Pendidikan
Hilmi An Naufal

Bukan Dilarang Total, Sekolah Arahkan Siswa pada Kegiatan tanpa Gawai

Bukan Dilarang Total, Sekolah Arahkan Siswa pada Kegiatan tanpa Gawai

01 Agustus 2026 | 06:44

JAKARTA — Pembatasan penggunaan telepon seluler di sekolah tidak berarti siswa sama sekali dilarang membawa atau menggunakan teknologi digital. Kebijakan tersebut lebih diarahkan untuk menjaga konsentrasi belajar sekaligus membantu siswa membangun keseimbangan antara aktivitas digital dan kegiatan secara langsung.

Ketentuan itu tercantum dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Aturan tersebut menegaskan bahwa penggunaan gawai dibatasi selama proses pembelajaran dan kegiatan sekolah berlangsung, bukan dilarang sepenuhnya.

Gawai masih dapat digunakan apabila berkaitan dengan pembelajaran dan berada di bawah arahan guru. Dengan demikian, teknologi tetap diposisikan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai sumber gangguan selama siswa berada di lingkungan sekolah.

Sekolah perlu menyediakan kegiatan pengganti

Pembatasan gawai tidak cukup dilakukan hanya dengan meminta siswa menyimpan telepon seluler. Sekolah juga perlu menyediakan aktivitas alternatif agar perhatian siswa beralih menuju kegiatan yang lebih produktif.

Beberapa kegiatan yang dapat dikembangkan meliputi membaca buku, latihan numerasi, olahraga, kesenian, permainan tradisional, kegiatan organisasi, serta interaksi sosial antarsiswa. Aktivitas tersebut dapat dimasukkan dalam pembelajaran, kegiatan kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Pendekatan ini diharapkan membuat siswa tidak merasa bahwa gawai mereka sekadar dirampas atau dilarang. Sebaliknya, mereka diberikan pengalaman belajar lain yang menarik dan melibatkan komunikasi secara langsung.

Misalnya, waktu istirahat yang sebelumnya banyak dihabiskan untuk bermain media sosial dapat diarahkan untuk membaca, bermain permainan kelompok, mengikuti kegiatan olahraga ringan, atau berdiskusi bersama teman.

Penggunaan gawai mengikuti kebutuhan belajar

Guru masih diperbolehkan meminta siswa menggunakan telepon seluler untuk mencari informasi, mengakses bahan ajar, mengerjakan kuis, membuat dokumentasi, maupun menjalankan aplikasi pembelajaran.

Namun, penggunaannya perlu mempertimbangkan tujuan, kebutuhan, dan karakteristik pembelajaran. Setelah kegiatan selesai, gawai dapat kembali disimpan sesuai mekanisme yang ditetapkan sekolah.

Sekolah dapat membuat tempat penyimpanan khusus yang aman dan mudah diawasi. Mekanismenya dapat berupa kotak penyimpanan di kelas, loker, kantong khusus, atau sistem lain yang disesuaikan dengan fasilitas masing-masing sekolah.

Kebijakan tersebut juga perlu disosialisasikan kepada siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan komite sekolah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Ada kondisi yang mendapat pengecualian

Tidak semua penggunaan gawai harus dibatasi dengan cara yang sama. Sekolah dapat memberikan pengecualian untuk kebutuhan tertentu.

Gawai dapat digunakan saat pembelajaran atas arahan guru, dalam kondisi darurat, untuk kebutuhan medis, aksesibilitas bagi siswa penyandang disabilitas, kebutuhan transportasi, maupun alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Contohnya, siswa yang membutuhkan perangkat untuk memantau kondisi kesehatan atau menggunakan aplikasi pendukung disabilitas tetap dapat memperoleh izin.

Karena kondisi setiap sekolah dan siswa berbeda, kepala sekolah memiliki ruang untuk menyesuaikan tata tertib dengan kebutuhan satuan pendidikan.

Tidak hanya berlaku untuk siswa

Upaya membangun kebiasaan digital yang sehat juga membutuhkan keteladanan dari guru dan tenaga kependidikan.

Guru diharapkan menggunakan gawai secara bijak selama berada di kelas. Penggunaan telepon seluler untuk kepentingan pribadi ketika sedang mengajar dapat membuat siswa merasa bahwa aturan hanya berlaku bagi mereka.

Karena itu, pembatasan sebaiknya diterapkan sebagai budaya bersama. Semua warga sekolah perlu memahami kapan teknologi digunakan untuk bekerja dan belajar serta kapan perangkat tersebut harus disimpan.

Literasi digital tetap diajarkan

Pembatasan penggunaan gawai bukan berarti sekolah menjauhkan siswa dari perkembangan teknologi. Siswa tetap perlu memperoleh pendidikan literasi digital.

Materinya dapat mencakup etika berkomunikasi di internet, perlindungan data pribadi, keamanan akun, cara mengenali informasi palsu, pencegahan perundungan siber, serta penggunaan media sosial secara bertanggung jawab.

Dengan pendekatan tersebut, sekolah tidak hanya mengurangi waktu penggunaan layar, tetapi juga membekali siswa agar mampu memakai teknologi secara aman dan bermanfaat.

Hal ini penting karena gawai juga memiliki fungsi positif untuk komunikasi, pencarian informasi, distribusi bahan ajar, serta kegiatan pembelajaran. Masalah dapat muncul ketika pemakaiannya berlebihan atau tidak sesuai tujuan.

Orang tua perlu menerapkan kebiasaan serupa

Pembiasaan di sekolah akan lebih efektif apabila didukung oleh keluarga. Orang tua dapat mengatur durasi penggunaan gawai, menentukan lokasi bebas perangkat, dan menyediakan waktu jeda dari layar.

Misalnya, keluarga dapat menetapkan aturan tidak menggunakan telepon saat makan, belajar, beribadah, atau menjelang tidur. Anak juga dapat diarahkan pada kegiatan lain seperti membantu pekerjaan rumah, membaca, berolahraga, atau berinteraksi bersama keluarga.

Tanpa dukungan dari rumah, siswa berpotensi kembali menggunakan gawai secara berlebihan setelah kegiatan sekolah selesai.

Tujuannya membangun keseimbangan

Pembatasan gawai pada akhirnya bukan ditujukan untuk menolak teknologi. Kebijakan tersebut berusaha memastikan siswa tetap dapat memanfaatkan perangkat digital tanpa kehilangan konsentrasi, kesempatan bersosialisasi, dan pengalaman belajar secara langsung.

Sekolah perlu membuat aktivitas nondigital yang menarik, bukan sekadar menerapkan hukuman. Ketika siswa memiliki pilihan kegiatan yang menyenangkan, keinginan menggunakan gawai selama jam sekolah diharapkan dapat berkurang secara alami.

Melalui kegiatan literasi, olahraga, seni, permainan tradisional, dan interaksi sosial, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang yang lebih aktif sekaligus membantu siswa membangun kebiasaan digital yang sehat.

Sumber informasi: Kompas.com, Kemendikdasmen, dan DetikEdu.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna