Nama I Gusti Ngurah Rai tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Bali.
Pertempuran terakhirnya dalam Puputan Margarana pada 20 November 1946 memang menjadi bagian yang paling terkenal. Namun, perjalanan menuju pertempuran tersebut sebenarnya memperlihatkan strategi yang jauh lebih luas.
Ngurah Rai tidak hanya memimpin pasukan dalam pertempuran terbuka. Ia berusaha menghimpun pemuda, membangun struktur komando, menjalin hubungan dengan pemerintah Republik di Jawa, mencari dukungan persenjataan, menjalankan perang gerilya, dan menggerakkan pasukan melintasi berbagai wilayah Bali.
Arsip Nasional Republik Indonesia menyebut Ngurah Rai sebagai pendiri sekaligus panglima pertama satuan angkatan bersenjata di Kepulauan Sunda Kecil yang secara langsung memimpin perlawanan terhadap Belanda di Bali.
Karena itu, menyebut langkahnya sekadar sebagai “strategi rahasia” kurang tepat. Banyak bagian dari strategi tersebut kini telah terdokumentasi dalam arsip, penelitian sejarah, dan catatan perjuangan.
I Gusti Ngurah Rai lahir di Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, pada 30 Januari 1917.
Ia menempuh pendidikan militer dan memperoleh pengalaman yang kemudian menjadi modal penting ketika Indonesia memasuki masa revolusi setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia mencatat bahwa setelah menyelesaikan MULO, Ngurah Rai melanjutkan pendidikan kemiliteran dengan spesialisasi artileri.
Latar belakang tersebut membuatnya memiliki kemampuan yang tidak hanya berkaitan dengan keberanian di medan perang, tetapi juga organisasi, komando, perencanaan, dan penggunaan taktik militer.
Pada masa pendudukan Jepang, Ngurah Rai disebut tidak masuk PETA karena sikapnya yang menentang penjajahan.
IKPNI mencatat bahwa ia bahkan membangun gerakan bawah tanah yang dikenal sebagai Gerakan Anti Fasis.
Pengalaman bergerak di bawah tekanan pemerintahan pendudukan kemudian menjadi bekal ketika situasi berubah setelah Jepang menyerah pada 1945.
Kondisi Indonesia saat itu belum stabil. Kemerdekaan telah diproklamasikan, tetapi struktur pemerintahan dan keamanan di daerah masih harus dibentuk, sementara Belanda berusaha kembali menegakkan kekuasaannya.
Salah satu langkah penting Ngurah Rai adalah mengonsolidasikan kelompok-kelompok pemuda dan pejuang yang tersebar.
IKPNI mencatat bahwa setelah kemerdekaan ia menghimpun kekuatan pemuda untuk mengambil alih kantor-kantor pemerintahan Jepang di Bali. Pemerintah Republik kemudian menunjuknya memimpin Resimen Tentara Keamanan Rakyat Sunda Kecil yang selanjutnya berubah menjadi Resimen Tentara Republik Indonesia Sunda Kecil.
Langkah ini penting karena perlawanan tidak mungkin berjalan efektif apabila kelompok-kelompok bersenjata bertindak sendiri tanpa koordinasi.
Ngurah Rai membutuhkan jaringan komando yang memungkinkan perintah, informasi, persenjataan, dan pergerakan pasukan dapat diatur secara lebih terstruktur.
Ngurah Rai juga menjadi pucuk pimpinan Markas Besar Umum Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia atau MBU DPRI Sunda Kecil.
Dokumen yang dihimpun dalam nominasi Memori Kolektif Bangsa ANRI juga mencatat keberadaan struktur perjuangan tersebut dan arsip mengenai perjalanan Ngurah Rai sebagai pimpinan perjuangan Republik di Bali.
Keberadaan organisasi itu membantu menyatukan perlawanan politik dan militer.
Dengan demikian, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya bergantung pada satu kelompok bersenjata, tetapi mempunyai struktur yang dapat menghubungkan berbagai unsur pejuang.
Ngurah Rai memahami bahwa perjuangan di Bali tidak dapat berjalan terpisah dari perjuangan Republik Indonesia secara keseluruhan.
Setelah melakukan konsolidasi, diputuskan mengirim utusan ke Jawa untuk mencari bantuan persenjataan sekaligus membicarakan status perjuangan di Bali dengan Markas Umum TKR di Yogyakarta.
Langkah tersebut mempunyai arti strategis.
Pertama, Bali membutuhkan hubungan komando dengan pemerintah pusat.
Kedua, pejuang membutuhkan senjata dan dukungan logistik.
Ketiga, perjuangan di Bali harus ditempatkan sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan Republik Indonesia, bukan sekadar konflik lokal.
Pasukan Republik menghadapi keterbatasan persenjataan.
Di sisi lain, pasukan Belanda mempunyai organisasi militer, perlengkapan, dan jaringan logistik yang jauh lebih kuat.
Karena itu, persenjataan menjadi salah satu persoalan penting dalam strategi perjuangan.
Arsip perjuangan I Gusti Ngurah Rai yang dihimpun ANRI bahkan mencatat keberadaan dokumen dan benda terkait penyamaran dalam pengiriman senjata, peta serangan terhadap NICA, alat komunikasi, serta senjata hasil rampasan.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung melalui kontak senjata.
Ada proses komunikasi, penyamaran, pengiriman informasi, distribusi perlengkapan, dan perencanaan operasi yang harus berjalan di belakang garis pertempuran.
Menghadapi musuh dengan kekuatan lebih besar, pasukan Ngurah Rai menggunakan taktik gerilya.
IKPNI mencatat perang gerilya yang dilakukan pasukan Republik menyulitkan Belanda karena para pejuang lebih memahami kondisi alam setempat.
Dalam perang seperti ini, pengetahuan terhadap wilayah mempunyai nilai besar.
Pejuang dapat memanfaatkan desa, perbukitan, hutan, jalur kecil, dan dukungan masyarakat untuk bergerak, bersembunyi, mengumpulkan informasi, kemudian melakukan serangan.
Strategi tersebut juga mengurangi kebutuhan melakukan pertempuran terbuka terus-menerus melawan pasukan dengan senjata yang lebih lengkap.
Salah satu fase penting dalam perjuangan Ngurah Rai adalah perjalanan panjang pasukan melintasi Bali.
Kajian mengenai Revolusi Indonesia di Sunda Kecil mencatat Long March Gunung Agung pada Juni-Juli 1946, serta Pertempuran Tanah Aron pada 9 Juli 1946 sebagai bagian dari rangkaian perlawanan mempertahankan kemerdekaan.
Perjalanan tersebut bukan sekadar memindahkan pasukan dari satu daerah menuju daerah lain.
Gerakan melintasi wilayah dapat digunakan untuk membangun hubungan dengan kelompok pejuang, memperluas jaringan, memperoleh dukungan masyarakat, dan menunjukkan bahwa kekuatan Republik masih bergerak.
Mobilitas menjadi salah satu keunggulan penting dalam perang gerilya.
Bali memiliki kondisi geografis dan struktur masyarakat yang beragam.
Kekuatan perjuangan tersebar di beberapa wilayah dan tidak seluruhnya berada dalam satu tempat.
Ngurah Rai harus menjaga hubungan antara kelompok yang tersebar tersebut sekaligus menghadapi tekanan pasukan Belanda.
Dalam konteks itulah struktur komando, perjalanan lintas daerah, komunikasi, dan konsolidasi menjadi penting.
Arsip ANRI bahkan mencatat keberadaan peta serangan terhadap NICA, alat komunikasi tradisional dan modern, dokumen perjuangan, hingga benda-benda yang berkaitan dengan pengiriman senjata.
Perlawanan dengan demikian tidak dibangun hanya melalui keberanian individu, tetapi melalui jaringan.
Nama Ciung Wanara kemudian melekat kuat dengan perjuangan I Gusti Ngurah Rai.
Pasukan tersebut menjadi kekuatan inti yang dipimpinnya dalam menghadapi Belanda.
Arsip perjuangan yang dihimpun ANRI mencatat keberadaan markas DPRI Sunda Kecil di Munduk Malang serta perjuangan Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanara.
Pasukan inilah yang kemudian terlibat dalam rangkaian pertempuran hingga Puputan Margarana.
Nama Ciung Wanara juga terus dikenang melalui berbagai monumen, museum, arsip, dan penulisan sejarah perjuangan Bali.
Belanda pernah mencoba membuka komunikasi dengan Ngurah Rai.
Namun, ia menolak melakukan perundingan sendiri dan menyatakan masalah diplomasi merupakan kewenangan pemerintah Republik Indonesia. IKPNI mencatat balasan Ngurah Rai yang pada intinya menegaskan Bali bukan tempat dirinya menjalankan perundingan diplomatik dan ia tidak memilih jalan kompromi dengan Belanda.
Sikap tersebut memperlihatkan satu hal penting dalam strateginya.
Ngurah Rai menempatkan perjuangan Bali sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Ia tidak ingin mengambil keputusan politik yang memisahkan perjuangan daerah dari pemerintah Republik.
Keterbatasan persenjataan mendorong pejuang melakukan operasi untuk merebut senjata dari pasukan lawan.
Dokumen ANRI mencatat adanya senjata hasil rampasan pada 19 November 1946 dalam khazanah arsip perjuangan Ngurah Rai.
Sejumlah catatan sejarah menghubungkan operasi perebutan senjata NICA di Tabanan dengan rangkaian peristiwa menjelang Puputan Margarana.
Operasi seperti itu mempunyai dua keuntungan.
Pejuang memperoleh tambahan senjata dan amunisi sekaligus mengurangi sebagian perlengkapan lawan.
Namun, keberhasilan serangan juga membuat Belanda meningkatkan pengejaran terhadap pasukan Ngurah Rai.
Pada 20 November 1946, pasukan Belanda melakukan pengepungan terhadap wilayah Marga di Tabanan.
Pemerintah Provinsi Bali mencatat pertempuran dimulai sekitar pukul 10.00 setelah pasukan Belanda mengurung wilayah tersebut sejak pagi. Ketika perlawanan semakin kuat, Belanda mengerahkan tambahan pasukan dan dukungan pesawat.
Kondisi tersebut membuat kekuatan Ngurah Rai berada dalam posisi yang sangat sulit.
Pasukannya menghadapi musuh yang unggul dari sisi jumlah dan persenjataan.
Namun, mereka tidak memilih menyerah.
Pertempuran di Marga kemudian berubah menjadi puputan, istilah yang merujuk pada perjuangan habis-habisan.
Ngurah Rai bersama pasukan intinya terus bertempur hingga gugur pada 20 November 1946.
Arsip Nasional menyebut kurang lebih 96 pejuang Bali gugur dalam pertempuran terakhir tersebut, termasuk I Gusti Ngurah Rai.
Kajian mengenai revolusi di Sunda Kecil juga mencatat pertempuran terbuka di Desa Marga sebagai puncak perjuangan, dengan Ngurah Rai serta para pimpinan pasukan inti gugur bersama pasukan Ciung Wanara.
Perlu dicatat, jumlah pejuang yang disebut dalam berbagai publikasi tidak selalu sama. Sejumlah laman peringatan resmi Bali menggunakan angka yang berbeda tergantung kelompok korban yang dihitung. Karena itu, lebih aman memahami Puputan Margarana sebagai pertempuran yang menewaskan Ngurah Rai dan sebagian besar kekuatan inti pasukannya daripada mencampurkan angka dari sumber yang berbeda.
Perjuangan Ngurah Rai memperlihatkan bahwa mempertahankan kemerdekaan tidak hanya membutuhkan keberanian di medan perang.
Setidaknya terdapat beberapa unsur penting dalam strateginya:
Dengan strategi tersebut, kekuatan yang secara material lebih kecil tetap mampu memberikan perlawanan terhadap kembalinya kekuasaan kolonial.
Salah satu aspek menarik dari perjuangan Ngurah Rai adalah kemampuannya menggabungkan strategi militer dengan kepemimpinan politik.
Sebagai komandan, ia harus mengatur pasukan.
Namun, sebagai pemimpin perjuangan, ia juga harus menjaga hubungan dengan masyarakat, organisasi pemuda, pemerintah Republik, dan berbagai kelompok yang mendukung kemerdekaan.
Tanpa jaringan tersebut, pasukan gerilya akan kesulitan memperoleh makanan, tempat berlindung, informasi, dan jalur pergerakan.
Karena itu, kemampuan menyatukan kekuatan merupakan bagian yang sama pentingnya dengan kemampuan memenangkan kontak senjata.
Perang gerilya hampir mustahil berlangsung tanpa dukungan masyarakat.
Desa dapat menjadi tempat memperoleh informasi, makanan, perlindungan, maupun hubungan dengan kelompok pejuang lainnya.
Dalam situasi pendudukan, dukungan tersebut mempunyai risiko besar karena masyarakat yang membantu pejuang dapat menghadapi tekanan dari pihak lawan.
Hal ini membuat perjuangan di Bali tidak tepat apabila hanya diceritakan sebagai kisah satu orang.
Ngurah Rai menjadi figur utama, tetapi perjuangan tersebut melibatkan jaringan pejuang dan masyarakat yang jauh lebih luas.
Puputan Margarana sering digambarkan hanya sebagai pertempuran terakhir ketika pasukan Republik terkepung.
Namun, apabila melihat perjalanan sebelumnya, keputusan tersebut datang setelah rangkaian panjang konsolidasi, gerilya, perjalanan pasukan, serta operasi terhadap NICA.
Penelitian sejarah mencatat Long March Gunung Agung dan Pertempuran Tanah Aron sebagai bagian dari respons perjuangan di Bali sebelum mencapai puncaknya di Marga.
Artinya, Puputan Margarana merupakan bagian akhir dari perjuangan panjang, bukan keseluruhan strategi Ngurah Rai.
Pasukan Belanda memiliki kelebihan dalam organisasi, persenjataan, dukungan logistik, dan kemampuan mendatangkan pasukan tambahan.
Situasi tersebut membuat pasukan Republik sulit mempertahankan posisi secara konvensional.
Pilihan menggunakan gerilya dan mobilitas menjadi masuk akal ketika dilihat dari perbandingan kekuatan tersebut.
Pasukan yang lebih kecil tidak perlu selalu memenangkan wilayah. Mereka dapat berusaha mempertahankan eksistensi perlawanan, mengganggu kontrol lawan, memelihara jaringan masyarakat, dan menunjukkan bahwa Republik masih mempunyai kekuatan di daerah.
Upaya melestarikan sejarah Ngurah Rai masih dilakukan hingga sekarang.
Dokumen nominasi Memori Kolektif Bangsa ANRI mencatat penelusuran arsip yang dilakukan ke berbagai tempat, termasuk Museum Taman Pujaan Bangsa Margarana, Puri Carangsari, Kodam IX/Udayana, kantor desa, dan Yayasan Kebaktian Proklamasi.
Dari kegiatan tersebut berhasil diinventarisasi ratusan arsip tekstual, foto, video, dokumen perjuangan, serta benda bersejarah.
Arsip tersebut penting karena memungkinkan sejarah dipelajari berdasarkan bukti, tidak hanya cerita yang diwariskan secara lisan.
Dokumen juga dapat membantu meluruskan informasi yang berkembang ketika kisah sejarah disederhanakan atau dibuat terlalu dramatis untuk kebutuhan media sosial.
Pengorbanan I Gusti Ngurah Rai kemudian mendapat pengakuan negara.
Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 163/TK/TH.1975 tanggal 9 Agustus 1975.
Namanya kini digunakan pada berbagai fasilitas publik, termasuk Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali.
Namun, warisan terpentingnya bukan sekadar nama pada fasilitas atau monumen.
Kisah perjuangannya menunjukkan bagaimana kepemimpinan, organisasi, keberanian, jaringan masyarakat, dan kesetiaan terhadap Republik dapat digunakan ketika menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.
Jika diringkas, kekuatan utama strategi Ngurah Rai bukanlah satu taktik rahasia.
Ia menggunakan berbagai cara sesuai situasi.
Ketika kekuatan pejuang tersebar, ia melakukan konsolidasi.
Ketika membutuhkan hubungan dengan Republik, utusan dikirim ke Jawa.
Ketika menghadapi kekuatan militer yang lebih besar, gerilya digunakan.
Ketika membutuhkan mobilitas dan perlu memperluas jaringan, pasukan melakukan perjalanan lintas wilayah.
Ketika kekurangan senjata, persenjataan lawan menjadi sasaran.
Dan ketika ruang gerak semakin sempit di Marga pada 20 November 1946, pasukan memilih melakukan perlawanan habis-habisan yang kemudian dikenang sebagai Puputan Margarana.
Karena itulah I Gusti Ngurah Rai dikenang bukan hanya karena keberaniannya gugur di medan perang, tetapi juga karena kemampuannya membangun dan mempertahankan jaringan perjuangan Republik di Bali.