Berita
Hilmi An Naufal

OlympiAR 2026 Resmi Dibuka di ITB, Juara 1 Dapat Rp50 Juta hingga Kesempatan Magang di Tambang

OlympiAR 2026 Resmi Dibuka di ITB, Juara 1 Dapat Rp50 Juta hingga Kesempatan Magang di Tambang

05 September 2026 | 06:19

KEBONCINTA.COM – Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia kembali mendapat ruang untuk menguji kemampuan di bidang geosains dan pertambangan melalui Olympiad Agincourt Resources atau OlympiAR 2026.

Kompetisi nasional tersebut resmi dibuka di Institut Teknologi Bandung, Jumat, 4 September 2026.

Pembukaan dihadiri sekitar 500 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan menjadi awal rangkaian kompetisi yang mempertemukan ilmu kebumian dengan tantangan nyata industri.

OlympiAR tahun ini mengangkat tema “Orebody to Ecosystem: Integrating Mining Performance and Environmental Resilience”.

Tema tersebut menekankan bahwa aktivitas pertambangan tidak dapat hanya dilihat dari banyaknya mineral yang dapat diproduksi.

Mahasiswa juga dituntut memahami bagaimana keputusan teknis berdampak terhadap keselamatan, lingkungan dan masyarakat.

Kompetisi diselenggarakan PT Agincourt Resources bersama Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia atau MGEI.

Director Operations PT Agincourt Resources Rahmat Lubis menjelaskan industri pertambangan modern membutuhkan lulusan yang tidak hanya menguasai satu disiplin ilmu.

Mahasiswa teknik pertambangan misalnya tetap perlu memahami aspek geologi dan lingkungan.

Sebaliknya, mahasiswa geologi juga perlu mampu melihat bagaimana data yang mereka hasilkan digunakan dalam pengambilan keputusan operasional.

Kemampuan berpikir lintas disiplin tersebut menjadi salah satu fokus OlympiAR 2026.

Peserta akan berhadapan dengan studi kasus yang menuntut mereka melihat persoalan dari berbagai sudut.

Mereka harus mengolah informasi, berdiskusi dalam tim, menyusun solusi serta mempertahankan gagasan di hadapan akademisi dan praktisi.

Metode tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya mengandalkan teori yang dipelajari di ruang kuliah.

Mereka dituntut melihat hubungan antara teori dengan persoalan yang benar-benar dihadapi industri.

Dalam pertambangan, sebuah keputusan mempunyai konsekuensi panjang.

Data mengenai tubuh bijih atau orebody misalnya dapat memengaruhi desain tambang.

Keputusan yang dibuat berikutnya juga berkaitan dengan keselamatan pekerja, penggunaan air, pengelolaan material sisa hingga proses rehabilitasi ketika kegiatan pertambangan selesai.

Karena itu, pertambangan berkelanjutan membutuhkan kemampuan mengambil keputusan yang mempertimbangkan banyak faktor sekaligus.

Ketua MGEI Rosalyn Wuliandhary menekankan kebutuhan terhadap generasi yang mampu menghubungkan geosains, pertambangan, pengolahan, teknologi, ekonomi, lingkungan dan masyarakat.

Pendekatan tersebut semakin relevan ketika industri ekstraktif menghadapi tuntutan agar proses produksi tidak mengabaikan keberlanjutan.

Mahasiswa sebagai calon profesional masa depan perlu diperkenalkan kepada perspektif tersebut sejak masih berada di kampus.

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya ITB Dasapta Erwin Irawan juga mengingatkan bahwa aktivitas ekstraktif selalu mempunyai konsekuensi sosial dan lingkungan.

Di balik data teknis mengenai cadangan dan produksi terdapat masyarakat serta ekosistem yang dapat terdampak.

Mahasiswa perlu mempunyai kemampuan mempertimbangkan kepentingan ekonomi sekaligus kelestarian lingkungan.

Ajang OlympiAR menjadi salah satu tempat untuk melatih cara berpikir tersebut.

Kompetisi tidak hanya dilakukan melalui satu kali ujian.

Rangkaian program mencakup talkshow, kompetisi daring, mentoring, pelatihan teknologi geosains, penyelesaian studi kasus hingga presentasi final.

Bimbingan dari praktisi diberikan selama proses kompetisi.

Dengan pola tersebut, mahasiswa tidak hanya mengejar posisi juara.

Mereka juga mendapatkan kesempatan memperoleh pengetahuan langsung dari orang yang bekerja di industri.

Pengalaman tersebut dapat membantu peserta memahami kompetensi seperti apa yang akan dibutuhkan setelah mereka lulus.

Salah satu aspek menarik adalah peluang yang diberikan kepada pemenang utama.

ANTARA melaporkan Juara 1 akan menerima hadiah uang tunai Rp50 juta.

Juara 2 mendapat Rp30 juta dan Juara 3 memperoleh Rp20 juta.

Pada skema yang disampaikan penyelenggara, penghargaan juga diberikan kepada peringkat berikutnya sesuai ketentuan kompetisi.

Namun hadiah uang bukan satu-satunya daya tarik.

Tim pemenang utama memperoleh kesempatan magang langsung di lokasi tambang.

Mereka juga berpeluang mendapatkan akses menuju proses rekrutmen kerja sesuai mekanisme perusahaan.

Kesempatan tersebut membuat prestasi kompetisi dapat berhubungan langsung dengan pengalaman profesional.

Mahasiswa tidak hanya mendapatkan sertifikat dan hadiah, tetapi mempunyai kesempatan melihat operasional pertambangan secara nyata.

Pengalaman magang dapat menjadi jembatan antara kampus dengan dunia kerja.

Mahasiswa dapat memahami bagaimana standar keselamatan diterapkan, bagaimana data digunakan dalam keputusan serta bagaimana berbagai divisi bekerja bersama.

Di sisi lain, perusahaan dapat melihat kemampuan peserta secara langsung.

OlympiAR tahun ini juga memberikan perhatian terhadap penggunaan kecerdasan artifisial atau AI.

Penyelenggara menegaskan karya tulis peserta tidak boleh dibuat dengan cara yang melanggar aturan kompetisi menggunakan AI.

Peserta yang diketahui menyerahkan karya yang dibuat tidak sesuai ketentuan dapat didiskualifikasi.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI di lingkungan akademik kini menjadi persoalan yang semakin mendapat perhatian.

Teknologi dapat digunakan untuk membantu proses belajar.

Namun mahasiswa tetap dituntut menunjukkan kemampuan berpikir, melakukan analisis dan menghasilkan karya sendiri.

Integritas akademik menjadi bagian dari penilaian.

Hal tersebut sangat penting dalam kompetisi yang menguji kemampuan menyelesaikan persoalan.

Jika solusi hanya dihasilkan melalui teknologi tanpa pemahaman peserta, tujuan pembinaan kompetensi tidak akan tercapai.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam pembukaan OlympiAR juga meminta pencarian talenta tidak hanya berpusat pada Pulau Jawa.

Mahasiswa dari Balikpapan, Makassar, Ternate dan berbagai daerah lainnya diharapkan mendapatkan kesempatan berpartisipasi.

Menurutnya, talenta yang berasal dari berbagai daerah nantinya dapat kembali memberikan kontribusi kepada wilayah masing-masing.

Rangkaian OlympiAR 2026 tidak berhenti di Bandung.

Setelah kegiatan pembukaan di ITB, agenda berikutnya dijadwalkan berlanjut ke Universitas Negeri Padang pada 8 September 2026.

Penyelenggara juga memberikan perhatian khusus agar mahasiswa dari kampus-kampus Sumatra semakin banyak terlibat.

Pada penyelenggaraan 2024, OlympiAR mencatat 161 tim dari 28 universitas mengikuti kompetisi.

Keseluruhan rangkaiannya menjangkau lebih dari 600 mahasiswa.

Tim Hornblende dari ITB kemudian keluar sebagai juara pertama.

Penyelenggaraan 2026 ingin memperluas kembali manfaat program sekaligus meningkatkan hubungan antara mahasiswa, akademisi dan praktisi.

Ajang ini merupakan pengembangan dari program E-Coaching Jam yang telah berlangsung sejak 2014.

Program tersebut telah mempertemukan ribuan mahasiswa dengan praktisi industri dan pakar dari berbagai bidang.

OlympiAR kemudian membawa konsep pembelajaran tersebut ke dalam bentuk kompetisi.

Mahasiswa tidak hanya mendengar penjelasan praktisi.

Mereka diminta menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk menyelesaikan persoalan.

Bagi peserta, kompetisi menjadi kesempatan untuk menguji seberapa jauh pengetahuan di kelas dapat digunakan dalam keadaan yang lebih kompleks.

Kemampuan bekerja dalam tim juga menjadi bagian penting.

Dunia kerja jarang menyelesaikan persoalan besar hanya melalui satu disiplin ilmu.

Insinyur, ahli geologi, tenaga lingkungan maupun bidang sosial harus berkomunikasi dan membuat keputusan secara bersama.

Kemampuan itulah yang ingin diperkenalkan sejak mahasiswa.

Dengan resmi dibukanya OlympiAR 2026 di ITB, persaingan mahasiswa dalam bidang geosains nasional kembali dimulai.

Hadiah hingga peluang magang menjadi daya tarik, tetapi tujuan yang lebih besar adalah membentuk calon profesional yang mampu melihat industri secara menyeluruh.

Peserta diharapkan tidak hanya memahami cara menemukan dan mengolah sumber daya mineral.

Mereka juga harus memahami bagaimana sumber daya tersebut dikelola secara bertanggung jawab dengan mempertimbangkan keselamatan, masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna