Berita
Hilmi An Naufal

Kemdiktisaintek Minta Semua Kampus Perkuat Layanan Konseling, Mahasiswa Harus Mudah Mencari Bantuan

Kemdiktisaintek Minta Semua Kampus Perkuat Layanan Konseling, Mahasiswa Harus Mudah Mencari Bantuan

04 September 2026 | 22:13

KEBONCINTA.COM – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meminta perguruan tinggi di Indonesia memperkuat layanan bimbingan dan konseling bagi mahasiswa. Layanan tersebut dinilai tidak lagi dapat diposisikan hanya sebagai fasilitas tambahan di lingkungan kampus.

Direktur Pembelajaran dan Mahasiswa Kemdiktisaintek Beny Bandanadjaja mengatakan perguruan tinggi perlu memastikan layanan konseling mudah dijangkau mahasiswa ketika mereka menghadapi persoalan.

Arahan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Panduan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Tahun 2026 yang diselenggarakan secara daring pada Jumat, 4 September 2026.

Kemdiktisaintek menilai kehidupan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik.

Di balik kegiatan kuliah, tugas dan berbagai aktivitas organisasi, mahasiswa dapat menghadapi tekanan, kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru maupun persoalan keluarga.

Sebagian juga membutuhkan bantuan ketika menghadapi masalah psikologis.

Karena itu, perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan sistem yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pendampingan secara aman.

Beny menekankan bahwa kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik tinggi.

Lingkungan perguruan tinggi juga harus menjadi tempat yang aman bagi mahasiswa untuk tumbuh dan berkembang.

Layanan konseling menjadi salah satu bagian dari tujuan tersebut.

Keberadaannya memungkinkan mahasiswa mendapatkan tempat untuk membicarakan persoalan sebelum masalah berkembang menjadi lebih berat.

Pendekatan pencegahan mendapat perhatian khusus.

Menurut Kemdiktisaintek, masalah yang muncul pada tahap awal sebaiknya segera mendapatkan respons.

Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat memengaruhi motivasi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan.

Dalam sejumlah situasi, persoalan yang berlarut-larut juga dapat berkaitan dengan keputusan mahasiswa meninggalkan pendidikan maupun munculnya kondisi lain yang lebih serius.

Karena itu, layanan kampus tidak seharusnya baru bergerak ketika sudah terjadi masalah besar.

Perguruan tinggi perlu membangun sistem yang dapat diakses sejak mahasiswa mulai merasakan membutuhkan bantuan.

Kemudahan akses menjadi salah satu kunci.

Mahasiswa seharusnya mengetahui lokasi layanan, siapa yang dapat dihubungi serta bagaimana kerahasiaan konsultasi dikelola.

Jika prosedur terlalu rumit, sebagian mahasiswa dapat mengurungkan keinginan untuk mencari pertolongan.

Kemdiktisaintek juga menyoroti hubungan antara mahasiswa dengan berbagai unsur di perguruan tinggi.

Relasi kuasa yang sehat dinilai penting dalam menciptakan ekosistem kampus yang aman.

Pimpinan kampus, dosen, pimpinan kemahasiswaan dan tenaga kependidikan diminta tidak menggunakan jabatan, ucapan maupun perilaku sebagai sumber tekanan kepada mahasiswa.

Mahasiswa harus mempunyai keberanian untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.

Hal tersebut hanya dapat terjadi apabila mereka merasa akan didengar dan tidak takut mendapatkan konsekuensi karena menyampaikan masalah.

Budaya kampus karena itu menjadi bagian yang sama pentingnya dengan keberadaan ruang konseling.

Perguruan tinggi dapat saja memiliki fasilitas konseling, tetapi layanan tersebut sulit memberikan dampak apabila mahasiswa merasa takut menggunakannya.

Sistem perlu dibangun dengan rasa percaya.

Kampus juga perlu memastikan orang yang memberikan pendampingan mempunyai kompetensi yang sesuai.

Setiap persoalan mahasiswa tidak selalu dapat diselesaikan dengan cara yang sama.

Ada masalah yang dapat ditangani melalui pendampingan akademik.

Ada pula situasi yang membutuhkan tenaga profesional atau rujukan kepada layanan kesehatan yang mempunyai kompetensi di bidang terkait.

Karena itu, bimbingan dan konseling kampus idealnya mempunyai jaringan rujukan yang jelas.

Mahasiswa juga perlu mengetahui perbedaan antara konsultasi akademik, konseling dan layanan profesional lainnya.

Dengan mekanisme tersebut, persoalan dapat diarahkan kepada pihak yang paling sesuai.

Kemdiktisaintek menyadari kemampuan setiap perguruan tinggi dalam menyediakan layanan belum sama.

Kampus besar mungkin mempunyai tenaga dan fasilitas lebih lengkap.

Sementara perguruan tinggi lain masih membangun layanan dari tahap awal.

Karena itulah kementerian melibatkan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi atau LLDikti sebagai pendamping.

Forum sosialisasi juga digunakan sebagai ruang berbagi praktik baik antarkampus.

Perguruan tinggi yang belum mempunyai sistem konseling yang kuat diharapkan dapat mempelajari pola yang telah berhasil diterapkan institusi lain.

Dengan cara tersebut, setiap kampus tidak harus merancang seluruh sistem dari awal.

Model yang telah berjalan baik dapat dipelajari kemudian disesuaikan dengan karakter mahasiswa dan kemampuan masing-masing perguruan tinggi.

Layanan konseling sendiri seharusnya tidak hanya digunakan ketika seorang mahasiswa berada dalam situasi yang sangat berat.

Mahasiswa baru misalnya dapat membutuhkan pendampingan ketika menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus.

Peralihan dari sekolah menengah menuju perguruan tinggi membawa banyak perubahan.

Mahasiswa harus mengatur jadwal sendiri, menghadapi metode pembelajaran berbeda serta membangun pertemanan dalam lingkungan baru.

Mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga juga menghadapi proses adaptasi tambahan.

Pada semester berikutnya, tantangan dapat berubah menjadi tekanan akademik, penyelesaian tugas akhir maupun persiapan menghadapi dunia kerja.

Karena kebutuhan berbeda pada setiap tahapan, layanan kemahasiswaan perlu cukup fleksibel.

Selain layanan individual, perguruan tinggi juga dapat membangun edukasi mengenai cara mencari bantuan.

Mahasiswa perlu mengetahui bahwa menggunakan layanan konseling bukan sesuatu yang harus dianggap memalukan.

Kesadaran tersebut dapat dibangun sejak kegiatan penerimaan mahasiswa baru.

Informasi mengenai saluran bantuan sebaiknya mudah ditemukan melalui situs, aplikasi maupun kanal komunikasi resmi kampus.

Dosen pembimbing akademik juga mempunyai peranan untuk mengenali ketika mahasiswa membutuhkan dukungan tambahan.

Namun dosen tidak harus menangani persoalan di luar kompetensinya.

Peranan yang lebih tepat dapat berupa mengarahkan mahasiswa kepada layanan yang sesuai.

Kemdiktisaintek ingin penguatan sistem tersebut dilakukan secara bersama.

Pimpinan perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab memastikan kebijakan tersedia.

Tenaga konseling menyediakan layanan.

Dosen dan tenaga kependidikan membantu membangun lingkungan aman.

Sementara mahasiswa perlu diberikan ruang untuk menyampaikan kebutuhan mereka.

Arahan pemerintah pada 4 September 2026 menjadi sinyal bahwa kualitas pendidikan tinggi kini semakin dipandang secara menyeluruh.

Prestasi akademik tetap penting, tetapi kesejahteraan dan keselamatan mahasiswa juga menjadi bagian dari kualitas perguruan tinggi.

Kampus yang baik bukan hanya mempunyai gedung, laboratorium atau peringkat akademik tinggi.

Mahasiswa juga perlu merasa aman untuk belajar, berinteraksi dan meminta bantuan ketika mengalami persoalan.

Kemdiktisaintek berharap penguatan panduan bimbingan dan konseling bersama LLDikti dapat membantu perguruan tinggi meningkatkan layanan tersebut.

Tujuan akhirnya adalah membangun kampus yang tidak hanya mampu mencetak lulusan berpengetahuan, tetapi juga memberikan lingkungan yang mendukung mahasiswa selama menjalani proses pendidikan.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna