Berita
Hilmi An Naufal

1.931 Sekolah dan 171.476 Murid NTT Kembali Belajar, 1.504 Sekolah Masih Gunakan Fasilitas Darurat

1.931 Sekolah dan 171.476 Murid NTT Kembali Belajar, 1.504 Sekolah Masih Gunakan Fasilitas Darurat

04 September 2026 | 23:20

KEBONCINTA.COM – Tiga pekan setelah gempa bumi mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur, layanan pendidikan perlahan mulai kembali berjalan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sebanyak 1.931 satuan pendidikan dengan total 171.476 peserta didik telah kembali melaksanakan kegiatan belajar.

Meski demikian, sebagian besar sekolah belum dapat kembali menjalankan pembelajaran dalam kondisi normal.

Dari 1.931 satuan pendidikan tersebut, sebanyak 1.504 masih melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan fasilitas atau sekolah darurat.

Sebanyak 392 satuan pendidikan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ.

Sementara baru 35 satuan pendidikan yang telah kembali menjalankan pembelajaran tatap muka.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengatakan proses pemulihan layanan pendidikan menunjukkan perkembangan positif.

Pemerintah berupaya memastikan anak-anak di daerah terdampak tidak kehilangan akses pendidikan terlalu lama setelah bencana.

Namun keselamatan tetap menjadi prioritas.

Bangunan yang mengalami kerusakan tidak boleh digunakan kembali sebelum dinyatakan aman.

Gempa menyebabkan kerusakan pada banyak fasilitas pendidikan di sejumlah kabupaten di NTT.

Sebagian siswa harus belajar menggunakan tenda.

Ada pula peserta didik yang menjalani pembelajaran di ruang sementara maupun menggunakan sistem PJJ.

Kemendikdasmen telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat hingga 3 September 2026.

Sebanyak delapan tenda dikirim ke Kabupaten Manggarai Barat.

Kemudian 28 tenda disalurkan ke Kabupaten Manggarai dan 27 tenda ke Manggarai Timur.

Kabupaten Nagekeo menerima 17 tenda.

Ngada memperoleh tujuh tenda, Sikka delapan tenda dan Ende lima tenda.

Tenda tersebut menjadi ruang belajar sementara agar siswa tidak harus menggunakan gedung yang mengalami kerusakan struktural.

Namun kebutuhan ruang kelas darurat masih jauh lebih besar.

Kemendikdasmen memperkirakan kebutuhan mencapai 3.763 ruang kelas darurat.

Artinya, penyediaan fasilitas masih harus terus dilakukan agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lebih layak.

Selain tenda, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan kebutuhan siswa dan warga sekolah.

Sebanyak 5.500 school kit telah didistribusikan.

Pemerintah turut menyalurkan 500 paket sembako, 9.500 bingkisan anak, 1.500 family kit dan 9.500 buku bacaan.

Bantuan tersebut disalurkan ke wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka.

Pemerintah juga telah memberikan bantuan awal senilai Rp1,1 miliar untuk membantu pembersihan lokasi sekolah dengan kerusakan berat.

Selain itu, santunan senilai Rp47 juta disalurkan kepada murid dan guru yang meninggal dunia maupun mengalami cedera akibat gempa.

Pemulihan pendidikan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik.

Kondisi psikologis siswa dan guru juga mendapatkan perhatian.

Bencana dapat meninggalkan rasa takut, terutama ketika peserta didik mengalami langsung guncangan, kerusakan rumah maupun kehilangan orang terdekat.

Karena itu, Kemendikdasmen berencana memberikan pendampingan psikososial kepada 822 sekolah.

Program tersebut diharapkan membantu warga sekolah mendapatkan kembali rasa aman sebelum proses pembelajaran berjalan sepenuhnya seperti biasa.

Bagi anak-anak, kembali datang ke lingkungan pendidikan mempunyai arti penting.

Rutinitas belajar dapat membantu mereka perlahan kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

Namun sekolah juga harus menghindari tekanan akademik berlebihan pada masa pemulihan.

Guru perlu memahami bahwa kemampuan konsentrasi peserta didik setelah bencana dapat berbeda.

Sebagian siswa mungkin masih tinggal di lokasi pengungsian.

Ada pula keluarga yang sedang memperbaiki rumah atau menghadapi berbagai persoalan pascabencana.

Pembelajaran karena itu harus disesuaikan dengan situasi.

Selain ruang kelas, sanitasi menjadi salah satu persoalan yang ditangani pemerintah.

Kemendikdasmen merencanakan perbaikan darurat terhadap 2.294 unit toilet.

Fasilitas sanitasi yang layak menjadi sangat penting karena sekolah darurat dapat menampung banyak siswa dalam satu lokasi.

Apabila air bersih dan toilet tidak tersedia dengan baik, risiko munculnya persoalan kesehatan dapat meningkat.

Pemerintah juga akan melakukan asesmen teknis terhadap bangunan sekolah.

Pemeriksaan dibutuhkan untuk menentukan apakah sebuah gedung masih aman digunakan, memerlukan rehabilitasi atau harus dibangun kembali.

Keputusan tersebut tidak dapat hanya berdasarkan pengamatan visual.

Bangunan mungkin terlihat masih berdiri, tetapi struktur tertentu dapat mengalami kerusakan yang membahayakan ketika terjadi gempa susulan.

Karena itu, pemerintah meminta sekolah menunggu hasil pemeriksaan sebelum kembali menggunakan ruangan yang diragukan keamanannya.

Kebutuhan revitalisasi sekolah juga terus didata.

Sekolah yang mengalami kerusakan berat akan dipetakan agar penanganan jangka panjang dapat disiapkan.

Ruang kelas darurat pada dasarnya hanya merupakan solusi sementara.

Tujuan akhirnya adalah mengembalikan siswa ke bangunan sekolah permanen yang aman dan memenuhi standar.

Tantangan pemulihan cukup besar karena jumlah sekolah terdampak tersebar di beberapa kabupaten.

Distribusi material dan fasilitas juga dipengaruhi kondisi geografis.

Sebagian lokasi membutuhkan perjalanan yang lebih panjang dibandingkan wilayah perkotaan.

Koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, masyarakat serta berbagai lembaga kemanusiaan menjadi sangat penting.

Sejumlah organisasi seperti PMI juga telah membantu menyediakan tenda belajar di sekolah yang membutuhkan.

Gotong royong tersebut mempercepat kembalinya aktivitas pendidikan.

Bagi siswa, keberadaan tenda mungkin belum memberikan kenyamanan yang sama seperti ruang kelas.

Cuaca panas, hujan dan keterbatasan fasilitas menjadi tantangan.

Namun ruang darurat memungkinkan mereka tetap bertemu guru dan teman-teman sambil menunggu pembangunan atau rehabilitasi selesai.

Data 1.931 sekolah yang telah kembali belajar menunjukkan proses pemulihan mulai bergerak.

Namun fakta bahwa 1.504 di antaranya masih bergantung pada fasilitas darurat menunjukkan pekerjaan pemerintah belum selesai.

Sebanyak 392 sekolah juga masih menggunakan PJJ dan baru 35 satuan pendidikan mampu kembali bertatap muka secara normal.

Kemendikdasmen menargetkan layanan pendidikan terus bergerak menuju kondisi yang lebih aman.

Penyediaan ruang kelas darurat, perbaikan sanitasi, pendampingan psikososial hingga pemeriksaan bangunan akan berjalan bersamaan.

Pemerintah berharap proses tersebut membuat anak-anak NTT dapat kembali memiliki lingkungan pendidikan yang aman dan layak setelah menghadapi bencana besar pada Agustus 2026.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna