Berita
Hilmi An Naufal

46 Ribu Anak di Cianjur Tak Sekolah, Pemkab Siapkan Pendidikan Gratis dan Dorong Mereka Kembali Belajar

46 Ribu Anak di Cianjur Tak Sekolah, Pemkab Siapkan Pendidikan Gratis dan Dorong Mereka Kembali Belajar

05 September 2026 | 06:30

KEBONCINTA.COM – Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menghadapi pekerjaan besar dalam meningkatkan akses pendidikan. Sekitar 46 ribu anak usia sekolah di daerah tersebut tercatat tidak lagi menjalani pendidikan karena berbagai persoalan.

Faktor ekonomi disebut menjadi salah satu penyebab terbesar.

Pemerintah daerah kini mendorong anak-anak tersebut kembali memasuki sistem pendidikan melalui sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan.

Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian mengatakan anak yang masih masuk kelompok usia wajib belajar akan diarahkan kembali ke sekolah formal.

Pemkab berupaya menempatkan mereka pada satuan pendidikan yang lokasinya berada sedekat mungkin dengan tempat tinggal.

Langkah tersebut dilakukan agar jarak sekolah tidak menjadi hambatan tambahan bagi keluarga.

Program juga tidak hanya menyasar anak yang sama sekali belum pernah bersekolah.

Peserta didik yang sebelumnya pernah menempuh pendidikan tetapi kemudian berhenti di tengah jalan juga menjadi kelompok sasaran.

Pemerintah akan berusaha membawa mereka kembali ke sekolah sesuai usia dan kondisi pendidikan masing-masing.

Bagi masyarakat yang telah melewati usia wajib belajar, jalur pendidikan kesetaraan menjadi alternatif.

Mereka dapat diarahkan mengikuti program pada pusat kegiatan belajar masyarakat atau layanan pendidikan nonformal lainnya yang tersedia.

Pemkab menegaskan usia tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan kesempatan meningkatkan pendidikan.

Pendekatan tersebut diperlukan karena persoalan Anak Tidak Sekolah atau ATS mempunyai karakter yang berbeda-beda.

Sebagian anak berhenti karena keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada pula yang harus membantu orang tua bekerja.

Jarak menuju sekolah, persoalan sosial maupun kondisi keluarga juga dapat berpengaruh.

Karena itu, satu solusi belum tentu dapat digunakan untuk seluruh anak.

Pendataan menjadi tahap pertama yang sangat penting.

Pemkab Cianjur akan melibatkan aparatur desa dan kecamatan untuk memastikan data anak tidak sekolah sesuai kondisi sebenarnya.

Pendekatan dari tingkat desa dianggap lebih efektif karena aparat lokal lebih dekat dengan keluarga.

Mereka dapat mengetahui apakah seorang anak benar-benar tidak sekolah, pindah ke daerah lain atau sebenarnya telah mengikuti pendidikan melalui jalur berbeda.

Data yang akurat kemudian digunakan untuk menentukan bentuk intervensi.

Anak yang masih usia sekolah formal dapat dipertemukan dengan satuan pendidikan.

Mereka yang membutuhkan pendidikan kesetaraan diarahkan ke lembaga yang sesuai.

Sementara keluarga dengan kendala ekonomi dapat diperiksa apakah memenuhi syarat untuk menerima program bantuan.

Pemkab Cianjur menyatakan mempunyai komitmen memberikan pendidikan gratis dalam lingkup program yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

Kebijakan tersebut diharapkan mengurangi hambatan ekonomi yang membuat sebagian anak meninggalkan pendidikan.

Namun pendidikan gratis tidak selalu berarti seluruh persoalan selesai.

Keluarga tetap menghadapi kebutuhan lain seperti transportasi, seragam, perlengkapan belajar dan biaya kehidupan sehari-hari.

Pada beberapa keluarga, persoalan terbesar justru muncul ketika anak harus memilih antara belajar atau membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Karena itu, kebijakan pendidikan perlu berjalan bersama program bantuan sosial dan pemberdayaan ekonomi.

Beasiswa menjadi salah satu instrumen yang juga disiapkan pemerintah daerah.

Siswa tidak mampu maupun peserta didik berprestasi masuk dalam kelompok yang dapat memperoleh dukungan sesuai program dan persyaratan yang berlaku.

Beberapa hari sebelumnya, Pemkab Cianjur juga menyalurkan beasiswa kepada ribuan peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan.

Namun angka sekitar 46 ribu ATS menunjukkan tantangan yang jauh lebih besar.

Pemerintah harus menemukan satu per satu anak yang sudah berada di luar sistem pendidikan.

Berbeda dengan siswa aktif yang datanya tercatat di sekolah, anak yang telah lama putus pendidikan dapat lebih sulit dideteksi.

Sebagian mungkin telah bekerja.

Ada pula yang berpindah tempat tinggal atau mengalami perubahan kondisi keluarga.

Itulah sebabnya pelibatan pemerintah desa menjadi penting.

Sekolah juga dapat membantu memberikan informasi mengenai siswa yang sebelumnya berhenti belajar.

Data tersebut kemudian dapat dicocokkan dengan data kependudukan.

Upaya mengembalikan anak ke sekolah juga harus memperhatikan alasan mereka berhenti sebelumnya.

Jika penyebab utama tidak diselesaikan, terdapat risiko anak kembali meninggalkan pendidikan setelah beberapa bulan.

Misalnya ketika persoalannya adalah jarak.

Menempatkan anak pada sekolah yang lebih dekat dapat menjadi solusi.

Jika masalah utamanya ekonomi, keluarga membutuhkan akses kepada program bantuan yang tepat.

Apabila seorang anak harus bekerja, jalur pendidikan yang lebih fleksibel mungkin diperlukan.

Pendidikan kesetaraan mempunyai peranan penting dalam kondisi tersebut.

Program seperti Paket A, Paket B dan Paket C memberikan kesempatan kepada masyarakat memperoleh pendidikan setara SD, SMP dan SMA melalui jalur nonformal sesuai ketentuan.

Layanan tersebut juga dapat menjangkau masyarakat yang karena usia maupun kondisi kehidupan sulit kembali mengikuti pola sekolah reguler.

Kemendikdasmen dalam kebijakan nasional juga terus mendorong perluasan pendidikan fleksibel.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah Pendidikan Jarak Jauh untuk menjangkau anak yang sulit memperoleh akses sekolah formal.

Daerah dengan keterbatasan geografis maupun kelompok anak yang mempunyai hambatan tertentu dapat memanfaatkan bentuk pendidikan yang lebih adaptif.

Namun koneksi antara data pemerintah pusat dengan kondisi di daerah menjadi sangat penting.

Pemkab mengetahui kondisi warganya, sementara pemerintah pusat memiliki berbagai program dan sistem pendidikan yang dapat digunakan sebagai dukungan.

Jika keduanya terintegrasi, penanganan anak tidak sekolah dapat lebih efektif.

Angka ATS juga berkaitan dengan indikator pembangunan daerah.

Semakin banyak warga menyelesaikan pendidikan, rata-rata lama sekolah dapat meningkat.

Peningkatan pendidikan kemudian mempunyai hubungan dengan peluang kerja, produktivitas dan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, persoalan puluhan ribu anak tidak sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab dinas pendidikan.

Dampaknya dapat memengaruhi pembangunan Cianjur dalam jangka panjang.

Seorang anak yang meninggalkan pendidikan terlalu dini memiliki pilihan pekerjaan yang semakin terbatas ketika dewasa.

Risiko terjebak dalam pekerjaan berpendapatan rendah juga dapat meningkat.

Pada akhirnya persoalan ekonomi yang menjadi penyebab putus sekolah dapat berulang pada generasi berikutnya.

Memutus lingkaran tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah perlu melakukan intervensi.

Pendidikan membuka lebih banyak kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan.

Namun pemerintah juga harus memastikan sekolah yang menjadi tujuan mempunyai kapasitas menerima mereka.

Jika puluhan ribu anak dikembalikan secara bertahap, kebutuhan ruang belajar, guru dan fasilitas ikut meningkat.

Pemetaan harus dilakukan agar satuan pendidikan tidak mengalami kelebihan siswa yang justru menurunkan kualitas pembelajaran.

Sekolah swasta dan lembaga pendidikan nonformal juga dapat mempunyai peranan dalam memperluas daya tampung sesuai kebijakan pemerintah.

Kolaborasi berbagai jenis satuan pendidikan dapat memberikan lebih banyak pilihan kepada keluarga.

Pemkab Cianjur menargetkan pemerataan pendidikan berlangsung dari wilayah utara hingga selatan.

Hal tersebut penting karena karakter geografis kabupaten cukup beragam.

Sekolah yang mudah dijangkau di kawasan perkotaan belum tentu mempunyai akses yang sama dengan satuan pendidikan di daerah yang lebih jauh.

Fasilitas transportasi dan jarak perlu menjadi bagian dari perencanaan.

Pemerintah juga membutuhkan komunikasi dengan orang tua.

Sebagian keluarga mungkin belum memahami alternatif pendidikan yang tersedia setelah anak putus sekolah.

Pendataan dari desa dapat sekaligus digunakan untuk memberikan informasi.

Orang tua dapat memperoleh penjelasan mengenai sekolah terdekat, pendidikan kesetaraan serta kemungkinan bantuan pendidikan.

Pendekatan persuasif jauh lebih efektif daripada sekadar mencatat angka.

Tujuannya adalah membuat keluarga melihat manfaat ketika anak kembali menjalani pendidikan.

Bupati Cianjur menegaskan pemerintah ingin mempercepat pemerataan pendidikan dan mendorong warga memperoleh layanan tanpa melihat usia.

Anak usia wajib belajar diarahkan ke sekolah formal.

Sementara warga yang usianya sudah melewati kategori tersebut tetap diberikan jalur melalui pendidikan kesetaraan.

Dengan sekitar 46 ribu anak masih berada di luar sekolah, langkah tersebut membutuhkan proses yang tidak singkat.

Namun kebijakan pendidikan gratis, pendataan hingga tingkat desa, beasiswa dan jalur pendidikan kesetaraan menjadi beberapa instrumen yang kini dipersiapkan.

Keberhasilannya nantinya tidak hanya terlihat dari berapa anak yang berhasil didaftarkan kembali.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah mereka dapat bertahan, belajar hingga menyelesaikan pendidikan dan memperoleh kesempatan yang lebih baik pada masa depan.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna