Keboncinta.com-- Kecerdasan buatan atau AI telah menjadi bagian dari keseharian mahasiswa. Saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), teknologi ini semakin sering dimanfaatkan untuk membantu menyusun proposal, membuat materi sosialisasi, mengolah data, hingga menyelesaikan laporan. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Kemudahan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, di balik manfaatnya, muncul pertanyaan yang semakin relevan: sampai sejauh mana penggunaan AI selama KKN masih dapat dianggap etis?
Banyak orang mengira bahwa persoalan etika hanya berkaitan dengan benar atau salah. Padahal, dalam konteks KKN, etika juga menyangkut tanggung jawab terhadap proses belajar dan pengabdian kepada masyarakat. Menggunakan AI untuk membantu menyusun kerangka proposal atau memperbaiki tata bahasa tentu berbeda dengan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi. Ketika mahasiswa hanya menyalin hasil AI tanpa memahami isinya, mereka bukan sekadar menghemat waktu, tetapi juga melewatkan kesempatan untuk belajar menganalisis persoalan yang ada di lapangan.
Hal yang perlu diingat adalah bahwa AI tidak mengenal masyarakat yang menjadi lokasi KKN. Teknologi ini tidak pernah mengikuti proses observasi, berdialog dengan warga, atau menyaksikan secara langsung kondisi desa. Karena itu, hasil yang diberikan AI bersifat umum dan perlu disesuaikan dengan situasi nyata. Program kerja yang baik tetap harus lahir dari kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata dari rekomendasi yang dihasilkan oleh sebuah sistem.
Ada pula aspek etika lain yang sering luput dari perhatian, yaitu penggunaan data masyarakat. Selama KKN, mahasiswa sering mengumpulkan informasi melalui wawancara, survei, maupun dokumentasi. Data tersebut tidak boleh sembarangan dimasukkan ke dalam platform AI, terutama jika memuat identitas atau informasi pribadi warga. Menjaga kerahasiaan data merupakan bentuk penghormatan terhadap kepercayaan yang telah diberikan masyarakat kepada mahasiswa.
Di sisi lain, penggunaan AI secara etis justru dapat memberikan banyak manfaat. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk menyusun format administrasi, mencari referensi tambahan, membuat media edukasi, atau membantu menyederhanakan bahasa dalam laporan. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat pendukung yang mempercepat pekerjaan teknis tanpa mengambil alih proses berpikir, observasi, dan pengambilan keputusan.