Keboncinta.com-- Hampir setiap tahun, berbagai pelatihan untuk pelaku UMKM terus diselenggarakan. Mulai dari pelatihan pemasaran digital, pengelolaan keuangan, hingga pengemasan produk. Materinya menarik, narasumbernya kompeten, dan pesertanya antusias. Namun, setelah kegiatan selesai, tidak sedikit pelaku usaha yang kembali menjalankan usahanya seperti biasa. Pengetahuan yang diperoleh perlahan terlupakan karena tidak ada yang mendampingi saat mereka mulai menerapkannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa belajar bukan hanya soal menerima materi, tetapi juga tentang proses mencoba, melakukan kesalahan, lalu memperbaikinya bersama.
Fenomena tersebut terjadi karena setiap UMKM memiliki kondisi yang berbeda. Apa yang berhasil diterapkan pada satu usaha belum tentu cocok untuk usaha lainnya. Ada pelaku usaha yang kesulitan membuat konten promosi, sementara yang lain masih bingung mencatat pemasukan dan pengeluaran. Sebagian sudah memiliki akun media sosial, tetapi tidak tahu bagaimana mengembangkannya. Persoalan-persoalan seperti ini sering kali tidak bisa diselesaikan hanya melalui pelatihan beberapa jam. Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan, memahami situasi usaha mereka, lalu membantu mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Di sinilah pendampingan menjadi jauh lebih bermakna. Mahasiswa yang menjalani KKN memiliki kesempatan untuk hadir bukan hanya sebagai penyelenggara kegiatan, tetapi juga sebagai mitra belajar bagi pelaku UMKM. Mereka dapat membantu langkah demi langkah, mulai dari membuat identitas merek, memperbaiki foto produk, mengajarkan penggunaan marketplace, hingga mengevaluasi hasil promosi yang telah dilakukan. Proses ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran, tetapi dampaknya lebih terasa karena pelaku usaha ikut belajar sambil mempraktikkan langsung apa yang mereka lakukan. Pendampingan juga membangun rasa percaya diri sehingga mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kendala.