembelajaran yang dapat digunakan dalam kondisi jaringan tidak stabil.

Materi offline dapat disimpan dan tetap ditampilkan melalui IFP.

Pendekatan tersebut sangat relevan bagi daerah dengan koneksi internet yang kadang terputus.

Pemerintah juga perlu memastikan materi digital yang digunakan aman dan sesuai usia peserta didik.

Kemudahan membuka internet melalui layar kelas membutuhkan literasi digital dari guru.

Sumber informasi harus diperiksa sebelum digunakan dalam pembelajaran.

Hak cipta, keamanan akun dan perlindungan data siswa ikut menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Program digitalisasi memang mempunyai potensi besar untuk memperkecil kesenjangan sumber belajar.

Siswa di daerah dapat melihat materi yang sama dengan siswa di kota apabila perangkat dan akses pendukung tersedia.

Namun teknologi tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan sendirian.

Ketersediaan guru, kualitas pembelajaran, kondisi sekolah dan lingkungan belajar tetap menentukan.

Karena itu, pemerintah menjalankan program digitalisasi bersama revitalisasi fisik sekolah.

Pada 2027, revitalisasi ditargetkan menjangkau sekitar 100 ribu satuan pendidikan.

Di saat yang sama, jumlah IFP juga akan kembali ditambah.

Pendekatan tersebut menunjukkan modernisasi pendidikan dilakukan melalui dua sisi, yakni perbaikan fasilitas dasar dan perluasan teknologi.

Bagi sekolah, target enam smart board pada akhir 2027 dapat memberikan lebih banyak kesempatan menggunakan perangkat secara bergantian di beberapa kelas.

Namun manfaat sebenarnya baru akan terlihat apabila perangkat benar-benar menjadi bagian dari aktivitas belajar sehari-hari.

Kemendikdasmen menegaskan digitalisasi bukan untuk sekadar membuat sekolah terlihat modern.

Teknologi harus berujung pada peningkatan kualitas belajar siswa.

Karena itu, penambahan dua IFP pada 2027 akan diikuti tantangan besar untuk memastikan guru siap, listrik tersedia dan perangkat dimanfaatkan secara optimal.

Jika seluruh unsur tersebut dapat berjalan bersama, smart board berpotensi menjadi sarana yang memperluas akses sumber pembelajaran dan membuat proses belajar semakin interaktif.

Target enam unit per sekolah kini menjadi salah satu agenda digitalisasi pendidikan yang akan dikejar pemerintah hingga akhir 2027.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna