Pendidikan
Hilmi An Naufal

Psikolog Ingatkan Mahasiswa Baru: Kemampuan Beradaptasi Sama Pentingnya dengan Prestasi Akademik

Psikolog Ingatkan Mahasiswa Baru: Kemampuan Beradaptasi Sama Pentingnya dengan Prestasi Akademik

01 Agustus 2026 | 06:01

SURABAYA — Memasuki perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan kesiapan mengikuti perkuliahan. Mahasiswa baru juga perlu mempersiapkan mental agar mampu menghadapi perubahan lingkungan, pola belajar, pertemanan, dan tanggung jawab yang lebih besar.

Pakar Psikologi Perkembangan dan Pendidikan Universitas Airlangga, Dr. Dewi Retno Suminar, menjelaskan bahwa kesulitan menyesuaikan diri menjadi salah satu tantangan mental yang paling sering dialami mahasiswa baru. Lingkungan kampus yang berbeda dari sekolah dapat membuat sebagian mahasiswa merasa cemas, tertekan, atau kesulitan menemukan tempat yang nyaman.

Menurut Dewi, kemampuan akademik saja belum cukup untuk menjamin keberhasilan seseorang selama kuliah. Mahasiswa juga memerlukan kemandirian, tanggung jawab, kemampuan mengelola diri, serta keterampilan sosial dan emosional.

Mulai membangun pertemanan

Salah satu langkah yang dapat dilakukan mahasiswa baru adalah membangun relasi sejak awal masa perkuliahan. Memiliki teman dapat membantu mahasiswa merasa lebih diterima dan tidak menghadapi berbagai persoalan kampus sendirian.

Mahasiswa dapat mengikuti unit kegiatan mahasiswa, komunitas, organisasi, atau kegiatan kampus yang sesuai dengan minatnya. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berkesempatan bertemu orang-orang dengan ketertarikan serupa sekaligus memperluas jaringan sosial.

Pertemanan yang sehat dapat menjadi sumber dukungan ketika mahasiswa menghadapi tekanan akademik, kecemasan, maupun kesulitan menyesuaikan diri. Karena itu, mahasiswa baru disarankan tidak menutup diri selama menjalani masa pengenalan kampus.

Tidak perlu mengikuti semua tren

Penggunaan media sosial juga perlu diperhatikan. Banyaknya informasi mengenai kegiatan, pencapaian, dan kehidupan mahasiswa lain dapat memunculkan fear of missing out atau FOMO.

Mahasiswa tidak harus mengikuti setiap kegiatan atau tren yang muncul. Dewi menyarankan penerapan joy of missing out atau JOMO, yaitu tetap merasa tenang meskipun tidak selalu mengetahui atau mengikuti seluruh informasi yang beredar.

Mahasiswa juga dianjurkan mengutamakan informasi dari kanal resmi universitas. Ketika mulai merasa cemas, mereka dapat melakukan percakapan positif dengan diri sendiri atau self-talk untuk membantu menenangkan pikiran.

Kenali dosen pembimbing akademik

Selain teman sebaya, dukungan dari dosen pembimbing akademik dan keluarga juga penting. Mahasiswa baru sebaiknya mengenal dosen pembimbingnya, memahami cara menghubunginya, dan tidak ragu berkonsultasi ketika mengalami persoalan akademik.

Komunikasi dengan teman satu kelompok bimbingan juga dapat membantu mahasiswa memperoleh informasi mengenai perkuliahan. Sementara itu, orang tua perlu mendapatkan penjelasan yang objektif mengenai perkembangan dan tantangan yang sedang dihadapi anak selama kuliah.

Apabila kesulitan beradaptasi berlangsung lama dan mulai menimbulkan stres, mahasiswa dianjurkan mencari bantuan. Universitas Airlangga menyediakan sejumlah layanan pendampingan, seperti Pusat Layanan Kesehatan, HELP Center, serta layanan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi.

Berani mendengar dan bertanya

Pada masa awal kuliah, mahasiswa baru disarankan lebih banyak mengamati lingkungan, mendengarkan penjelasan, serta berani bertanya ketika belum memahami sesuatu.

Sikap terbuka dapat membantu mahasiswa mengenali budaya akademik dan cara berinteraksi di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa juga perlu memiliki ketangguhan, tidak mudah menyerah, serta terus memperluas pertemanan dan jaringan.

Persiapan mental pada akhirnya menjadi bagian penting dalam menghadapi semester pertama. Dengan dukungan sosial yang baik, penggunaan media sosial yang sehat, dan keberanian meminta bantuan, mahasiswa baru dapat melalui proses adaptasi dengan lebih nyaman serta produktif.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna